Sering Dihindari, Bau Kentut Ternyata Bisa Cegah Stroke dan Gangguan Hati
berita

06 November 2019 16:35
Watyutink.com – Selama ini kita sering sebel atau jengkel jika ada orang yang kentut atau buang angin, terutama saat berada di ruangan tertutup. Bau kentut yang tidak sedap dipastikan merusak suasana. Beberapa orang bahkan harus keluar ruangan untuk mencari udara segar dan menghindari kondisi yang lebih parah, seperti muntah dan sebagainya.

Kentut memang selalu dihindari. Padahal sebetulnya ada beberapa manfaat dari buang angin atau kentut. Bukan hanya bagi yang buang angin, orang yang menghirup aroma kentut pun mendapat manfaat.

Tahukah Anda, apa manfaat kentut?

Sebuah penelitian yang dilakukan Mecdicinal Chemistry Communicatioan, dari University of Exeter, Inggris menyebut mencium bau kentut ternyata bisa mengurangi risiko penyakit stroke dan  gangguan organ hati. Selain itu bau kentut juga bisa menghindarkan orang yang menghirupnya dari penyakit arthritis, yakni penyakit kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami pembengkaan dan kekakuan sendi. Penyakit yang kerap menyerang orang berusia di atas 55 tahun ini menyebabkan tubuh sulit bergerak.  

Para peneliti menjelaskan, kandungan hidrogen sulfida dalam kentut dapat melindungi sel mitokondria dari kerusakan. Mitokondria adalah salah satu organel sel yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya respirasi sel pada makhluk hidup. Kerusakan mitokondria dapat menyebabkan sel tidak dapat berfungsi normal, menua, bahkan mati. Akibatnya tubuh akan kekurangan energi.

Sedangkan bagi orang yang mengeluarkannya, kentut berfungsi sebagai cara mengatasi perut kembung, yakni kondisi akibat udara tidak bisa keluar dari saluran pencernaan. Jika tidak segera ditangani, kembung akan menyebabkan begah, perut tidak nyaman hingga kondis yang lebih parah. Itulah sebabnya kentut adalah salah satu cara membuat tubuh, terutama perut menjad lebih nyaman.

Buang angin juga bermanfaat untuk menghilangkan distensi usus, yakni kondis yang menyebabkan perut terasa nyeri. Untuk mengetasi distensi usus, tubuh akan secara otomatis bereaksi dengan menghasilkan gas. Anda bisa mengatasi distensi usus dengan menekan-nekan perut sampai kentut keluar.

Bagi Anda yang sedang menjalani program diet atau penurunan berat badan, jangan ragu untuk kentut. Pasalnya buang angin adalah salah satu cara menyeimbangkan diet. Kentut bisa menjadi pengingat akan sebuah kondisi, misalnya kentut berbau busuk menandakan konsumsi daging yang berlebihan. Sehingga  Anda akan mengurangi konsumsi daging.

Kentut juga berguna menjaga kesehatan usus besar. Pasalnya kentut adalah reaksi alami tubuh dalam menjaga kesehatan, terutama organ pencernaan seperti usus. Itulah sebabnya tindakan menahan kentut sangat tidak dianjurkan. Jangan karena alasan malu, kita menahan buang angin yang justru merugikan kesehatan.

Bahkan beberapa ahli kesehatan menyebut menahan kentut bisa menyebabkan tekanan darah meningkat dan jantung berdenyut lebih cepat. Itulah sebabnya sering menahan buang angin juga bisa memicu hipertensi atau tekanan darah tinggi dan serangan stroke. Selain itu usus juga bisa menggelembung akibat sering menahan kentut.

Meski demikian, Anda sebaiknya ‘sadar diri’ jika ingin kentut. Jika sedang berada di sebuah pertemuan atau berkumpul bersama orang banyak, carilah tempat sepi atau keluarlah dari ruangan, dan lalu kentutlah.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah