White Coffee, Aman untuk Lambung tapi Bahaya untuk Gula Darah
berita

31 October 2019 09:30
Watyutink.com - Salah satu minuman yang saat ini populer adalah whaite coffee atau kopi putih. Orang-orang yang dulunya bukan peminum kopi, tiba-tiba jadi ‘tergila-gila’ pada white coffee.

Tapi, tahukah Anda apa itu white coffee atau kopi putih? 

Nama White Coffee memang diambil dari biji kopi yang berwarna putih. Meskipun tidak benar-benar putih melainkan pucat kecoklatan. Berbeda dengan biji kopi biasa yang berwarna hitam. Warna putih juga berasal dari susu yang dicampurkan pada white coffee. 

Pada awalnya white coffee dibuat dari biji kopi yang digiling bersama dengan minyak kelapa sawit, margarin, atau minyak zaitun. Setelah digiling, kopi akan diseduh bersama dengan susu kental dan air yang sangat panas. Untuk mendinginkan, biasanya barista akan “menarik” kopi ini sehingga rasanya menyatu dan muncul buih-buih alami. Cara menarik white coffee mirip dengan pembuatan teh tarik atau kopi Aceh.

Untuk mempermudah penyajian, saat ini white coffee dibuah dalam bentuk serbuk atau bubuk instan. Penikmat kopi hanya perlu menyeduhnya dengan air panas. 

Produsen mengklaim white coffee lebih aman untuk lambung karena kandungan kafeinnya lebih sedikit dibandingkan kopi hitam. Seperti diketahui kafein adalah zat yang bisa menimbulkan berbagai masalah pencernaan seperti mual, muntah, diare, dan penyakit irritable bowel syndrome (IBS).

Dalam proses pembuatan white coffee, biji kopi diolah dengan suhu yang rendah agar kandungan kafein dalam kopi tersisa sedikit. Rasanya pun jadi tidak terlalu asam dan lebih lembut. 

Namun kandungan kafein yang lebih rendah bukan jaminan kopi putih jadi lebih sehat. Perlu diingat, white coffee diolah dengan campuran minyak kelapa sawit, margarin, atau minyak zaitun. Akibatnya white coffee mengandung lemak jenuh dan tak jenuh yang lebih banyak dari kopi hitam. Secangkir white coffee mengandung kira-kira lima gram lemak jenuh dan tujuh gram lemak tak jenuh. Selain itu susu yang ditambahkan juga akan meningkatkan kandungan lemak pada kopi putih. 

Terlebih white coffee yang banyak beredar saat ini adalah kopi bubuk instan yang seringkali ditambahi gula atau pemanis buatan. Kelebihan gula berisiko menyebabkan gangguan metabolisme, nafsu makan sulit dikendalikan, dan naiknya gula darah hingga kencing manis atau diabetes. 

Jadi, batasi konsumsi white coffee hingga paling banyak dua cangkir sehari. Sebaiknya Anda juga memilih produk yang tidak mengandung gula tambahan.

 

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Teguh Santoso, S.E., M.Sc.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies

Salamudin Daeng

Anggota Institute Sukarno for Leadership Universitas Bung Karno (UBK)

FOLLOW US

Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!             Perekonomian Dunia Masih Dihantui Ketegangan dan Ketidakpastian             Revisi Aturan-aturan yang Tidak Pro Kepada Nelayan!             Kebijakan KKP yang Baru Harus Didukung             Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS