Annual Meeting IMF-WB 2018: Impactnya Sebesar Anggarannya?
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 11 October 2018 18:00
Penulis
Empat hari sudah acara Annual Meeting International Monetary Fund and World Bank (AM IMF-WB) 2018 di Nusa Dua, Bali dilaksanakan, dari enam hari rencananya diadadakan. Acara yang diperkirakan dihadiri 34.223 orang peserta ini diklaim sebagai acara terbesar AM IMF-WB yang pernah diadakan selama ini.

Besarnya dana yang dibutuhkan untuk menyukseskan acara AM IMF-WB ini menjadi polemik. Pasalnya, anggaran yang dibutuhkan dianggap terlalu besar. Sementara, pada saat yang sama, pemerintah membutuhkan dana untuk pemulihan gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Palu, Sigi, Donggala, di Sulawesi Tengah pasca bencana gempa yang diikuti dengan tsunami dan tanah lumpur bergerak (likuifaksi) yang melanda.

April lalu, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas memperkirakan dana untuk mendukung penyelenggaraan AM IMF-WB 2018 mencapai Rp6,9 triliun. Dana tersebut di antaranya digunakan untuk pembangunan Underpass Ngurah Rai, Pelabuhan Benoa, Patung Garuda Wisnu Kencana, dan Tempat Pembuangan Akhir Sampah Suwung, yang mencapai Rp4,9 triliun. Selain itu, untuk biaya operasional penyelenggaran IMF-World Bank Annual Meeting 2018 sebesar Rp1,1 triliun. Bahkan, hanya untuk souvenir saja menghabiskan anggaran Rp90,2 miliar dan hiburan Rp57 miliar. Terlalu boroskah?

Kemudian, pada bulan Agustus pihak panitia acara AM IMF-WB menyebut bahwa anggaran pelaksanaan Annual Meeting IMF-WB 2018 di Bali ini telah dibahas bersama DPR RI dan berlaku secara multiyears. Besarannya saat disepakati adalah Rp 45,4 miliar pada 2017 dan Rp 810,1 miliar pada 2018, sehingga total yang dialokasikan adalah Rp 855,5 miliar. Panitia mengaku anggaran ini telah diefisienkan sehingga angkanya masih di bawah pagu yang disiapkan.

Dengan dana sebesar itu, mana yang lebih dahulu diprioritaskan, untuk membantu para korban bencana atau untuk menyukseskan acara tahuan internasional AM IMF-WB 2018?

Presiden Joko Widodo pun ikut merespons tuntutan penghematan atas penyelenggaraan AM IMF-WB 2018 tersebut dengan mengatakan, bahwa sebagian besar anggaran dari pemerintah bukan spesifik untuk acara, melainkan dialokasikan untuk pembenahan infrastruktur penunjang di Bali. Sehingga, pembenahan infrastruktur tersebut bukan hanya dinikmati delegasi IMF dan World Bank saja, namun juga oleh masyarakat umum dalam jangka panjang.

Selain itu, acara ini disebutnya mampu memperkuat promosi wisata di Indonesia. Termasuk akan mendongkrak belanja wisata di Bali sebagai tempat diselenggarakannya acara. Sehingga pertemuan AM IMF-WB menjadi incaran banyak negara yang menginginkan pertemuan itu dilaksanakan di negaranya. Benarkah demikian?

Dengan dana sebesar itu, pemerintah mematok target besar dari sisi ekonomi dengan diselenggarakannya AM IMF-WB 2018 di Bali. Pemerintah berharap acara ini bakal mendongkrak ekonomi Bali dari 5,9 persen menjadi 6,54 persen, dengan tambahan pertumbuhan 0,26 persen diharapkan bisa didapat dari sektor konstruksi, 0,12 persen dari perhotelan, 0,5 persen dari makanan, dan 0,21 persen lainnya dari sektor lain-lain.

Memang penting acara AM IMF-WB 2018 bagi Indonesia? Akankah nantinya berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia? seberapa besar pengaruhnya? Apa impact yang didapatkan Indonesia dari penyelenggaraan event ini?

Atau, acara ini hanya sebagai jalan hadirnya lagi IMF dan World Bank untuk mengintervensi ekonomi Indonesia serta mempertegas pelaksanaan konsep ekonomi Neo-Liberal (Neolib) di Indonesia?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Guru Besar Ekonomi Universitas Nasional

Diselenggarakannya Annual Meeting IMF-World Bank 2018 di Bali merupakan bentuk apresiasi dunia terhadap Indonesia. Apalagi setelah melihat kesuksesan Indonesia dalam menggelar event Asian Games beberapa waktu lalu, dan Asian Para Games yang saat ini tengah berlangsung. Maka, ada kepercayaan bahwa Indonesia mampu menyelenggarakan event sebesar Annual Meeting IMF-World Bank 2018.

Acara Annual Meeting IMF-World Bank 2018 yang diselenggarakan di Bali kali ini memang dirasakan begitu penting bagi Indonesia. Karena, momennya sangat tepat. Mengingat ada permasalahan finansial dan moneter, dengan menguatnya dolar AS atas rupiah dan mata uang di negara-negara Asian, bahkan di seluruh dunia. Rupiah sendiri menjadi mata uang yang paling terpukul atas menguatnya dolar AS ini. Sehingga, ada banyak manfaat yang akan didapatkan bagi Indonesia atas diselenggarakannya acara Annual Meeting IMF-World Bank 2018 ini.

Memang, guncangan perekonomian global yang terjadi saat ini akibat kebijakan perdagangan Amerika Serikat, serta adanya perubahan kebijakan moneter di Amerika Serikat. Bank sentral Amerika meningkatkan suku bunganya secara bertahap, tahun lalu tiga kali dan tahun ini rencananya empat kali, dengan nilai peningkatan sekitar 2 persen sampai saat ini. Tentu saja hal ini cukup berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia.

Dengan hadirnya pertemuan tahunan IMF-World Bank di Bali tersebut, ada keuntungan penting lain yang juga bisa dapatkan Indonesia. Yakni, pemerintah bisa mendengar langsung dari The Fed tentang arah kebijakan mereka. Dengan begitu, kita bisa menyiapkan kebijakan yang lebih tepat untuk meresponnya. Tidak meraba raba.

Pemerintah dianggap telah berhasil mengelola perekonomian Indonesia sehingga tak terimbas terlalu besar akibat guncangan perekonomian global yang terjadi saat ini. Keberhasilan ini tercermin dari pujian yang disampaikan oleh Direktur Pelaksana dan Ketua Dana Moneter Internasional-IMF, Christine Lagarde sebelum dilaksanakan acara Annual Meeting IMF-World Bank 2018 di Bali tersebut.  

Lagarde menyebut , perikonomian Indonesia saat ini kuat, fundamental perokonomiannya kuat, pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren postif, dengan laju inflasi yang rendah. Meskipun ada hal-hal yang harus segera diperbaiki, terutama terkait dengan defisit neraca pembayaran. Dalam artian, IMF maupun World Bank mengapresiasi kebijakan moneter yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, baik oleh otoritas moneter maupun oleh otoritas fiskal.

Jika kemudian yang menjadi polemik dalam acara Annual Meeting IMF-World Bank 2018 ini adalah masalah anggaran, menurut saya hal itu relatif. Mengingat manfaat yang didapatkan Indonesia juga besar dari pertemuan tahunan IMF-World Bank ini.

Acara Annual Meeting IMF-World Bank 2018 ini kan sudah dipersiapkan sudah sejak lama sebelum terjadinya bencana-bencana yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia, seperti peristiwa bencana di Lombok maupun di Palu, Sigi, dan Donggala. Dana penyelenggaraannya pun sudah dianggarkan jauh-jauh hari. Jika acara yang sudah dipersiapkan dengan matang ini kemudian diputus di tengah jalan kan juga tidak pantas.

Selain itu, kegiatan pemerintah dalam rangka penanganan bencana dan pemulihan pasca bencana di daerah-daerah yang terkena bencana juga juga tidak mengendur. Sama-sama dilaksanakan secara maksimal, efektif dan efisien. Bahkan ada bantuan luar negeri yang dibawa dan disampaikan oleh para peserta acara Annual Meeting IMF-World Bank 2018 kepada para korban bencana di Lombok dan di Sulawesi Tengah.

Apalagi besar kemungkinan aka nada multiplier effect atas diselenggarakannya acara ini buat industri pariwisata Bali, maupun secara nasional. Pertemuan ini dimungkinkan menimbulkan kenaikan pertumbuhan di Bali, serta pemulihan sektor pariwisata setelah letusan gunung Agung dan gempa Lombok yang juga efeknya dirasakan di Bali.

Jadi, kalau hal-hal tersebut ditanggapi dengan kepala dingin, saya kira apa yang kita dapatkan dari pertemuan ini seimbang dengan anggaran yang kita keluarkan. Cuma, karena memang saat ini kan tahun politik, jadi segala sesuatu yang terjadi pasti menjadi permasalahan yang seolah-olah besar dan luar biasa, karena disangkut-pautkan dengan politik. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Politikus/ mantan Menteri Keuangan dan Dirjen Pajak

Pemerintah silahkan saja menyelenggarakan acara-acara internasional seperti Annual Meeting IMF-World Bank 2018 tersebut. Tapi, yang menjadi persoalan dari penyelenggaraan acara yang diselenggarakan di Bali ini adalah, besarnya anggaran yang dikeluarkan. Terlalu besar dan tidak masuk akal. Masak hanya untuk souvenir saja anggarannya sampai Rp90-an miliar.

Dengan kondisi semakin tingginya kebutuhan rakyat, melambungnya harga-harga kebutuhan pokok di tengah kemiskinan rakyat yang masih melanda, serta kejadian bencana yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia yang merenggut banyak korban, baik jiwa maupun materi, penyelenggaraan acara tahunan pertemuan IMF-World Bank 2018 di Bali ini terlalu mewah dan ingin terlihat glamour.

Sementara dana bantuan untuk korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah hanya Rp565 miliar dan itupun kabarnya seret. Masa anggaran untuk souvenir saja di acara Annual Meeting IMF-World Bank mencapai Rp90 miliar. Jumlah ini kan tidak masuk akal. Bahkan jika dihapus sekalipun pemberian souvenirnya, acara ini tetap berjalan dan tidak mengurangi efektifnya annual meeting IMF-World Bank. Dana Rp90 miliar tersebut tentu lebih bermanfaat bila digunakan untuk korban gempa dan tsunami.

Semangat yang ingin ditampilkan dari penyelenggaraan Annual Meeting IMF-World Bank 2018 di Bali ini adalah semangat kemewahan, semangat foya-foya, semangat pemborosan. Jujur saja, saya yakin anggaran yang disampaikan untuk penyelenggaraan acara tersebut sangat mark up. Sangat tidak logis untuk penyelenggaraan acara yang hanya berlangsung kurang dari seminggu anggarannya mencapai ratusan miliar rupiah bahkan hingga triliunan rupiah. Anggaran sebesar itu mark up-nya gila-gilaan.

Katanya untuk acara ini, IMF dan World Bank maupun para peserta pertemuan tersebut akan membayar sendiri segala keperluan transportasi, hotel, maupun akomodasinya? Tapi kenapa kok sampai menghabiskan anggaran hingga sebesar itu untuk penyelenggaraannya? Apalagi kalau bukan adanya semangat untuk nilep atas penyelenggaraan acara ini, bukan?

Kenapa pemerintah musti repot-repot mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyelenggarakan acara ini, dengan nilai anggaran yang luar biasa besar. Pemerintah tinggal menyuruh event organizer (EO) yang besar dan bonafide untuk menyelenggarakan dan mengemas acara ini agar terlihat menarik dan berbobot, saya rasa itu juga sudah cukup. Dari acara tersebut EO-nya mendapatkan duit, mendapatkan keuntungan, dan negara mendapatkan pemasukan dari pajak atas keuntungan yang didapatkan EO.

Toh, acara pertemuan tahunan IMF-World Bank ini hanya acara ‘basa-basi ‘ biasa. Bukan acara pengambilan keputusan yang sangat penting bagi perekonomian dunia maupun perekonomian Indonesia sendiri. Karena, pertemuan tahunan dua lembaga ini adalah sekedar perkenalan para pejabat negara-negara yang ikut serta dengan petinggi petinggi IMF dan World Bank. Pertemuan tahunan ini juga biasanya hanya diisi dengan sekedar sambutan-sambutan tertentu yang umumnya juga singkat dan basa-basi.

Agar terlihat sedikit berbobot, biasanya ada dua atau tiga makalah sebagai pengisi waktu sekalian sebagai pembuka agenda tertentu yang akan diluncurkan atau pendalaman topik yang sedang digaungkan oleh kedua lembaga tersebut. Topik-topik yang tentu saja untuk kepentingan mereka. Tidak ada impact dari pertemuan ini untuk perekonomian Indonesia. Mungkin, hanya ada cerita hotel-hotel di Bali yang laku. Selain itu tidak ada.

Kedua lembaga ini sebagai corong negara-negara maju atau Organization of Econ Cooperation Development (OECD) tentu selalu ingin menunjukkan eksistensinya. Khususnya terhadap negara-negara berkembang yang menjadi debiturnya.

Ada asumsi semakin besar yang hadir semakin bergengsi dan penting. Bahkan,  dibumbui dengan ‘dongeng’ sebagai ajang promosi pariwisata. Tapi faktanya, pertemuan tahunan IMF-World Bank 2018 di Bali ini tak berbeda dengan acara Annual Meeting IMF-World Bank sebelum-sebelumnya, hanya sebagai ajang perkenalan petinggi kedua lembaga internasional tersebut dengan pejabat negara-negara yang hadir disana dan ajang basa-basi belaka. (Afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Niko Adrian

Advokat, Dosen Hukum Tata Negara FH-UKI

FOLLOW US

Demi Suharto Pemerintah dan Oposisi Bersatu             Petahana Demisioner vs Penantang Bulldozer             Dikhotomi Orde Baru dan Reformasi : Masih Relevankah?              Turn Back Orba             Percakapan Dari Orang ke Sistem             Orde Baru Politik Sesaat dan Tantangan Menuntaskan Reformasi             Pertarungan Idiologi             Bangkit Orde Para Bandit             Pendekatan Dialogue dalam Penyesuaian Konflik Papua Lebih Efektif, Ketimbang Operasi Militer             Dukungan Bagi Bank Syariah Harus Konsisten-Konsekwen