Bawang Palsu Bikin Risau
berita
Ekonomika
Sumber Foto : news.trubus.id (gie/watyutink.com) 09 July 2018 13:30
Penulis
Setelah ramai beras plastik dan telur palsu, kembali ibu-ibu dirisaukan beredarnya barang komoditas palsu lagi. Kali ini, beredar bawang merah palsu di pasaran.

Sebenarnya yang disebut bawang merah palsu adalah bawang bombay mini kualitas buruk dengan ukuran kecil alias bawang reject. Bawang tersebut tidak lulus uji standar pemasaran di India. Di tingkat pedagang di Indonesia, bawang Bombay mini yang harganya Rp2.500 ini kemudian dioplos dengan bawang merah ‘asli’ lokal yang dijual Rp25.000 – Rp30.000 per kg. Waduh! Komoditas reject kok malah diimpor? Kok tega menipu rakyat dengan komoditas palsu?

Sebelumnya, bawang merah palsu ini ditemukan oleh petani telah masuk di sentra produksi bawang, di Brebes. Oleh Asiosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), bawang merah palsu ini kemudian dilaporkan. ABMI mensinyalir saat ini bawang merah palsu tersebut sudah beredar masif secara merata hampir di seluruh wilayah di Indonesia.

Bawang merah ‘palsu’ ini seharusnya tidak bisa masuk ke Indonesia. Mengingat dokumen impornya adalah bawang bombay, karena ukurannya yang tidak sesuai standar, diameternya kurang dari 5 cm. Hal ini didasarkan pada Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) Nomor 105 tahun 2017 di mana Indonesia tidak lagi mengimpor bawang bombai dengan ukuran di bawah 5 cm. Tarif bea masuk impor bawang Bombay hanya sebesar 5 persen. Sedangkan bawang merah ‘asli’ sebesar 20 persen.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian nomor 55 Tahun 2016 tentang Pengawasan Pangan Segar Asal Tumbuhan, umbi lapis tidak dapat masuk ke wilayah Indonesia, apabila tidak memiliki Certificate of Analysis (COA) dan tidak dilakukan prior notice sebelum masuk teritorial Indonesia. Lha kok masih bisa masuk ke Indonesia? apakah ada ‘kongkalikong’ antara importir komoditas dengan oknum di Kementerian Pertanian atau Kementerian Perdagangan?

Satgas Pangan didesak menindaklanjuti dugaan masuknya bawang merah impor ilegal berasal dari India senilai Rp 5,8 trillun tersebut. Setelah mendapatkan informasi dari masyarakat yang menyebut bahwa ada ratusan ton bawang merah mini dari India yang masuk ke Indonesia dan sudah melalui pemeriksaan di Balai Besar karantina Pertanian Belawan, karena memiliki dokumen lengkap. Rencanannya bawang reject tersebut akan dibawa dan disimpan di Gudang Hamparan Perak Medan.

PPNS Dit Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Kemendag RI berkordinasi dengan Penyidik Polri menindaklanjuti laporan tersebut kemudian mengamankan 670 ton bawang merah 'palsu' yang dikemas dalam 25 kontainer besar di Kota Medan pada 25 Juni 2018.

Kementerian Pertanian menyebut setidaknya ada 10 importir yang diduga memasukkan bawang bombai mini dan menjualnya sebagai bawang merah, dengan 5 diantaranya sudah diblacklist. Kelima importir tersebut hingga Juni 2018 memegang Surat Persetujuan Impor (SPI) sebanyak 73 ribu ton. Jika hanya diblacklist tanpa dikenai sanksi dan hukuman, bukankah bisa dengan mudah membuat perusahaan impor baru lagi?

Kenapa komoditas bermasalah, mulai bibit tanaman berbakteri hingga bawang merah ‘palsu’ begitu mudah masuk ke Indonesia? Begitu lemahnya  kah pengawasan? Atau karena birokrasinya yang korup, sehingga para importir nakal dan curang bisa seenaknya memasukkan komoditas bermasalah ke Indonesia?

Bukankah selain merugikan konsumen (rakyat), komoditas impor bermasalah juga merugikan petani dalam negeri? Atau jangan-jangan ini disengaja untuk melemahkan bangsa Indonesia bagian dari proxy war?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Sarjana Filsafat UI & Keguruan IKIP Jakarta, Pendiri Pusat Kajian Ideologi Pancasila Jakarta - Pendiri Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Organik Yasnaya Polyana Purwokerto

Mewaspadai terhadap segala sesuatu dari luar– baik barang impor yang terdokumentasi, termasuk terhadap bahan pangan dan bibit tanaman komoditas merupakan bentuk mitigasi dan kepedulian dalam menjaga kedaulatan bangsa.

Dalam kasus bawang merah ‘palsu’, ini semata-mata kecurangan dari importir nakal yang ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya dari komoditas impor. Tak perduli apakah itu menipu atau mengecoh. Tak perduli apakah itu bawang reject atau bukan. Demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, mereka menghalalkan segala cara. Termasuk mengoplos bawang Bombay mini yang berharga murah tersebut dengan bawang merah lokal.

Secara kasus, hal ini berbeda dengan ditemukannya bibit bawang putih impor berbakteri, yang juga dijual sebagai bawang siap konsumsi di pasaran. Yang tentunya membahayakan terhadap orang yang mengkonsumsinya. Sementara, bawang Bombay mini yang dipalsukan tersebut bisa dianggap tidak membahayakan bagi yang mengkonsumsinya. Cuma merugikan bagi konsumen, yang seharusnya mendapatkan bawang merah ‘asli’ sesuai dengan harganya, ternyata hanya mendapatkan bawang yang baik secara kualitas maupun harga jauh dari yang dibayarkan oleh konsumen.

Sementara, untuk kasus bibit bawang putih impor terinfeksi bakteri Nematoda pada bebarapa waktu lalu, saya mensinyalir ada aliansi dan kolaborasi antara penguasa (stakeholder) dan pengusaha yang menjadi ‘pemain’ dalam kasus bibit beracun yang masuk ke Indonesia. Kenapa? Karena skemanya sangat halus dan sistematis. Dan hal ini biasa dilakukan dalam perang proxy yang perjuanganya adalah melakukan penjajahan 3F: Fuel, Finance, dan Food, pada suatu wilayah atau Negara, termasuk kepada Indonesia. Nah, dalam opini ini saya hanya akan menjelaskan tentang “Food” saja sebagai bagian dari bentuk perjuangan terhadap ketahanan pangan kita.

Saya melihat ada dua kesalahan dan kelemahan dari kita para aktivis lingkungan dan aktivis kemanusian sehingga terjadi kasus ini, yakni: Pertama, pandangan yang kurang holistik dari para aktivis lingkungan sehingga dalam memandang hanya teknis bio atau tekno saja, bukan culturoecojustice atas budaya, lingkungan dan keadilan. Dimana, pemberian infomasi dan edukasi terhadap kepada masyarakat itu penting, sebagai bagian dari tindakan preventif dan pembelaan terhadap masyarakat. Penanaman pemahaman tentang hal ini penting bagi mereka yang concern dengan lingkungan dan kemanusiaan; bahwa semua orang perlu dibela dan berhak mengetahui apa yang sedang terjadi pada diri serta lingkungannya

Memang, model ‘serangan’ lewat bahan pangan dan komoditas, baik melalui sayuran, buah-buahan, dan sejenisnya telah lama dilakukan dalam proxy war. Namun, yang membedakan adalah skema dan metode yang digunakan selalu baru dan berubah-ubah sesuai perkembangannya. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Ini tentu akan merugikan petani bawang merah kita. Karena bawang impor imitasi itu harganya jauh lebih murah, jadinya petani kita tidak mampu bersaing secara harga. Akibatnya, bawang hasil petani kita tidak laku. Maka dari itu, pemerintah harus mengambil langkah tegas. Kalau bisa jangan hanya blacklist para importir nakal yang melakukan kecurangan tersebut, tapi ambil tindakan hukum. 

Tindakan Kementerian Pertanian (Kementan) mem-blacklist impotir nakal yang melakukan kecurangan sebagai bentuk perlindungan kepada petani lokal dan konsumen. Pasalnya bawang bombay berukuran kecil itu berpotensi mengelabuhi konsumen, karena bentuknya menyerupai bawang merah lokal.

Ke depannya kita berharap, Kementan lebih meningkatkan pengawasan kepada importir. Jangan sampai ada lagi importir nakal dan melakukan kecurangan. Masyarakat kita jangan sampai dirugikan.

Selain itu, Kementerian Pertanian harus memberikan perhatian lebih serius kepada petani bawang lokal, serta mendorong untuk meningkatkan produksi, sehingga bisa memenuhi bawang secara nasional. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF