Bibit Dari China yang (Lagi-lagi) Berbakteri
berita
Ekonomika

Sumber Foto: republika.co.id  (gie/Watyutink.com)

16 March 2018 10:00
Penulis
Lima ton bibit bawang putih impor asal China yang terinfeksi penyakit berbahaya diamankan Kementerian Perdagangan di Pasar Induk Kramat Jati pada awal Maret lalu. Sesuai perizinan dan label yang tertera di karungnya, bawang putih tersebut seharusnya hanya untuk bibit, bukan diperjual-belikan untuk konsumsi.

Bibit yang diimpor oleh PT Tunas Sumber Rejeki (TSR) ini masuk pada 17 Februari 2018 melalui pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Proses bongkar muat dilakukan pada 25 Februari 2018. Bibit Bawang putih yang berjumlah 232 ton dan dikemas dalam 13.050 karung ini masuk masuk ke wilayah Indonesia menggunakan phytosanitary certificate atau sertifikat kesehatan tumbuhan dari negara asalnya, China.

Sesuai prosedur, bibit-bibit bawang putih tersebut dikarantina di gudang sang pemilik untuk kemudian dilakukan pengujian guna mendiagnosa organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) pada 27 Februari 2018. Hasilnya, benih bawang putih tersebut terinfeksi Nematoda Ditylenchus Dipsaci, penyakit tanaman yang membahayakan.

Celakanya, saat petugas pertanian melakukan verifikasi ke gudang TSR pada 7 Maret 2018, ternyata ratusan ton bibit bawang putih berpenyakit tersebut hilang. Pihak TSR menyebut, bibit bawang putih yang masih dalam masa karantina tersebut telah dikirim ke Sumatera Utara untuk digudangkan. Rencananya benih bawang putih akan ditanam di daerah Karo. Waduh!

Bukankah apa yang dilakukan oleh PT TSR ini subversif dan menyalahi aturan karantina, karena komoditas telah dipindahtempatkan padahal belum mendapat sertifikat pelepasan? Apalagi terbukti komoditas bawang putih itu berpenyakit yang membahayakan.

Pihak Kemendag mengaku baru dua kali memberikan izin kepada TSR untuk impor bibit bawang putih, bukan bawang putih siap jual. Begitupun Kementan yang mengeluarkan izin kepada TSR pada 17 Oktober 2017. Rencananya pengadaan (impor) bibit tersebut untuk ditanam di lahan petani dalam rangka mewujudkan swasembada bawang putih 2019.

Bukan kali ini saja benih dan bibit komoditas yang didatangkan dari China mengandung bakteri dan penyakit yang membahayakan. Pada Desember 2016 telah ditemukan bibit cabai impor dari China mengandung bakteri erwinia chrysanthemi, jenis bakteri OPTK golongan A1. Bibit yang sama ditanam oleh empat orang petani illegal dari China di lahan seluas 4 hektare di Kabupaten Bogor.

Di tahun yang sama, ada benih wortel impor dari China yang dibudidayakan di lahan dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Bibit dan hasil panen wortel yang disimpan di gudang di Romokalisari, Surabaya, tersebut digerebek Polisi. Wortel ini diduga mengandung bakteri berbahaya yang mampu mempengaruhi perkembangan mental anak.

Kemudian, masih di tahun 2016, hasil penelitian Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB mengungkapkan, benih padi hibrida impor dari China mengandung bakteri Burkholderia Glumae yang juga termasuk jenis bakteri OPTK golongan A1. Padahal bibit padi itu telah tersebar ke seluruh pulau Jawa.

Mengapa kasus bibit komoditas pangan berbakteri selalu berulang? Apakah ini keteledoran pemerintah demi mengejar mimpi swasembada, atau ini memang bagian dari proxy war ntuk melemahkan bangsa Indonesia dengan memanfaatkan oknum di lapangan yang pikirannya hanya berisi fee?

Kementan, Kemendag, dan Satgas Pangan Polri tidak bisa berpola "pemadam kebakaran" lagi. Prosedur harus diubah dan dipersingkat agar tak ada lagi kejadian bibit mematikan itu sudah disebar meski pengujian belum kelar.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(afd)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti PUSPOL Indonesia, Alumni S-2 Ketahanan Nasional UI, Wakil Sekretaris Jenderal Forun Serikat Guru Indonesia (FSGI)

Dalam prespektif ketahanan nasional, perang di masa kini dan masa mendatang memiliki beberapa bentuk. Pertama, perang yang tidak langsung kelihatan siapa musuh yang tengah dihadapi, bisa orang yang memiliki kewarganegaraan berbeda, ras berbeda, bahasa berbeda, warna kulit berbeda, hidung berbeda, maupun memiliki, kewarganegaraan, bahasa, ras, warna kulit hidung yang sama,  atau sering disebut sebagai "Proxy War". Produksi, distribusi dan bahkan narkoba dari negara-negara tertentu seperti Tiongkok, begitu masif masuk ke Indonesia. Hal inilah yang disinyalir merupakan bagian dari perang tersebut.

Kedua, perang cyber yang kontestasinya bergantung pada perangkat internet. Segala produk teknologi komunikasi-informasi yang telah menjadi kebutuhan primer dalam segala sisi kehidupan. Internet saat ini telah menjadi media yang rentan untuk dikendalikan kekuatan-kekuatan tertentu. Bertujuan melemahkan (sistem informasi) suatu negara. Penyebaran virus, dan segala macam bentuk kejahatan di dunia maya merupakan salah satu praktek dari perang cyber ini.

Ketiga, perspektif yang mengatakan bahwa perang di masa depan, adalah perang yang memperebutkan cadangan pangan. Dengan bentuk "Perang Asimetris" (Asymmetric Warfare). Negara-negara tropis yang nota bene memiliki limpahan cadangan pangan dan memiliki ketahanan energi sekaligus pangan yang relatif stabil dan kuat akan menjadi korban pertama perang asimetris ini. Buatlah lemah negara-negara dengan pangan dan sumber daya alam yang melimpah itu. Agar makin mudah menguasainya.

Bagaimana dengan penggunaan teknologi biologis dan penyebaran bibit tanaman komoditas berbakteri yang termasuk dalam bioterorisme? Fenomena bioterorisme itu sebenarnya bukan peristiwa yang baru dalam ranah sejarah perang dunia. Pada Perang Dunia I, Jerman menggunakan bakteri patogen sehingga menyebabkan virus antrax untuk menginfeksi ternak-ternak dan kuda-kuda tentara sekutu.

Artinya cara-cara penggunaan media tumbuhan, virus, penyakit, bakteri atau mikrobilogi lainnya sebagai senjata untuk melemahkan lawan, adalah strategi perang yang sungguh menyeramkan, dan fakta tersebut ada dalam rekam sejarah dunia. Padahal Konvensi Senjata Biologi (2008) jelas-jelas melarang penggunaan senjata bioteknologi dan harus ada pengawasan yang ketat terhadap penggunaan bioteknologi tersebut.

Perihal ditemukannya benih bawang putih impor dari China yang terinfeksi Nematoda, ladang cabai beracun di  Kabupaten Bogor yang berasal dari Tiongkok, tanaman wortel beracun di Jawa Tengah yang diduga juga berasal dari Negeri Tirai Bambu dan lainnya. Mestinya, intelijen kita harus mampu membaca dan mengidentifikasinya. Apakah ini benar-benar dikategorikan "disengaja" diproduksi dan disebarkan di Indonesia? Jika demikian halnya, secara yuridis, Indonesia bisa memberikan sanksi hukum tegas bagi pelaku. Kemudian secara politik-diplomasi, tentu hal ini bisa menjadi protes Indonesia kepada Tiongkok.

Terpenting, harus ada kemudian keberanian pemerintah untuk menyimpulkan bahwa, apakah peristiwa di atas adalah kejahatan pertanian/lingkungan biasa atau bagian dari "Proxy War" atau "Asymmetric Warfare" yang bertujuan untuk melemahkan Indonesia? (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sarjana Filsafat UI & Keguruan IKIP Jakarta, Pendiri Pusat Kajian Ideologi Pancasila Jakarta - Pendiri Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Organik Yasnaya Polyana Purwokerto

Model ‘serangan’ lewat bahan pangan dan komoditas, baik melalui sayuran, buah-buahan, dan sejenisnya telah lama dilakukan dalam proxy war. Namun, yang membedakan adalah skema dan metode yang digunakan selalu baru dan berubah-ubah sesuai perkembangannya. Salah satunya melalui pengiriman bibit berbakteri. Dan ini justru lebih sistematis dan lebih berbahaya. Karena sangat sulit dideteksi sejak awal.

Kesulitan mendeteksinya menyebabkan kita terkecoh dan melakukan pembiaran. Bahkan, oleh para ‘agen dan ‘pemain’ proxy war dihembuskan bahwa hal itu hanyalah isu dan merupakan hoax belaka. Masyarakat baru tergagap menyadari setelah ada kasus.

Mewaspadai terhadap segala sesuatu dari luar– baik barang impor yang terdokumentasi, termasuk terhadap bahan pangan dan bibit tanaman komoditas merupakan bentuk mitigasi dan kepedulian dalam menjaga kedaulatan bangsa.

Dalam kasus bibit bawang putih impor terinfeksi Nematoda ini, saya mensinyalir, ada aliansi dan kolaborasi antara penguasa (stakeholder) dan pengusaha yang menjadi ‘pemain’ dalam kasus bibit beracun yang masuk ke Indonesia ini. Kenapa? Karena skemanya sangat halus dan sistematis. Dan hal ini biasa dilakukan dalam perang proxy yang perjuanganya adalah melakukan penjajahan 3F: Fuel, Finance, dan Food, pada suatu wilayah atau Negara, termasuk kepada Indonesia. Nah, dalam opini ini saya hanya akan menjelaskan tentang “Food” saja sebagai bagian dari bentuk perjuangan terhadap ketahanan pangan kita.

Saya melihat ada dua kesalahan dan kelemahan dari kita para aktivis lingkungan dan aktivis kemanusian sehingga terjadi kasus ini, yakni: Pertama, pandangan yang kurang holistik dari para aktivis lingkungan sehingga dalam memandang hanya teknis bio atau tekno saja, bukan culturoecojustice atas budaya, lingkungan dan keadilan. Dimana, pemberian infomasi dan edukasi terhadap kepada masyarakat itu penting, sebagai bagian dari tindakan preventif dan pembelaan terhadap masyarakat. Penanaman pemahaman tentang hal ini penting bagi mereka yang concern dengan lingkungan dan kemanusiaan; bahwa semua orang perlu dibela dan berhak mengetahui apa yang sedang terjadi pada diri serta lingkungannya. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik