Tiba-tiba Pusing dan Kesemutan, Jangan Anggap Sepele Bisa Jadi Anda Terserang TIA
berita

12 June 2019 17:00
Watyutink.com – Pernahkah Anda mengalami tiba-tiba pusing dan kesemutan hingga kaki atau tangan terasa kebas atau baal? Jika pernah, jangan anggap hal itu sepele. Bisa jadi Anda terkena gejala Transient Ischemic Attack atau TIA.

Sebaiknya segera lakukan upaya pencegahan untuk menghindari akibat yang lebih buruk. Pasalnya TIA bukan gangguan kesehatan sederhana.

Tahukah Anda, apakah Transient Ischemic Attack atau TIA?

Transient Ischaemic Attack atau TIA sering pula disebut sebagai stroke ringan. Pasalnya serangan TIA mirip dengan stroke namun dalam waktu yang lebih singkat. Terlebih efek dari serangan TIA bisa pulih dengan sendirinya dalam tempo satu hari.

Secara umum, TIA mengindikasikan adanya gangguan dalam tubuh. TIA adalah kondisi dimana terjadi gumpalan yang menyumbat saluran darah di otak. Gumpalan tersebut mungkin hanya berukuran kecil tapi menghambat aliran darah di otak. Gumpalan ini bisa berupa lemak atau gelembung udara.

Akibat sumbatan tersebut selain menghambat aliran darah juga memicu kekurangan oksigen pada otak. Hal inilah yang menyebabkan terganggunya fungsi otak. Namun berbeda dengan stroke yang menimbulkan kerusakan permanen, TIA hanya menyebabkan gangguan sementara. Gumpalan yang menyumbat aliran darah akan hancur dengan sendirinya dan otak akan berfungsi normal kembali.

Beberapa faktor yang menjadi pemicu serangan TIA antara lain adalah usia. Pasalnya TIA seringkali menyerang orang yang berusia lebih dari 55 tahun. Terlebih jika ada riwayat anggota keluarga yang pernah menderita TIA. Selain itu laki-laki lebih rentan terserang TIA dibandingkan wanita.

Namun faktor terbesar pemicu serangan TIA adalah pola hidup yang buruk. Kebiasaan merokok, minum minuman keras, dan obat terlarang menjadi faktor utama penyebab TIA. Kondisi ini diperburuk dengan kurangnya berolah raga. Selain itu mengkonsumsi makanan asin dan berlemak juga menjadi pemicu serangan stroke ringan ini.

Penyakit-penyakit lain seperti jantung, kalesterol, hipertensi, diabetes, dan obesitas juga bisa memperburuk kondisi. Selain itu seseorang yang sudah pernah mengalami TIA juga berisiko terserang gejala yang sama.

Secara umum gejala awal yang mengindikasikan serangan TIA tidak berbeda dengan dengan indikasi awal serangan stroke. Gejala-gejala serangan ini antara lain salah satu sisi mulut dan wajah terlihat turun. Lengan, tangan, dan kaki menderita kelumpuhan secara tiba-tiba juga bisa menjadi pertanda serangan TIA.

Selain itu tiba-tiba sulit berbicara dengan jelas dan sulit pula memahami kata-kata orang lain. Keseimbangan tubuh seketika hilang dan seringkali mengakibatkan pusing. Pandangan mata pun mendadak kabur. Penderia TIA juga kerap mengalami kesulitan menelan.

Untuk itu guna menghindari serangan TIA, pencegahan sejak dini perlu dilakukan. Pencegahan ini sangat bermanfaat bagi semua orang, terutama mereka yang memiliki risiko tinggi. Langkah pencegahan yang harus dilakukan antara lain dengan menerapkan pola hidup sehat. Mulailah dengan menerapkan pola makan sehat dan seimbang. Batasi asupan garam dan lemak. Gantilah dengan banyak mengonsumsi makanan yang kaya serat seperti buah dan sayuran.

Hentikan kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman keras dan obat terlarang. Isilah hari-hari dengan kegiatan positif seperti rajin olah raga serta kegiatan fisik yang dapat menguras tenaga. Lakukan setidaknya 2,5 jam dalam seminggu.

Bagi Anda yang memiliki tubuh gemuk, segeralah lakukan upaya penurunan berat badan. Pasalnya obesitas adalah faktor pemicu serangan TIA. Selain itu, menjaga berat badan juga bisa menghindarkan tubuh dari penyakit lain seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi.

Segera lakukan pola hidup sehat agar terhindar dari TIA. Lakukan TIA atau Take Immediate Action untuk menghindari TIA atau Transient Ischemic Attack.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi