Berharap pada Pariwisata Naikkan Devisa
berita
Ekonomika
Sumber Foto : bookwaisata.com (gie/watyutink.com) 11 July 2018 16:00
Penulis
Setelah  babak belur dihajar defisit perdagangan yang dalam 5 bulan pertama 2018 tekor 2,834 miliar dolar AS, pemerintah mulai mengeluarkan jurus-jurus penangkal.  Hasil akhirnya diharapkan bukan hanya menekan defisit tetapi mampu membukukan surplus. Masih tersisa 7 bulan  untuk membalikkan keadaan. 

Jurus maut yang disiapkan pemerintah dibahas dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo awal pekan ini. Dengan begitu Indonesia siap menghadapi kondisi perekonomian global yang dipenuhi ketidakpastian yang berdampak pada defisit transaksi berjalan dan fluktuasi nilai tukar rupiah.   

Jika sebelumnya pemerintah, melalui pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani,  menyatakan akan membatasi impor secara selektif untuk menekan defisit, kali ini pemerintah mendorong upaya peningkatan ekspor dengan memberikan insentif. Pemerintah juga mendorong  upaya lain yang mendatangkan devisa, salah satunya dengan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara datang ke Tanah Air.

Program yang akan dijalankan pemerintah menyangkut pengembangan sektor pariwisata adalah dengan memperbaiki fasilitas penunjang seperti penginapan, air bersih, sarana transportasi, dan keamanan. Namun apakah cukup perbaikan tersebut untuk menarik wisatawan? Bukankah yang dikejar adalah jumlah kunjungan wisatawan? Apakah program tersebut relevan dengan target peningkatan kunjungan wisatawan ke Indonesia?

Sebagai negeri yang dianugerahi keindahan alam oleh Tuhan, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang sulit ditandingi negara lain. Berbagai julukan melekat dan tercipta secara spontan sebagai ungkapan kekaguman akan keindahan alam Nusantara, mulai dari Zamrud Katulistiwa, ‘Surga Terakhir di Dunia’ untuk Kepulauan Raja Ampat yang di dalam lautnya terdapat 570 lebih jenis karang keras, 1.000 jenis ikan karang, dan 700 jenis molusca yang menandakan  75 persen kekayaan laut dunia ada di sana. 

Belum lagi Danau Tiga Warna untuk Danau Kalimutu, Kawah Ijen dengan pesona ‘Blue Fire’ yang hanya ada dua tempat di planet ini, lukisan pelangi di bawah laut Bunaken sebagai ‘World Natural Heritage, Gunung Bromo dengan predikat ‘The Famous Sunrise’, dan masih banyak lagi ‘kepingan surga’ di Tanah Air.

Dengan pesona wisata yang luar biasa banyak dan indah, Indonesia hanya menggaet 14,2 juta wisatawan pada tahun lalu, sementara Thailand yang lebih kecil wilayahnya dengan destinasi wisata jauh lebih sedikit mampu menarik 35 juta wisatawan mancanegara dengan penghasilan devisa 53 miliar dolar AS atau Rp742 triliun dengan asumsi kurs Rp14.000 per dolar AS. Sementara itu, wisatawan mancanegara yang menyambangi Malaysia jumlahnya dua kali Indonesia, mencapai 26,76 juta orang dan Singapura sebesar 17 juta orang wisatawan padahal luas wilayahnya lebih kecil dari Jakarta.

Pemerintah memang sudah berencana mengembangkan 10 destinasi wisata baru—disebut sebagai 10 Bali baru-- senilai 200 miliar dolar AS.  Destinasi wisata yang akan dibangun itu adalah Danau Toba, Tanjung Lesung, Tanjung Kelayang, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo Tenggger Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai.

Dengan 10 Bali baru itu kelak Indonesia bisa masuk dalam 30 besar indeks pariwisata international dan menjadi penyumbang devisa terbesar pada tahun 2019. Indeks pariwisata Indonesia terus meningkat dari urutan 70 pada 2013 menjadi 50 pada 2015 dan naik lagi ke peringkat 42 pada tahun lalu.

Pengembangan 10 destinasi wisata baru  juga bertujuan menjaga kesinambungan jumlah kunjungan jika sewaktu-waktu ada destinasi yang mengalami bencana alam seperti yang terjadi di Bali dengan meletusnya Gunung Agung. Bencana yang diluar presdiksi ini dapat menurunkan jumlah kunjungan wisatawan sehingga dibutuhkan alternatif destinasi wisata lain untuk menjaga jumlah wisatawan tetap tinggi.

Namun apakah pariwisata sudah mampu menjadi andalan pengumpul devisa? Seberapa banyak devisa  yang bisa diraih? Kebijakan apa yang harus disiapkan agar sektor pariwisata mempunyai efek berantai ke sektor ekonomi lain seperti kuliner, UKM?  Wisatawan mana saja yang berpotensi mengunjungi Indonesia?  

Bagaimana dengan kendala untuk mencapai destinasi wisata? Karena tidak semua tempat wisata memiliki akses yang baik seperti di Bali.  Pemerintah memang terus menggenjot pembangunan infrastruktur untuk membuka akses. Tetapi apakah cukup mempersiapkan infrastruktur saja?

Apa Pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ketua Umum ASITA ( Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies) Indonesia

Pemerintah harus mengevaluasi sektor pariwisata, apa kelebihan dan kekurangan yang ada sehingga kita bisa mencari solusi terbaik apa yang harus kita lakukan. Dari program yang berjalan,  bagaimana kita dapat mempertahankan sustainability, kesinambungan. Berikutnya, bagaimana kita mencari terobosan-terobosan dengan mencari pasar-pasar baru di luar pasar utama pariwisata saat ini.

Saat ini pasar utama pariwisata Indonesia adalah China, ASEAN, Australia, dan Eropa.  Belakangan pasar India sudah mulai banyak.  Di luar itu pasarnya masih belum tergarap.  Eropa Timur dan Timur Tengah belum tergarap. Kawasan tersebut merupakan pasar potensial yang harus digarap.

Indonesia juga harus melakukan terobosan dalam aksesibilitas. Kita  belum mempunyai low cost carrier (penerbangan berbiaya murah) dari Eropa dan AS. Ini problem kita saat ini, transportasi long haul hanya memiliki layanan full service dan mahal.  Indonesia harus mengupayakan adanya airline yang terbang ke Nusantara dengan harga murah.  Pemerintah bisa mengadakan sendiri atau melakukan kerja sama dengan maskapai penerbangan untuk mengadakan pelayanan low cost carrier. Maskapai diberikan insentif agar dapat membuka layanan low cost carrier.

Pemain di sektor pariwisata di luar negeri sudah meminta diadakannya low cost carrier ke Indonesia, karena harga tiket pesawat saat ini dirasakan mahal. Ini menjadi masalah bagi pariwisata di Tanah Air.

Indonesia juga perlu meningkatkan promosi pariwisata. Yang sekarang harus ditingkatkan adalah selling.  Branding pariwisata Wonderful Indoneia sudah cukup mengena dan bagus, tinggal  dilanjutkan ke tahap selling sebagai ujungnya.   Jika dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura, Indonesia lebih maju dalam hal branding. Slogan Malaysia is truly Asia sudah tidak ada lagi. Demikian juga dengan Singapura.

Dalam tahap selling ini bagaimana Indonesia bisa menjual pariwisata secara langsung melalui jalur bisnis ke bisnis (B to B) ke pasar yang bisa kita ciptakan. Seperti pasar India, bisa dibuka jalur penerbangan baru ke daerah tujuan wisata, tidak hanya ke Jakarta. Ditambah lagi dengan perluasan jaringan di Tanah Air.

Keluar kita melakukan selling, ke dalam kita melakukan pembenahan. Banyak sekali yang harus dibenahi, terutama regulasi. Selain itu, pengembangan destinasi wisata.  Pemerintah mengembangkan 10 Bali baru sebagai destinasi  utama. Dari 10 destinasi baru tersebut, ada tiga yang menjadi prioritas untuk dikembangkan yakni Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Borobudur di Jawa Tengah, dan Danau Toba di Sumatera  Utara. Pengembangan ini harus dipercepat dengan memberikan alokasi anggaran yang cukup.

Mengenai devisa, rata-rata  belanja wisatawan mancanegara di Tanah Air sekitar 1.200 dolar AS per wisatawan. Pada tahun lalu wisatawan yang datang mencapai 14,2 juta orang sehingga devisa yang diperoleh mencapai 17 miliar dolar AS atau sekitar Rp238,6 triliun dengan kurs Rp14.000 per dolar AS.

Pendapatan dari pariwisata seharusnya lebih besar lagi jika melihat potensi pariwisata Indonesia yang sangat besar.  Memang untuk menutup defisit transaksi berjalan tidak bisa hanya dibebankan pada sektor pariwisata. Menutup defisit harus dengan meningkatkan ekspor manufaktur karena sebagian besar ekspor kita masih berupa bahan mentah sehingga nilai tambahnya sedikit sekali. Ini yang menjadikan kita defisit.

Jika Indonesia mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sesuai target sebanyak 20 juta orang pada tahun dengan dengan perkiraan belanja wisatawan per orang 1.500 dolar AS maka devisa yang akan masuk sebesar 30 miliar dolar AS atau sekitar Rp420 triliun.

Industri pariwisata diharapkan menjadi sektor yang menunjang perekonomian Indonesia. Oleh  karena itu pemerintah harus fokus melalui kerja sama dan koordinasi lintas sektoral dari 21 kementerian. Industri harus dikembangkan karena kekuatan selling ada pada mereka sebagai ujung tombak. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF

Pertumbuhan pariwisata Indonesia cukup tinggi. Dalam 5 bulan pertama 2018, Januari-Mei, jumlah wisatawan mancanegara yang datang naik hampir 12 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni dari  5,5  juta orang menjadi 6,2 juta orang, melebihi target pemerintah yang mematok kunjungan wisatawan sebanyak 10 juta orang per tahun.

Perolehan devisa dari pariwisata pada tahun 2017 mencapai Rp202,1 triliun, naik dari Rp177,2 triliun pada tahun 2016, sementara untuk tahun ini ditargetkan mencapai Rp223 triliun.

Dengan adanya kegiatan internasional seperti Asian Games dan pertemuan Bank Dunia-IMF di Bali bisa dijadikan momentum untuk meningkatkan kunjungan wisatawan tahun ini.

Selain jumlah wisatawan, kita perlu melihat negara-negara asal wisatawan. Dalam 5 bulan pertama 2018 tercatat negara penyumbang wisatawan terbanyak antara lain Malaysia dengan 1 juta orang, Tiongkok dengan 863.000 orang, dan Eropa sebanyak 730.000 orang.  Negara-negara yang masih kecil pertumbuhan wisatawannya harus ditingkatkan. 

Uni Eropa termasuk yang sedikit menyumbang kedatangan wisatawan. Dengan dibolehkannya kembali maskapai Indonesia terbang ke benua tersebut, kunjungan wisatawan dari kawasan tersebut bisa ditingkatkan. Ini menjadi peluang besar untuk menarik wisatawan datang ke Tanah Air.

Indonesia telah mengkampanyekan Wonderful Indonesia, namun sejauh mana promosi tersebut sampai ke masyarakat dunia, seberapa intens promosi tersebut di media-media internasional. Pada tahun lalu promosi Wonderful Indonesia cukup gencar, namun tahun ini berkurang. Biaya ini mungkin besar tetapi ini adalah investasi yang harus dikeluarkan.

Untuk destinasi tertentu seperti Danau Toba dan Raja Ampat, sarana transportasi masih minim. Demikian juga dengan Labuan Bajo masih belum didukung dengan infrastruktur bandar udara yang memadai.  Landasan yang dimiliki pendek,  sehingga pendaratan pesawat menjadi terbatas.

Pemerintah juga harus memberdayakan usaha UKM lokal di sekitar destinasi pariwisata. Jangan sampai pembangunan hotel oleh investor asing dilakukan dengan mengkavling lahan lalu masyarakat lokal tergusur.  Pemerintah harus menyiapkan strategi agar UKM terlibat,  terutama dalam menyediakan souvenir yang akan dibeli wisatawan. Hal ini akan mendorong sektor riil di sekitarnya. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

FOLLOW US

Penggunaan Pembayaran Online Harus Memiliki Regulasi             Reformasi Struktural: Darimana Kita Memulai?             Kemenag Perlu Jelaskan Manfaat Kartu Nikah             Focus ke Penetrasi Ekspor Produk Bernilai Tambah Tinggi             Gerindra dan PDIP Diuntungkan pada Pemilu 2019             Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-1)              Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-2)             Masih Ada Waktu untuk Perbaharui Komitmen             Penguatan Upaya Pemberantasan Korupsi             Kasus Century Tanggung Jawab KSSK