Bank-Bank Dunia Collaps, Lampu Kuning Perbankan Domestik
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 24 October 2019 17:30
Penulis
Watyutink.com - Lembaga konsultan McKinsey & Co. merilis hasil survei perbankan dunia dan mengeluarkan pernyataan bahwa separuh dari bank-bank di dunia sudah berada pada posisi yang lemah.

Melemahnya perbankan dunia disebutkan telah terjadi bahkan sebelum ekonomi semakin melambat, seperti yang diramal oleh lembaga-lembaga perekonomian dunia dalam beberapa bulan ke depan.

Mc Kinsey menegaskan bahwa mayoritas bank di dunia tidak layak secara ekonomi karena pengembalian ekuitas mereka tidak sejalan dengan biaya yang dikeluarkan. Beberapa bank dunia bahkan harus melakukan layoff karyawan seperti yang dilakukan oleh Deutsche Bank yang mem PHK 18.000 pegawai, HSBC 10.000 pegawai, Santander 5.433 pegawai, Commerzbank = 4.300 pegawai dan Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. me layoff 4.300 pegawai.  

Untuk itu Mc Kinsey menyarankan agar perbankan dunia segera menempuh langkah-langkah strategis untuk menyelamatkan bank bank di dunia untuk mampu bertahan. Diantara langkah-langkah tersebut adalah dengan lebih meningkatkan dan mengembangkan teknologi yang dimiliki, meningkatkan operasi hingga merger untuk menahan perlambatan ekonomi.

Selain perlambatan ekonomi yang berpengaruh terhadap pengambalian ekuitas perbankan dunia, disrupsi yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi 4.0 juga cukup membuat perbankan dunia mempunyai pesaing potensial.

Munculnya perusahaan-perusahaan fintech kelas dunia yang memanfaatkan perkembangan teknologi digital, seperti Apple Inc. dan Alphabet Inc., telah menjadi pesaing berat perbankan ke depan. Apalagi mereka telah merubah perilaku konsumen, termasuk nasabah perbankan. Situasi tersebut memaksa bank bank dunia harus memutuskan bersaing, bermitra atau mengakuisisi para pendatang baru bisnis perbankan.

Bagaimana dengan perbankan di Indonesia? perlambatan ekonomi nasional diketahui telah menyebabkan turunnya tingkat kredit perbankan dalam negeri sampai-sampai pertumbuhan kredit pada triwulan ke III – 2018. Tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru kuartal III-2018 yang turun menjadi 21,2 persen, dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 90,3 persen.

Adapun perlambatan pertumbuhan kredit bersumber dari semua jenis penggunaan kredit, baik modal kerja, investasi, maupun konsumsi. Peningkatan kredit pada kuartal IV-2018 lebih didorong oleh tingginya optimisme responden dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan risiko penyaluran kredit yang rendah, serta rasio kecukupan modal yang meningkat. (detikfinance,17/10/2018).

Sayangnya, kondisi pertumbuhan kredit perbankan pada Juni 2019 kembali melambat menjadi 9,94 persen (yoy) dibandingkan Mei 2019 yang sebesar 11,05 persen (yoy). Pada Juni 2019, kredit yang disalurkan industri perbankan mencapai Rp5.528,59 triliun.

Apakah kondisi bank bank di Indonesia akan mengalami nasib yang sama dengan separuh bank bank di dunia seperti hasil survey Mc Kinsey? Masihkah perbankan nasional akan eksis ke depan di tengah gencarnya pertumbuhan teknologi digital ekonomi dengan perusahaan-perusahaan fintech yang mulai menjamur? Bener gak sih? Rakyat Indonesia masih banyak yang belum punya rekening bank konvensional? Lalu, pengaruh perlambatan ekonomi hingga keringnya likuiditas perbankan saat ini, bagaimana jalan terbaik mengatasinya oleh perbankan domestik?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Akademisi Universitas Airlangga Surabaya

Sebenarnya untuk potensi perbankan nasional masih cukup besar. Harus diketahui, bahwa jumlah warga negara Indonesia yang mempunyai rekening bank masih kecil.Ttidak semua orang punya rekening bank. Mungkin hanya 30 an persen orang Indonesia yang mempunyai rekening di bank.

Jadi hal itu sebenarnya adalah potensi yang besar buat perbankan domestik untuk merekrut customer. Lagipula, mereka yang tidak membuka rekening bank itu kebanyakan adalah warga yang income nya rendah. Mereka enggan dengan hal hal administratif bank seperti biaya administrasi, biaya bulanan bank dan lain-lain yang menyebabkan orang menjadi malas membuka rekening bank.  

Sebetulnya kebutuhan untuk menggunakan jasa perbankan di kalangan masyarakat ekonomi bawah kita ada, tapi kemudian peluang itu ditangkap oleh lembaga-lembaga keuangan non bank seperti koperasi, arisan, pinjaman mikro dan lain-lain. Mereka lincah menangkap kebutuhan untuk menabung dan meminjam warga kebanyakan, apalagi di perdesaan.

Satu-satunya perbankan nasional yang punya daya penetrasi paling tinggi adalah BRI. BRI punya sumberdaya pegawai yang bahkan sampai turun ke bawah untuk mengambil tabungan nasabah. Tapi akibatnya ongkos menjadi mahal sehingga sukubunga menjadi lebih tinggi daripada pasar.

Dengan perkembangan teknologi IT, semua orang memang belum tentu memiliki rekening bank, tetapi hampir semua orang mempunyai perangkat HP.  Jadi hal ini memang menjadi tantangan tersendiri buat perbankan.

Namun, sebetulnya hal itu tidak begitu menjadi masalah karena mereka mengambil segmen dari mereka yang semula belum mengenal bank. Mereka tidak langsung menusuk ke jantungnya perbankan. Jadi pasar perbankan domestik masih luas. Walaupun masih eksisting tapi dampak tidak begitu terasa.

Adapun bank-bank yang me layoff pegawainya itu memang terjadi di negara-negara barat. Kalau di Indonesia sepertinya tidak begitu berdampak, hanya saja sekarang mereka bersaing dengan kredit-kredit mikro. Tapi tidak akan separah di dunia barat. Lagipula fintech-fintech itu hanya bermain pada mereka yang unbankable, yang belum punya rekening bank. wilayah dimana bank malas masuk karena mungkin berbiaya besar, jadi pangsa itu yang diambil oleh fintech.

Di negara-negara barat, hampir 99 persen penduduknya sudah masuk dalam sistem perbankan. Di Australia, kartu debit perbankan sudah sama seperti KTP. Bahkan kartu bank/debit bank berfungsi sebagai ID.

Perihal perlambatan atau penurunan tingkat kredit oleh nasabah lebih banyak disebabkan oleh terjadinya perlambatan perekonmian. (pso)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies

Sebenarnya “nyawa” perbankan ada di lending activity dan funding activity, atau aktiva dan pasiva bank. Memang kalau kita lihat aktiva perbankan dari sisi aset sepertinya masih menunjukkan hal yang positif, meskipun mengalami sedikit penurunan.

Begitupula dengan sisi kredit, karena aset perbankan ditopang sebagian besar oleh kredit. Dari data yang ada memang menunjukkan arah bisnis perbankan kita yang menurun. Data penurunan kinerja kredit yang hanya 9,94 persen pada akhir semester I 2019 dibandingkan data bulan Mei 2019 (11,05 persen) menunjukkan ada pertumbuhan meski masih menurun.

Perlambatan pertumbuhan kredit perbankan memang bisa jadi karena adanya impact dari perlambatan ekonomi global sehingga para pelaku ekonomi yang dibiayai oleh perbankan tidak bisa melakukan ekspansi. Kebanyakan masih wait and see menunggu situasi perekomian stabil kembali, sehingga belum berani melakukan ekspansi produksi.

Selama ekonomi global masih belum stabil, maka ke depan masih akan tetap berdampak negatif terhadap kondisi perbankan Indonesia terutama penyaluran kredit.

Di satu sisi memang pengaruh disrupsi teknologi membuat bank menghadapi kompetitor sejati yakni kemajuan teknologi itu sendiri. Artinya, perbankan tidak bisa mengelak untuk bersaing dengan teknologi.

Artinya tumbuhnya fintech yang memang lebih inklusif atau inklusivitasnya lebih baik dibanding perbankan, maka hal itu menjadi tantangan tersendiri. Masyarakat yang semula tidak bankable berubah menjadi “fintechable”.

Orang sekarang dapat dengan mudah mengakses kredit meski hanya untuk pinjaman skala mikro. Baik untuk tujuan permodalan maupun konsumsi. Terlebih lagi kemudian hal itu difasilitasi oleh fintech dengan model peer to peer lending.

Bahkan untuk tujuan transaksi sekarang masyarakat lebih memilih untuk menyimpan di fasilitas Gopay atau OVO misalnya. Apalagi bagi kaum milenial  yang sudah sangat dimanjakan oleh berbagai fasilitas layanan yang disediakan digital platform.

Sekarang sudah jamak bagi kaum milenial yang bergaji bulanan Rp5 juta misalnya, maka Rp2,5 juga langsung disimpan di OVO atau Gopay. Artinya yang dulu menyimpan di perbankan konvesional, sekarang beralih ke fasilitas digital platform. Karena fasilitas itu sangat memudahkan mereka bertransaksi apapun untuk kebutuhan sehari-hari.

Jadi artinya ke depan akan ada kecenderungan masyarakat untuk shifting atau bergeser dari perbankan konvensional ke fasilitas digital plarform. Tantangan likuiditas perbankan justru ada di situ.

Dengan demikian maka saat ini peran perbankan konvensional di challenge langsung oleh fintech. Kompetitor utama perbankan saat ini adalah teknologi, tidak ada yang lain. Artinya, ketika bank berniat compete, maka dia harus menyediakan teknologi yang dapat menjangkau keinginan nasabah, sesuai dengan ekspektasi nasabah.

Sekarang digital perbankan terus berevolusi dari mobile banking, phone banking dan sebagainya yang saat ini nasabah menganggap sudah biasa-biasa saja. Nasabah sekarang lebih menginginkan terintegrasinya fintech, e-commerce dan perbankan. Jadi customize sifatnya, apa yang nasabah inginkan maka dapat disediakan.

Bank nasional yang menurut saya cukup maju misalnya Bank BTPN dengan produk terintegrasi yang sudah selangkah lebih maju dalam adopsi teknologi.

Memang sekarang dibutuhkan perbankan nasional yang sudah menjadi “open banking”. Integrasi antara produk perbankan dengan produk fintech.

Jadi sekali lagi saat ini kata kunci bagi perbankan adalah : Teknologi merupakan kompetitor utama perbankan. Kalau perbankan berkeinginan fight maka dia harus adopt technology.

Meskipun di Indonesia karakterisitik digitalisasinya belum terlalu optimal tapi ke depan pasti akan optimal.

Terkait dengan dampak bagi tenaga kerja, kajian tahun lalu kami ketika meneliti dampak adopsi teknologi terhadap labour demand, diketahui hasilnya bahwa untuk bank kecil penggunaan teknologi ternyata berdampak negatif, artinya ketika bank kecil mengadopsi teknologi tinggi, berkibat tenaga kerja menjadi berkurang.

Namun untuk bank-bank besar, penggunaan teknologi maju berdampak positif bagi tenaga kerja karena bersifat komplementer. Jadi memang adopsi teknologi tinggi pada perbankan bagus untuk meningkatkan performa, tapi perlu dipikirkan dampaknya terhadap tenaga kerja. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

Krisis APBN Kian Mendekat

24 February 2020

Indonesia Bubar

21 February 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF