Banjir Likuiditas di Finansial, Rugi di Sektor Riil
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 29 July 2019 17:30
Penulis
Ekonomi Indonesia tengah mengalami paradoks, kondisi yang saling bertolak belakang antara investasi di pasar portofolio dan sektor riil. Pasar portofolio tengah kebanjiran dana, sementara  sektor riil justru meradang, kekeringan likuiditas.

Berdasarkan data Bank Indonesia, aliran modal asing ke instrumen portofolio pada awal Januari – 25 Juli 2019 sebanyak Rp192,5 triliun. Dana tersebut masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) sebanyak Rp119,3 triliun dan pasar saham Rp72,2 triliun, sementara sisanya senilai Rp1 triliun dikelola dalam bentuk surat berharga BI (SBI).

Masuknya dana asing tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan proyeksi kebijakan ekonomi Indonesia dan menjadi cermin keyakinan pelaku  pasar terhadap stabilitas dan kondisi ekonomi RI. Apa yang menyebabkan kepercayaan asing ini begitu tinggi terhadap Indonesia?  Mengapa Indonesia yang menjadi sasaran investasi? Apakah negara lain mengalami hal yang sama?

Kabar baik di sektor finansial tersebut sayangnya tidak dibarengi oleh hal yang sama di setktor riil. Dalam beberapa hari belakangan kita disuguhkan berita sejumlah perusahan yang bermasalah dengan keuangannya yang membuat kita mengurut dada.

PT Krakatau Steel  diperkirakan akan merugi Rp1,3 triliun. Pasalnya, proyek pengolahan bijih besi menjadi hot metal atau blast furnace yang dibangun sejak 2011 terancam merugi. Harga pokok produksi slag yang dihasilkan proyek blast furnace ini lebih mahal 82 dolar AS per ton atau sekitar  Rp1,14 juta dibandingkan harga pasar.

Namun belakangan disebut-sebut PT Krakatau Steel merugi karena BUMN itu menjadi bahan bancakan banyak pihak, kalah bersaing dengan baja impor, dan berbagai alasan lain yang membuat perusahaan mengalami masalah keuangan.

PT Krakatau Steel tidak sendirian. PT Garuda Indonesia  juga mengalami kerugian, bahkan lebih besar dari PT Krakatau Steel. Dalam penyajian ulang (restatement) laporan keuangan tahun buku 2018, operator burung besi itu mencatatkan kerugian, tidak tanggung-tanggung,  175 juta dolar AS (Rp2,4 triliun). Padahal sebelumnya mengaku untung  5 juta dolar AS (Rp 70 miliar).

Dan kini yang sedang hangat diperbincangkan adalah PT Delta Merlin Dunia Textile (Duniatex/DMDT), salah satu grup usaha tekstil terbesar di Indonesia, yang  dikabarkan mulai mengalami gagal bayar atas kewajiban utang perusahan terafiliasi, PT Delta Dunia Sandang Tekstil (DDST), senilai 260 juta dolar AS.   DDST gagal membayar angsuran kredit kepada kreditur senilai 11 juta dolar AS pada 10 Juli lalu.

Gagal bayar itu merembet kepada penurunan peringkat.  S&P memangkas peringkat obligasi DMDT menjadi CCC- alias tidak layak dikoleksi. Padahal, empat bulan sebelumnya saat obligasi senilai 300 juta dolar AS akan diterbitkan, S&P memberikan peringkat BB-. S&P beralasan pemangkasan peringkat surat utang DMDT sebagai imbas dari perang dagang Amerika Serikat dan China

Berbagai sebab yang dialami perusahaan ujung-ujungnya menjerat mereka pada masalah likuiditas. Kondisinya jauh berbeda dengan sektor finansial yang sedang kebanjiran likuiditas. Apakah dua dunia ini tidak bisa bersahabat, saling bantu? Mungkin terlalu naïf jika urusan bisnis disamakan dengan pertemanan, namun barangkali pemerintah punya strategi agar hot money di pasar portofolio bisa mengalir juga ke sektor riil melalui instrumen tertentu?

Apakah masalah yang dihadapi sektor riil tersebut sifatnya kasuistik, mismanagement  yang hanya menimpa perusahaan tersebut?  Atau  merupakan  gejala awal dari masalah yang lebih serius di kemudian hari di bidang ekonomi? Apakah selama ini pemerintah menerapkan kebijakan yang berbeda sehingga sektor keuangan lebih maju dari sektor riil?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Mantan Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)

Tidak paradoks antara sektor riil dan sektor portofolio karena dari dulu seperti itu, karena tidak ada pendalaman.  Di portofolio, investor tinggal melihat rate of return, tingkat suku bunga, apakah masih menarik atau tidak, masih lebih tinggi dari inflasi atau tidak.. Tidak ada risiko di sini. Bahkan di obligasi ritel pemerintah masih ditawarkan return 8 persen.

Kebanyakan portofolio masuknya dari obligasi yang keamanannya lebih pasti dengan return yang tinggi. Investor pasti tertarik dan setiap saat bisa masuk dan keluar karena diperdagangkan di perbankan. Hari ini beli,  besok dijual bisa. Tidak ada aturan yang membatasi keluar masuknya modal asing di portofolio seperti halnya di Thailand.

Dana yang masuk di portofolio bergerak bebas, sehingga dapat mengalami surplus, tetapi sektor riil kekurangan likuiditas karena  arus masuk modal asing di portofolio tidak bisa ditahan. Berbeda dengan Thailand yang mengeluarkan kebijakan  yang menahan dana asing masuk untuk beberapa bulan, baru kemudian bisa keluar.

Dengan begitu fund manager di Thailand bisa mengelola dana asing tersebut untuk ditempatkan di instrumen investasi. Berbeda dengan Indonesia yang tidak mengatur aliran dana masuk dan keluar, disamping penempatannya pada instrument investasi yang paling likuid.

Untuk menarik investasi, fund manager harus memberikan return yang lebih tinggi dari yang ditawarkan pemerintah. Jika suku bunga yang dtawarkan lebih tinggi maka fund manajer harus mencari tempat investasi yang menawarkan return yang lebih tinggi.

Namun sayangnya daya kompetisi Indonesia tengah turuh, ekonomi biaya tinggi maka harus dicarikan return dari sektor yang memberikan gain paling tinggi.  Ini semua saling mendukung.

Perlu ada harmonisasi kebijakan antara sektor riil dan moneter, agar dana yang masuk dilakukan pendalaman ke sektor riil.  Namun hal ini baru terjadi kalau ada insentif investasi di sektor riil. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Investasi di portofolio diminati asing karena suku bunganya masih menarik bagi investor sehingga dana banyak yang masuk, sementara di investasi langsung seret. Ini membutuhkan insentif lebih besar yang bisa diberikan pemerintah. Namun kasus Duniatex terjadi karena secara mikro terjadi kesalahan dalam manajemen, hanya dikhawatirkan terjadi risiko sistemik karena kredit yang dikucurkan melibatkan bank-bank besar.

Dengan adanya penurunan suku bunga acuan BI 7-Days Reserve Repo menjadi 5,75 persen dan pada saat bersamaan AS menurunkan suku bunga lagi maka ada harapan BI akan menurunkan suku bunga lagi. Maka akan terjadi trade off.

Dengan penurunan suku bunga acuan BI maka sektor riil akan bergerak melalui mekanisme transmisi dimana suku bunga kredit akan turun.  Namun di sisi lain penurunan suku bunga acuan BI  tidak menarik bagi investasi portofolio. Bisa terjadi arus keluar modal (outflow). Hal ini yang membuat BI tidak buru-buru menurunkan suku bunga lagi. BI berhati-hati.

Namun jika mengacu pada survei Bloomberg yang memperkirakan AS akan menurunkan suku bunga maka BI seharusnya berani menurunkan lagi suku bunga acuan pada Agustus nanti. Yang perlu dijaga juga adalah apakah nilai tukar rupiah akan melemah lagi atau tidak.

Untuk bisa menarik investasi asing masuk ke sektor riil dibutuhkan waktu yang panjang. Indonesia memang sudah memiliki infrastruktur, tetapi tidak cukup berupa jalan saja. Investor membutuhkan kawasan industri, perizinan yang sederhana, dan dukungan keuangan. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF