Akankah Ekonomi di 2018 Membaik?
berita
Ekonomika

Sumber Foto: tempo.co

17 December 2017 13:00
Penulis
Membaca perekonomian Indonesia akhir 2017 setelah diguncang pelemahan daya beli masyarakat, turunnya konsumsi rumah tangga, menurunnya belanja pemerintah, melemahnya kinerja ekspor dan target penerimaan pajak yang bakalan minus Rp200 triliun dan utang Negara yang mencapai hampir Rp4.000 triliun serta defisit APBN 2,92 persen, cukup membuat kening berkerut.

Sampai dengan semester I/2017, pertumbuhan ekonomi  Indonesia pada kuartal I dan II berada pada angka yang sama yakni 5,01 persen. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada semester I/2017 juga tumbuh hanya 4,9 persen. Pelemahan daya beli ditandai dengan banyaknya ritel berguguran, cukup menimbulkan tanda tanya, apa yang menyebabkan pelemahan daya beli menjadi berlarut-larut? Apa sebetulnya yang harus segera diperbaiki?  

Tetapi memasuki akhir tahun, sejumlah kalangan memprediksi perekonomian Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Apa iya? Meski BPS menyatakan pada triwulan III/2017 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,06 persen, tetapi apakah cukup untuk menggerakkan sektor perdagangan yang tengah dilanda kelesuan? Apakah tren ekonomi yang membaik akan dapat secepatnya mengembalikan daya beli masyarakat? Apa indikator ekonomi dan indikator kebijakan yang mendorong ke arah perbaikan? Bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat kelas menengah atas yang saat ini menahan belanja dengan menyimpan uangnya di bank? Sementara angka pertumbuhan penyaluran kredit di akhir triwulan III/2017 masih melemah di 10,6 persen (yoy) dibanding sebelumnya (12,4 persen), bagaimana peluang pertumbuhan perbankan nantinya?             

Seandainya saja harga komoditas ekspor Indonesia tidak jatuh pada beberapa tahun belakangan, maka pelemahan daya beli yang “menular” pada sektor konsumsi dan belanja pemerintah serta pajak tidak akan begitu berpengaruh pada perekonomian nasional. Namun, pengaruh naik turunnya perekonomian global menjadi salah satu faktor penentu dari perbaikan ekonomi dalam negeri. Terlebih adanya beberapa konflik di beberapa kawasan dunia sepeti Semenanjung Korea dan Timur Tengah yang saat ini cukup potensial menaikkan harga minyak dunia, ikut mengancam cadangan devisa negara.     

Juga risiko keuangan yang berasal dari aspek pengetatan kebijakan moneter negara-negara maju, terutama USA dan China, serta problem keuangan Eropa maupun negara-negara industri di Asia, bakal dapat berimplikasi pada perkembangan pasar keuangan domestik. Begitu pula risiko-risiko lain seperti IHSG, industri reksadana, sektor perbankan, terutama dalam hal kredit, CAR, NPL, serta berdampak juga pada risiko keuangan non bank.

Sepertinya, dibutuhkan relaksasi kebijakan yang dapat menurunkan “tensi” masyarakat yang sekarang sepertinya amat peka pada berbagai kebijakan ekonomi negara.  

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(pso)

  

  

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ketua Program Studi Magister Ekonomi Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Menilik kondisi perekonomian Indonesia 2017 dan proyeksi 2018, saya hanya mengemukan kondisi perbankan di Indonesia selama 2017 dan sedikit proyeksi 2018. Data secara umum diambil dari situs masing-masing bank dan OJK. Berdasarkan basis data tersebut, diambil nisbah beberapa indikator yang dianggap penting. Terdapat 13 indikator terpilih dan hanya digunakan data dari 91 bank.

Indikator-indikator yang dapat disajikan adalah : Non Performance Loan (NPL), Kredit Kualitas Rendah (KKR), NPL-CKPN, CASA-DPK, LiabiliIes-to-Equity, Interest Revenue-to-Interest Cost, Profit-Aktiva Produkif, Biaya Operasional-Pendapatan Operasional (BOPO), ROA, Net Interest Margin (NIM), CAR, Feebased Income – Profit, Fee-based Income – Overhead.

Dari analisa awal komparasi beberapa bank di Indonesia dari sisi ROA (Return on Asset), Median ROA perbankan adalah 2,58 persen pada 3Q17 (kuartal ke 3/2017). Ada 7 bank yang mempunyai keuntungan negatif pada 3Q17. Bank-bank tersebut adalah: Bank MNC, Bank Nusantara Parahyangan, Bank of India, Bank QNB, Bank Royal Indonesia, Bank Resona Perdania, dan BPD Papua.  Delapan belas bank lainnya mempunyai ROA < 0,73 persen (percentile 20 persen).

Untuk indikator KKR (kredit kualitas rendah) atau NPL ditambah dengan kredit yang telah direstrukturisasi dan kini menjadi lancar, pada beberapa bank antara lain terdapat 4 bank mempunyai KKR diatas 20 persen pada 3Q17. Bank-bank tersebut adalah Bank Artha Graha, Bank Permata, Bank QNB, Bank Kesawan, dan BPD Papua. Median KKR perbankan adalah 6,30 persen. Sembilan belas bank  lainnya mempunyai KKR > 11,94 persen (percenIle 0.2 terbesar).

Pada Indikator NIM (Net Interest Margin) rata-rata industri perbankan adalah 7.1 persen. Hal yang cukup mencengangkan terdapat bank (Bank Amar) dengan NIM di atas 15 persen. 16 bank mempunyai NIM di atas 10 persen pada 3Q17, sebelas di antaranya adalah BPD. Bank lainnya adalah BRI, Amar, Bisnis Internasional, Bank BTPN, dan Bank ANZ Indonesia.

Indikator lain seperti CASA to DPK, yakni CASA adalah dana berbiaya rendah (dibanding deposito), sehingga bank tentu ingin mendapat nisbah CASA-DPK yang tinggi. Ada data cukup mengejutkan juga, bahwa masih terdapat 26 bank yang pendanaannya masih mengandalkan biaya mahal (seperti deposito). Contohnya pada Bank Bisnis yakni Bank Mitraniaga, dan Bank Yudha Bakti yang relatif ekstrim karena hanya 4,5, 8,5, dan 9,5 persen adalah tabungan dan giro. Hal ini sangat berdampak pada margin, keuntungan, dan (potensial) pada NPL serta KKR.

Korelasi antar tujuh variabel dengan berurutan : Profit – Aktiva produktif, NPL-CKPN, NPL,CASA-DPK, Interest revenue – Interest rate cost, BOPO, ROA, dan NIM. Ketujuh variabel tersebut mengindikasikan kemampuan menghasilkan keuntungan didasarkan pada pengendalian biaya dan profit margin masing-masing bank.

Analisa Bobot Akhir Pembobotan terhadap empat komponen menunjukan bahwa CAR tidak memegang peranan utama dalam menentukan peringkat bank. Nisbah modal terhadap pinjaman juga berperan sangat minimal. Profitabilitas, efisiensi, kemampuan menarik dana murah menjadi kunci penting dalam menerangkan keragaman keuangan bank.

Nilai akhir pemeringkatan bank yang diperoleh, teradapat dua nama besar yang ada di peringkat atas yaitu BCA dan BRI. Ada 11 dari 20 bank yang terbaik secara keuangan adalah pada bank-bank daerah (BPD). Dua puluh bank terbawah didominasi oleh bank BUKU 1 (Bank dengan modal inti kurang dari Rp1 triliun), dan BUKU 2 (Bank dengan modal inti Rp1 triliun sampai dengan kurang dari Rp5 triliun. Kecuali dua bank buku 3 (UOB dan Permata).

Evaluasi secara makro ekonomi dan perbankan, secara umum kondisi ekonomi makro masih akan membaik, namun demikian pembaikan tersebut tidak akan cukup mampu membalikkan keadaan bank-bank yang saat ini dalam kondisi lemah. Umumnya bank-bank ini pada BUKU 1 dan BUKU 2. Ketidakpastian global dapat berdampak fatal pada bank-bank yang lemah.

Studi ini menambah perspektif tentang apa yang penting dalam pengelolaan keuangan bank, berlawanan dengan common-wisdom, CAR bahkan NPL tidak dapat digunakan sebagai pembobot penIng dalam menilai bank. Nampaknya OJK dan LPS harus segera mengambil ancang-ancang terhadap bank-bank yang lemah. Apakah bentuknya pengawasan yang lebih ketat, pergantian manajemen, paksaan untuk melakukan merger, atau tindakan lainnya. (pso)

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ekonom Danareksa dan Analis Kuantitatif LPEM UI

Kebijakan moneter yang longgar (suku bunga yang rendah dan quantitative easing) serta kebijakan fiskal cenderung ekspansif di sejumlah negara maju membuahkan hasil yang baik berupa pertumbuhan ekonomi semakin meningkat di Amerika (AS), Eropa, Jepang, China dan beberapa negara lainnya di Asia, termasuk Indonesia. Tren perbaikan ekonomi diperkirakan terus berlanjut, sehingga pada 2017 dan 2018 perekonomian dunia diproyeksikan tumbuh 3,5 persen dan 3,6 persen, yang berarti lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dunia 2016 yang 3,1 persen.

Peningkatan kinerja ekonomi negara maju mendorong peningkatan arus investasi (baik FDI maupun portofolio) ke emerging market (termasuk Indonesia). Sebab perbaikan ekonomi dunia akan menurunkan risiko berinvestasi di emerging market, sementara imbal hasil di emerging market jauh lebih menarik dibandingkan dengan return di negara maju.

Perbaikan ekonomi dunia memberikan dampak positif terhadap kenaikan ekspor RI, dan sumbangan ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi akan semakin signifikan. Pada 2015 dan 2016 yang lalu sumbangan ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi kita masih negatif akibat menurunnya kinerja ekonomi dunia. Peningkatan ekspor juga akan mendorong neraca perdagangan atau trade balance (TB) RI cenderung surplus.

Sementara itu surplus neraca perdagangan menurunkan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit, CAD) karena TB merupakan salah satu komponen dari CAD. CAD yang terjaga tentu menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah kita kedepan. Tahun 2012 – 2015, saat CAD kita melampaui 3.0 persen dari PDB, nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan. Jadi perbaikan ekonomi dunia akan memberikan dampak  positif ekspor kita, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, CAD pun semakin terkendali, sentimen positif rupiah terjaga.

Sejalan dengan itu, ekspor Indonesia membaik (peningkatan volume dan harga ekspor). Impor juga naik, namun neraca perdagangan cenderung tetap surplus. Peningkatan pertumbuhan ekonomi dunia  akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian Indonesia berupa:

Pertama, peningkatan pertumbuhan ekspor/ekonomi dan perbaikan neraca pembayaran). Kedua, peningkatan arus investasi asing dalam FDI maupun portofolio. Ketiga, capital inflow berupa investasi langsung dan investasi portofolio.

Di samping tren perbaikan ekonomi global, perlu diingat kecenderungan perekonomian dunia yang berpotensi menimbulkan volatilitas dan mempengaruhi kebijakan makro ekonomi dalam negeri, seperti rencana kenaikan suku bunga the Fed atau bank sentral AS. Dengan laju inflasi di AS yang mulai di atas 2 persen (2,05 persen pada bulan Oktober) dan tingkat pengangguran 4,1 persen pada bulan Oktober, serta pertumbuhan ekonomi yang masih prospektif (2,3 persen Q3), maka peluang kenaikan suku bunga acuan AS Desember ini relatif besar. Tahun depan diperkirakan “the Fed” naik 2 - 3 kali (pertumbuhan ekonomi diikuti kenaikan tekanan inflasi).

Kedua, rencana pengurangan balance sheet the Fed dari 4,5 triliun dolar AS menjadi 3 triliun dolar AS akan menurunkan likuiditas mata uang dolar AS di pasar global, sehingga dikhawatirkan akan mendorong kenaikan yield obligasi dan penguatan dolar Amerika terhadap mata uang dunia.

Ketiga,  renegosiasi Uni Eropa dengan Inggris pasca “Brexit” pada 3 (tiga) isu utama yang sulit disepakati. Juga isu Catalonia.

Keempat, tapering bank sentral Uni Eropa sejalan dengan perbaikan ekonominya.

Kelima, krisis geopolitik di Semenanjung Korea. Masalah Qatar vs Saudi Arabia dan sekutunya di Timur Tengah, rencana AS menarik diri dari perjanjian nuklir dengan Iran, serta pengakuan Amerika terhadap Yerusalem.

Khusus perekonomian AS, harus dicermati kenaikan probabilitas suku bunga the Fed dari 34 persen menjadi sekitar 70 persen dan kemudian 92 persen yang menjadi salah satu faktor volatilitas nilai tukar rupiah (karena kenaikan yang bersifat un-anticipated). Perkembangan ini sekaligus menegaskan bahwa kenaikan suku bunga ke depan akan tergatung pada kinerja ekonomi AS.

Untuk kondisi perekonomian dalam negeri Indonesia, laju Inflasi dalam negeri pun semakin terjaga. Inflasi makanan terus menurun, sedangkan kenaikan inflasi non-makanan pada thn 2017 disebabkan oleh kenaikan administered price. (pso)

 

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Sepanjang  2017 perekonomian bergerak stagnan, tumbuh tapi di bawah ekspektasi. Target Pemerintah ekonomi bisa tumbuh 5,2 persen nampaknya mustahil tercapai. Komponen utama penggerak ekonomi seperti konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja Pemerintah belum bisa diharapkan. Diprediksi akhir tahun ini ekonomi hanya tumbuh 5,05 persen.

Konsumsi rumah tangga yang jadi penopang ekonomi Indonesia dengan porsi 56 persen terhadap PDB belum menunjukkan tajinya. Rendahnya konsumsi disusul fenomena ritel yang berguguran dari level kelas bawah hingga 7-Eleven, Matahari, Debenhams, dan Lotus. Mal tampak lengang, apalagi toko elektronik di Glodok dan Mangga Dua sepi pembeli. Fenomena kios hantu tidak bisa ditutupi, daya beli masyarakat luluh lantak. Ini jelas tak masuk akal, dengan penduduk sebanyak 261 juta jiwa dan angka kelahiran tiap tahunnya sebesar 4 juta orang. Pertanyaanya lalu apakah jutaan orang itu tidak butuh beli makan dan minum? Seharusnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga bisa di atas 5 persen.

Begitu juga sektor andalan yakni industri pengolahan hanya tumbuh dikisaran 3-4,8 persen per triwulanan. Angka itu bahkan di bawah pertumbuhan ekonomi yang tercatat 5,06 persen. Ini pertanda pemerintah sibuk membangun infrastruktur lalu lupa membangun industri pengolahan. Buktinya porsi industri pengolahan terhadap PDB terus anjlok hingga di bawah 20 persen. Pak Jokowi perlu malu dengan Pak Harto yang mampu meningkatkan share industri hingga 27 persen terhadap PDB. Di era Jokowi, blusukan lebih mengecek kokohnya kerangka bangunan jembatan dibanding menyapa para pelaku industri di pabrik. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan             Investor Tak Hanya Andalkan Peringkat Daya Siang