Belajar dari Jatuh Bangunnya Rupiah
berita
Ekonomika
Sumber Foto : liputan6.com 14 November 2018 20:00
Penulis
Rupiah kembali melemah. Penguatan yang terjadi akhir Oktober 2018 lalu seakan tak berdaya meredam keperkasaan mata uang dolar Amerika Serikat (AS). 

Penguatan rupiah ketika itu (Rp14.600 per dolar AS) yang menurut sumber-sumber resmi, terjadi karena adanya arus kas masuk dari government bond yang kemudian berdampak kepada penguatan rupiah.   

Kepemilikan asing pada government bond memang tercatat meningkat sebanyak Rp19,73 triliun sejak 19 Oktober 2018 dari posisi Rp847,82 triliun menjadi Rp867,55 triliun pada 5 Novembe 2018. Pun di pasar saham investor asing melakukan pembelian bersih sebesar Rp19,73 triliun.  

Namun, pada (13/11) kemarin rupiah kembali terpuruk 0,57 persen ke angka Rp14.895 per dolar AS dan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia. Padahal, secara makro kestabilan mata uang juga merupakan salah faktor yang mempengaruhi iklim investasi suatu negara. Bila mata uang suatu negara stabil, itu menandakan para pengelola kebijakan moneter dan fiskal nasional dapat dipecaya untuk menjaga keberlangsungan dan keamanan modal, serta keuntungan yang diperoleh investor. 

Tetapi apabila kurs mata uang tidak stabil dan cenderung naik turun dalam waktu lama dengan ritme yang tidak menentu, maka hal tersebut dapat menurunkan tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi perekonomian suatu negara. 

Ribetnya lagi, pada (12/11) lalu Bank Indonesia juga mengumumkan bahwa current account deficit (CAD) Indonesia pada triwulan III 2018 tercatat (semakin) melebar ke angka 8,85 miliar dolar AS, atau setara dengan 3,37 persen dari PDB. 

Melebarnya CAD tercatat menjadi salah satu yang terburuk dibanding negara sesama (peer country) di Asia.

Menjadi pertanyaan, mengapa kurs rupiah dan CAD Indonesia menjadi begitu terkulai dibanding negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara saja? Padahal berbagai strategi menanggulangi pelemahan kurs rupiah dan juga jurus-jurus menggenjot current account agar tidak kembali defisit sudah diupayakan pemerintah? Apakah pengaruh sentimen ekonomi global memang terlalu besar untuk bisa diatasi? Atau ada sebab lain yang tidak kunjung dibenahi?    

Upaya menanggulangi tekanan terhadap rupiah dan memperbaiki CAD telah dilakukan dalam berbagai cara. Mulai dari intervensi BI, pemberlakuan pasar valas berjangka Domestic non Deliverable Forward (DNDF), impelementasi B20, menunda proyek infrastruktur, sampai mengurangi angka impor.
 
Namun keruwetan terkait naiknya harga minyak bumi sementara kebutuhan BBM dalam negeri terus saja meningkat. Produksi BBM dalam negeri yang tidak bisa lagi ditingkatkan--hanya 600 ribu barel per hari--menjadi penyebab paling besar dari defisit current account yang terus melebar.

Sementara transaksi modal dan finansial yang mencerminkan pasokan valas dari investasi sektor riil dan pasar keuangan, juga mengalami defisit 4,67 miliar dolar AS. Lebih dalam dari kuartal sebelumnya yang minus 3,44 miliar dolar AS.

Sebetulnya jika saja industri pengolahan dalam negeri untuk produk-produk yang berorientasi ekspor bisa dengan cepat dipulihkan maka sepertinya bisa menutup defisit neraca perdagangan. Namun lagi-lagi kondisi deindustrialisasi menjadi penghalang dari pemulihan ekonomi yang diharapkan. 

Apa sebetulnya yang menjadi penyebab dari terpuruknya rupiah dan defisit current account? Strategi apa yang dapat diandalkan lagi agar rupiah tidak terus saja dipermainkan mata uang asing dan defisit current account dapat ditanggulangi? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Ekonomi Keuangan

Indonesia sebetulnya tidak punya development model. Kita harus kembali lagi melihat ke desa-desa dan tidak menggunakan apa yang disebut dengan “helicopter view”. Kalau helicopter view maka biasanya kita harus mengejar misalnya inflasi harus 3 persen. Lalu APBN harus Rp2.200 triliun. Itu namanya helicopter view.

Kita harus kembali saja melihat lagi dari desa ke desa. Di desa constrain atau kendalanya sebetulnya apa untuk membangun desa. Misalnya di daerah Bombana Sulawesi ada lahan 2000 hektar yang kosong, lalu kita mau membangun tapi justru aparat di desa tersebut tidak mau dibangun, itulah constrain buat kita. Padahal di sana juga kekurangan listrik di 15 kecamatan. Mau kita bangun tapi lalu rate dirubah seenaknya dan kita sudah invest tapi ternyata tidak ada kompensasi.

Bahkan di sana masyarakatnya tidak mau lagi menunggu subsidi pemerintah, yang penting bisa menyalakan listrik untuk TV dan lain-lain keperluan. Tapi pemerintahnya sebut harus rapat dulu. Ini yang disebut pendekatan helicopter view, padahal setiap daerah berbeda beda masalah dan pendekatan.

Kalau begitu pendekatannya itu namanya tak memahami aspek perbedaan khas setiap daerah. Maka model pengelolaannnya pasti seperti zaman kolonial yakni dengan mengandalkan penarikan pajak dan subisidi pemerintah. 

Jadi kalau misalnya APBN sedang kedodoran, maka yang dikejar-kejar adalah pungutan pajak. 

Saat ini kondisi global sedang penuh ketegangan. China sebagai salah satu adidaya ekonomi akan “jatuh”. Dan saya tidak yakin kita bisa tumbuh 5 persen tahun depan. Paling banter 4,7 persen. Itu ramalan saya, karena defisit pemerintah harus dipotong supaya current account tidak defisit. Artinya standing consumption pemerintah dan investasi pemerintah pun kurang. 

Di tempat lain kita lihat nilai mata uang dollar AS semakin tinggi. Hal itu membuat daya beli masyarakat kita turun. Lalu, suku bunga juga jadi naik. Perbankan jadi “mikir’ untuk mengucurkan kredit. Jadi tidak ada alasan. Ekspor impor nya juga bahkan turun. Maka darimana bisa dapat angka 5 persen pertumbuhan ekonomi?

Kalau melihat itu semua saya tidak optimis, kecuali kalau terjadi yang namanya Structural Reform. Kita tidak pernah melakukan itu. Yang pertama dilakukan adalah, keringkan atau rampingkan birokrasi. Kedua, deregulasi. Deregulasi itu adalah permudah atau turunkan entry barrier. Kalau entry barrier tinggi darimana orang mau investasi. Lalu license atau izin-izin sampai masalah land clearing itu juga bermasalah. Itu semua entry barrier. 16 paket kebijakan deregulasi ekonomi itu tidak jalan karena tidak mengerti dari mana mulainya.

Kita tidak mungkin bisa menggantikan China karena wages kita tinggi dan produktivitas kita rendah. Sekarang malah yang bisa menggantikan China itu Vietnam, Bangladesh dan Srilanka, Myanmar dan Kamboja. Kita tidak kebagian, karena Indonesia tidak masuk dalam global issue of supply chain. Kita jauh karena birokrasi kita rongsok, infrastruktur nya bobrok, listrik tidak ada. Jadi siapa yang mau masuk invest? 

Membangun infrastruktur harus integrated, jalan dibangun tapi listrik tidak ada. Jadi, kita harus utamakan investasi yang masuk. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies

Gejolak fluktuasi rupiah saat ini rasanya wajar-wajar saja. Kita sudah ada di posisi di bawah Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS) saja sudah bagus. Memang, kita sangat terpengaruh sekali dengan konstalasi global sehingga ketika rupiah cukup rentan terhadap kondisi global. Berbagai kondisi ekonomi global akan direspon oleh pelaku pasar, khususnya dalam keputusan investasi dipasar keuangan. Jadi fluktuasi yang ada wajar-wajar saja. Dapat diperhatikan, ketika kurs mata uang negara-negara di Asia menguat, rupiah menjadi yang terkuat. Sebaliknya kalau mata uang Asia melemah, maka bisa jadi pelemahan rupiah memang paling dalam. Jadi wajar saja dengan fluktuasi seperti itu

Pada tanggal 1-9 November 2018 lalu rupiah menguat 2 persen sementara mata uang lain seperti Singapore dolar dan ringgit Malaysia itu menguat maksimal 0,8 persen saja. Sebaliknya sekarang ketika dolar AS mulai agak meningkat maka rupiah menjadi mata uang yang melemah terdalam. Itu sebetulnya tidak masalah karena memang fenomena nya seperti itu.

Ihwal keseimbangan baru untuk rupiah pada 2019 misalnya ke Rp15,000 per dolar AS sebetulnya tidak ada yang mengatakan seperti itu. Sebenarnya angka itu belum tentu mencerminkan fundamental makro ekonomi kita. Hal itu lebih karena faktor konstelasi ekonomi global yang mempengaruhi perilaku investor dalam menempatkan investasinya.

Sebenarnya indikator nya yang pertama adalah, ketika kondisi ekonomi AS bagus, maka Indonesia yang agak “demam”. Tapi sebaliknya kalau kondisi ekonomi AS kurang bagus, maka Indonesia yang “happy”. Contoh, AS itu secara makro memang bagus, tetapi secara mikro sebenarnya agak rapuh. Adanya perang dagang membuat industri domestik atau manufaktur AS loyo. Sehingga membuat purchasing manager index (PMI) AS turun. Hal itulah yang menyebabkan mata uang dolar AS melemah terhadap mata uang negara lain termasuk Indonesia. Juga, kepercayaan investor terhadap riil sektor di AS mulai berkurang sehingga membawa dampak pada pengalihan investasi dari pasar keuangan AS ke Indonesia.

Selain itu ada juga pengaruh pemilu sela di AS. Partai Demokrat menang sehingga diperkirakan kebijakan-kebijakan Trump yang cenderung proteksionis dan berlebihan dalam anggaran yang butuh pendanaan besar, dan obligasinya juga ditingkatkan. Ketika partai demokrat menang, itu akan mempengaruhi kebijakan AS sehingga penerbitan bond agak berkurang dan investasi akan turun.

Hal itu dari faktor eksternal. Memang kita sangat tergantung sekali dengan kondisi-kondisi tersebut. Sentimen pasar di AS akan mempengaruhi konstalasi perekonomian global yang berdampak pada Indonesia.
Mengenai penguatan rupiah memang benar karena adanya arus modal masuk ke pasar obligasi. Tetapi tidak masalah karena pasar obligasi itu tenornya jangka panjang.

Jadi pergerakan rupiah masih wajar-wajar saja. Kondisinya tidak bisa diperkirakan hanya dalam hitungan 1-2 hari, karena bisa saja sekarang menguat ke Rp14.500 besok bisa saja sudah menjadi Rp14.900 per dolar AS. Itu biasa saja. Pergerakan rupiah seperti itu tidak bisa disimpulkan karena kondisi makro kita, tidak bisa seperti itu. Jadi itu semua murni karena pergerakan pasar.

Kami yakin kurs rupiah tidak akan kembali lagi ke level Rp15.000 per dolar AS. Kalau ada pendapat tahun depan rupiah akan punya keseimbangan baru ke Rp15.000 per dolar AS, maka saya tidak sependapat. Kita belum melakukan econometric forecasting, namun pemikiran kami bahwa rupiah tidak akan sampai ke Rp15,000 per dolar AS, karena memang pertama, kebijakan AS sudah agak berubah. Kemudian, meskipun nanti pada Desember 2018 “The Fed” akan menaikkan sukubunga, itu tidak akan berpengaruh besar karena para pelaku pasar sudah price in sebelumnya. Artinya, wacana untuk menaikkan tingkat bunga Fed Fund Rate (FFR) di AS sudah diketahui pelaku pasar sejak bulan September-Oktober 2018.

Mengenai pertanyaan tentang peluang Indonesia untuk bisa mandiri dari pengaruh global dalam penguatan kurs, pertanyaan itu tidak sepenuhnya bisa dijawab ketika kita masih menganut rezim “kurs mengambang penuh” (free floating exchange rate).  Karena itu pasti masih akan terkait dengan konstalasi ekonomi global. Pertanyaan berikutnya, bagaimana meminimalisir dampak dari tekanan global. Masalah kurs berarti membahas supply and demand. Kalau supply valas melimpah berarti seberapa besarpun tekanan kita akan kuat. Sebaliknya jika supplynya terbatas maka ketika ada “shock” sedikit saja, maka pasti rupiah akan kena. Pasokan valas itu didapat dari Devisa Hasil Ekspor (DHE). Namun pertanyaannya kenapa DHE kita tidak bisa optimal karena current account kita selalu defisit.

Banyak faktor yang menyebabkan defisit di current account. Artinya juga, persoalan memperbaiki struktur current account itu bukan perkara jangka pendek atau 1-2 tahun, tapi membutuhkan waktu menengah-panjang. Artinya memang harus detail mempelajari dan mengidentifikasi defisit yang selalu terjadi.

Apakah memang karena gejolak harga komoditas global sehingga menyebabkan harga komoditas kita turun dan ekspor primer juga turun, ataukah karena daya saing Indonesia juga melemah atau bagaimana. Itu yang perlu dikaji lebih dalam lagi. Kalau memang harga komoditas turun padahal itu andalan ekspor kita, lalu kenapa tidak memperbaiki daya saing ekspor kita di komoditas atau produk lain, misalnya di manufaktur.

Selain itu, sektor jasa juga menyumbang defisit yang besar. Jadi memang kita harus serius memperbaiki sektor-sektor yang selalu defisit. Selain mencari potensi untuk peningkatan ekspor baru. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol