Belanja Negara Naik, Efektivitas Malah Turun
berita
Ekonomika
15 August 2019 17:00
Penulis
Watyutink.com - Kabar tak sedap jelang ulang tahun ke-74 kemerdekaan RI datang dari pengelolaan anggaran dan belanja negara. Belanja negara melalui APBN meningkat tajam dari Rp400 triliun pada 2004 menjadi lebih dari Rp2000 triliun pada 2017-2018, namun efektivitasnya justru menurun.

Kenaikan APBN setiap tahun dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi  dan memperbaiki berbagai kualitas sektor yang menjadi pendukung pergerakan ekonomi. Sayangnya, realisasi besaran pertumbuhan berada di bawah target. Belanja pemerintah belum optimal.

Salah satu sumber masalah ada pada belanja kementerian dan lembaga negara pada 2017-2018. Dalam hitungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), kenaikan belanja kementerian sebesar 11 persen selama periode tersebut seharusnya memberikan kontribusi sebanyak 0,66 persen pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Sayangnya, kenaikan anggaran belanja kementerian sebanyak 11 persen itu ternyata hanya berkontribusi  0,24 persen. Ada selisih sebanyak 0,42 persen yang mengindikasikan belanja yang tidak tepat sararan. Adakah perencanaan yang kurang matang? Kendala apa yang dihadapi saat merealisasikan program? Mengapa efektivitas APBN tidak lagi optimal?

Bappenas menemukan fakta bahwa peningkatan belanja kementerian/lembaga dalam beberapa tahun terakhir belum optimal meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Seharusnya, setiap peningkatan belanja kementerian/lembaga sebesar 1 persen memiliki andil 0,06 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. dengan begitu, kenaikan belanja kementerian/lembaga sebanyak 11 persen akan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi sebesar 0,66 persen.

Realisasi belanja negara sejak 2011 hingga 2018 naik tajam, dari Rp1.294 triliun menjadi Rp2.269 triliun. Peningkatan tersebut tidak terrefleksi pada  pertumbuhan ekonomi yang justru membentuk pola U. Pada 2011, ekonomi tumbuh 6,16 persen, turun menjadi 4,79 persen pada 2015 dan naik kembali ke  5,17 pada 2018.

Kinerja belanja negara juga mengalami kemerosotan di tingkat sektoral. Sepanjang 2013-2017, misalnya, belanja di bidang jasa pendidikan memiliki elastisitas sebesar 0,39 persen atau tertinggi keempat setelah konstruksi, jasa keuangan, dan administrasi pemerintahan. Namun peringkat pendidikan Indonesia berdasarkan The Program for International Student  Assessment hanya berada di posisi 63 dari 73 negara yang disurvei pada 2015.

Kemanakah dana itu mengalir? Apakah sudah benar-benar dibelanjakan ke sektor produktif atau sekadar mengejar target menghabiskan dana agar terlihat realisasinya tinggi? Apakah porsi belanja negara sudah seimbang antara operasionan dan belanja modal?  Sudahkah pemerintah mengevaluasinya?  Apakah pemerintah sudah menetapkan tujuan dari setiap belanja yang dikeluarkan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yang sering terjadi pemerintah melakukan banyak perencanaan tetapi kurang melakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan untuk keperluan bagaimana mencapai target dari kementerian masing-masing.  Masalahnya, pemerintah belum menyusun tujuan utama yang mengarah pada hasil pembangunan  melalui belanja negara.

Bappenas mempunyai konsen dengan digelontorkannya sedemikian banyak anggaran tetapi hasilnya tidak optimal. Kalau memang belanja negara tidak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi tetapi paling tidak kementerian bisa berjalan secara efisien.  

Hal ini pun masih belum menjadi keputusan mana yang menjadi target utama, apakah mendorong perekonomian. Kementeriian bekerja seperti layaknya perusahaan yang efisien atau perusahaan didorong untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pilihan kedua tampaknya yang perlu dilakukan.

Mendorong pertumbuhan ekonomi tidak berarti pemerintah yang harus belanja karena malah akan menjadi pengeluaran (spending) yang tidak perlu. Misalnya, satu kementerian belanja barang modal di dalam kementeriannya sendiri dan dihitung sebagai kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Jika pembelian tersebut tidak ada tujuan yang akan dicapai, untuk apa?

Pemerintah sebaiknya fokus pada bagaimana meningkatkan aktivitas ekonomi yang kunci utamanya ada pada industri. Namun belum ada arah ke sana. Target pemerintah harusnya seperti itu, menggerakkan industri. Jika pemerintah tidak mempunyai target tersebut sebenarnya pemerintah  tidak mempunyai pegangan apa yang mau dikejar.

Pemerintah juga harus membedah lebih dalam mengapa belanja negara kurang efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Kemungkinan porsi belanja negara masih lebih banyak di operasional. Jika operasional besar memberikan manfaat tidak masalah. Tapi yang terjadi sebaliknya sehingga menjadi beban bagi kementerian.

Pengurangan biaya operasional juga tidak mudah karena akan ada komplain dari kementerian mengapa anggarannya dikurangi dari tahun sebelumnya. Kementerian akan berusaha menghabiskan alokasi anggarannya, terserap tetapi tidak ada ukuran apa yang akan dituju. Ukurannya mestinya untuk mempermudah dan meningkatkan aktivitas ekonomi. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi