Sering Dianggap Radang Tenggorokan, Penyakit Difteri Bisa Sebabkan Kematian
berita

25 November 2019 16:05
Watyutink.com – Salah satu penyakit yang cukup berbahaya adalah difteri. Bahkan dalam kondisi parah, difteri bisa berujung kematian. Sayangnya, penyakit ini sering disepelekan. Difteri kerap dianggap sebagai radang tenggorokan biasa yang bisa disembuhkan dengan segera.

Tahukah Anda, apa itu penyakit difteri?

Difteri adalah penyakit yang ditandai dengan infeksi bakteri pada hidung dan tenggorokan. Tanda-tanda yang kerap muncul pada penyakit ini tak beda dengan penyakit tenggorokan pada umumnya, seperti sakit tenggorokan, suara serak, batuk, pilek, demam disertai menggigil, dan tubuh terasa lemas. Selanjutnya  akan muncul selaput berwarna abu-abu yang melapisi tenggorokan dan amandel.

Jika tidak segera ditangani bakteri difteri akan menjadi racun yang merusak organ tubuh yang lain, seperti ginjal, jantung, dan otak. Racun yang dibawa bakteri difteri akan menyebarke seluruh tubuh melalui aliran darah. Akibatnya terjadi komplikasi yang merusak otot jantung dan menimbulkan radang otot jantung atau miokarditis. Peradangan ini dapat memicu gagal jantung yang menyebabkan kematian.

Racun difteri juga dapat merusak saraf, terutama yang terdapat di tenggorokan. Akibatnya penderita difteri mengalami kesulitan menelan dan bernafas. Selain itu saraf yang ada di lengan dan kaki juga akan menderita peradangan  dan menyebabkan fungsinya menjadi lemah.

Jika mengalami gejala-gejala seperti tersebut, sebaiknya segeralah memeriksakan diri ke dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Penyebab utama difteri adalah bakteri corynebacterium diphtheriae yang bekembang biak di permukaan selaput lendir tenggorokan. Itulah sebabnya penyakit difteri bisa menular melalui kontak udara dengan penderitanya. Ketika penderita difteri batuk atau bersin, udara yang mengandung bakteri akan dilepaskan. Itulah sebabnya orang yang berada disekitarnya akan berisiko terkontaminasi atau tertular penyakit difteri.

Selain itu difteri juga menular melalui kontak barang. Benda-benda, seperti gelas, handuk, atau benda lain yang tersentuh penderita difteri cenderung mengandung bakteri crynebacterium diphtheriae. Jika orang lain menyentuh benda-benda itu, mereka sangat berisiko terserang difteri. Jika penderita difteri mengalami luka terbuka, jangan sampai luka tersebut tersentuh. Pasalnya hal itu sangat berisiko menularkan bakter crynebacterium diphtheriae.

Salah satu bentuk pencegahan penyakit ini adalah dengan imunisasi. Itulah sebabnya anak-anak yang berusia dua hingga 18 bulan wajib mendapat vaksiniasi atau imunisasi difteri, pertusis, dan tetanus (DPT). Imunisasi dilanjutkan hingga mencapai usia lima tahun.

Untuk memberikan perlindungan lebih optimal, pada anak berusia 10, 12 dan 18 tahun perlu diberikan vaksin Tdap dan Td, yakni sejenis vaksin DPT. Khusus untuk vaksi Td pemberikan bisa dilakukan setiap 10 tahun.

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir