Asa Itu Ada Pada Ekonomi Digital
berita
Ekonomika
Sumber Foto : cigionline.org 06 May 2019 17:00
Penulis
Indonesia ditengarai terjebak dalam pertumbuhan ekonomi 5 persen. Pernyataan tersebut didasarkan pada fakta empiris tingkat pertumbuhan yang tidak beranjak jauh dari angka tersebut sejak Presiden Joko Widodo memegang tampuk pemerintahan.  Pada periode presiden sebelumnya ekonomi masih tumbuh di kisaran 6 persen.

Pemerintahan Jokowi, sapaan Joko Widodo, berusaha menggerakkan kegiatan yang menjadi urat nadi masyarakat tersebut dengan mengeluarkan sedikitnya 16 paket kebijakan ekonomi. Namun secara agregat belum mampu mengerek pertumbuhan ke tingkat yang menjadi target pemerintahannya, yakni 7 persen.  Apakah mantan Gubernur DKI  itu sudah kehabisan strategi untuk mendongkrak pertumbuhan lebih tinggi lagi?

Blessing in disguise ekonomi digital berkembang pesat.  Ernst & Young (EY) memperkirakan di seluruh dunia akan ada 4,2 miliar pengguna internet dan 5,7 miliar pelanggan seluler pada 2020. Pengguna internet yang semakin banyak tersebut berdampak pada pertumbuhan bisnis.  Di Indonesia  ada sekitar 93,4 juta pengguna internet dan 71 juta pengguna telepon bergerak. Keberadaan mereka ikut mendorong kenaikan penjualan bisnis online sebesar 40 persen per tahun. di Indonesia.

Ekonomi digital ini yang akan digarap oleh pemerintahan Jokowi ke depan dan diharapkan menjadi leverage, daya ungkit yang bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi. Kementerian Perindustrian memperkirakan ekonomi digital dapat membawa Indonesia naik ke kelompok negara-negara berpendapatan menengah atas pada 2020.

Strategi lompatan katak dengan mengembangkan ekonomi digital secara masif diharapkan dapat melepaskan Indonesia dari jebakan pertumbuhan 5 persen dan kelas ekonomi menengah bawah ke tingkat yang lebih tinggi. Apakah pemerintah sudah menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan? Bagaimana dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam menguasai teknologi informasi dan ekonomi digital?

Pemerintah memperkirakan dibutuhkan 17 juta orang untuk bekerja di bidang ekonomi digital hingga 2030. Melalui Kementerian Perindustrian, berbagai strategi disiapkan dengan menjalankan beberapa program peningkatan kompetensi SDM sesuai kebutuhan industri di dalam memasuki era industri 4.0.

Program tersebut diharapkan sukses dengan menggandeng industri agar terlibat di dalamnya seperti melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan vokasi, misalnya, link and match antara industri dan Sekolah Menengah Kejuruan, yang dijalankan sejak 2017.

Selain itu, disiapkan juga pembangunan Pusat Inovasi dan Pengembangan SDM Industri 4.0 di Jakarta, yang akan berfungsi layaknya Digital Capability Center yang dimiliki Singapura. Negara tersebut, menurut kajian EY, berada di garis terdepan dalam mengadopsi teknologi digital.

Dengan menerapkan Industry 4.0, pemerintah menargetkan dapat membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi  dunia pada 2030, menjadikan net export industri 10 persen, peningkatan produktivitas hingga dua kali lipat dibandingkan dengan peningkatan biaya tenaga kerja. Apakah perencanaan ini akan dapat membawa Indonesia ke level negara berpendapatan menengah atas dan lepas dari jebakan pertumbuhan 5 persen? Bagaimana dengan kontribusi sektor lain dalam mendorong pertumbuhan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Peran ekonomi digital terhadap pertumbuhan besar apalagi di masa yang akan datang, karena arah kegiatan ekonomi yang efisien, hemat, instan hanya bisa dijawab dengan digitalisasi. Sektor industri juga mengalami revolusi dengan tahapan 1, 2, 3 bahkan sekarang sudah masuk fase ke-4, sehingga makin mengedepankan fungsi digital. Harapan pemerintah pada ekonomi digital sangat besar terutama untuk menjawab masalah yang terkait dengan daya saing dan peningkatan produktivitas.

Untuk bisa mencapai masyarakat ekonomi digital perlu banyak yang dipersiapkan, terutama sumber daya manusia Indonesia yang ke depannya harus semakin maju dan menyesuaikanya dengan perkembangan zaman dan mengetahui apa kebutuhan dunia digital di masa yang akan datang.

Ke depan ada bidang-bidang profesi yang semakin tidak dibutuhkan seperti tenaga pemasaran. Di sisi lain ada profesi yang semakin dibutuhkan  sehingga tenaga kerja harus bisa membaca peluang ke arah sana, lapangan kerja apa saja yang semakin banyak diminta dan dibutuhkan.

Desain penyiapan tenaga kerjanya harus disiapkan mulai dari kurikulum di SMK, pendidikan vokasi, dan di perguruan tinggi. Atau pendidikan formal lain yang pada intinya mempersiapkan tenga kerja bisa bersaing di dunia digital.

Penyiapan SDM untuk ekonomi digital masih pada tahap awal dan masih dibutuhkan lagi sinergi antarsektor.  Saat ini masing-masing sektor melakukan upaya sendiri untuk bisa menjawab kebutuhan digital. Akan lebih lagi jika ada sinergi antarsektor. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Kontribusi ekonomi digital belum sebesar sektor lain, namun jika melihat pertumbuhannya sekitar 6 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional, sektor ini memberikan harapan ke depan. ia bisa mendorong pertumbuhan lebih tinggi.

Sayangnya pemerintah seperti gamang dalam mengembangkan ekonomi digital, tidak mempunyai pijakan sehingga kebijakan yang ditempuh justru kontraproduktif terhadap pengembangan ekonomi digital. Contohnya, pengenaan pajak terhadap e-commerce yang bisa mengurangi laju pertumbuhan sektor tersebut.  Selain itu, pemerintah juga menaikkan tarif ojek online tanpa disertai kajian yang menyeluruh.

Pemerintah perlu membuat kebijakan menyeluruh dalam pengembangan ekonomi digital. Perlu disiapkan ekosistem yang mendukung berkembangnya ekonomi digital. Selain itu juga perlu mempersiapkan SDM.

Saat ini meskipun banyak lembaga pendidikan vokasi tetapi tidak kompeten. Lulusan lembaga pendidikan vokasi justru banyak yang menganggur.  (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF