Sejarah Hari Ini : KH Ahmad Dahlan Dirikan Muhammadiyah di Kampung Kauman, Yogyakarta
berita
Masjid Gedhe Kauman tempo dulu (Dok SM)
18 November 2019 15:49
Watyutink.com – Hari ini, 18 November 2019, 107 tahun silam lahirlah salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Saat itu, 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912 M, KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah di Kampung Kauman, Yogkakarta. Organisasi Muhammadiyah saat itu didirikan dengan tujuan melakukan pemurnian sekaligus pembaruan Islam di Nusantara.

Menurut H Djarnawi Hadikusuma, secara bahasa kata ‘Muhammadiyah’ artinya adalah pengikut Nabi Muhammad SAW. Hal ini dinisbahkan atau di hubungkan dengan ajaran dan perjuangan Nabi Muhammad SAW. Sehingga Muhammadiyah dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa pengukung organisasi ini adalah umat Nabi Muhammad SAW dan azasnya adalah ajaran Nabi Muhammad SAW, yakni agama Islam.  

Kelahiran Muhammadiyah pada awalnya memang tidak lepas dari manifestasi dari gagasan pemikiran dan perjuangan KH Ahmad Dahlan. Setelah menunaikan haji ke Tanah Suci pada 1903, ulama yang juga bernama Muhammad Darwis itu mulai menyampaikan benih pembaruan di Nusantara. Gagasan pembaruan tersebut diperoleh saat kyai Dahlan berguru kepada ulama-ulama asal Indonesia yang bermukim di Makkah, Arab Saudi seperti, Syech Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah asal Surabaya, dan Kyai Faqih Maskumambang dari Gresik.

Kyai Dahlan juga belajar dan membaca pemikiran-pemikiran dari para pembaru Islam seperti Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Selama bermukim di Arab Saudi, Kyai Dahlan kerap berinteraksi dengan karya-karya para pembaru tersebut dan menanamkan benih pembaruan. Itulah sebabnya, sekembalinya ke Tanah Air, Kyai Dahlan membawa ide pembaruan dan bukan gerakan konservatif.  

Di Tanah Air, Kyai Dahlan juga berinteraksi dengan teman-temannya dari Boedi Oetomo yang tertarik dengan masalah agama, seperti R. Budihardjo dan R. Sosrosugondo. Ahli sejarah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Adaby Darban, menjelaskan nama ‘Muhamadiyah’ semula diusulkan oleh Muhammad Sangidu, sahabat sekaligus kerabat Kyai Dahlan.

Akhirnya setelah melakukan sholat istikharah, Kyai Dahlan memutuskan mendirikan Muhammadiyah dengan dimensi spiritualitas yang tinggi seperti tradisi para kyai dan dunia pesantren.

Kyai Dahlan memimpin Muhammadiyah sampai 1923. Selama itu, pengaruh organisasi berlogo lafal Muhammadiyah dalam bintang bersudut 12 itu masih sebatas karisidenan di Jawa, seperti Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan. Pada 1925, Abdul Karim Amrullah, ayahanda dari Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka, membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat. Dalam waktu singkat Muhammadiyah sudah tersebar ke seluruh Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Paa 1938 organisasi ini sudah tersebar ke seluruh Indonesia.

Saat ini Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi masyarakat yang bergerak dibidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. Berdasarkan data yang ada, Muhammadiyah memiliki lebih dari 10 ribu lembaga pendidikan, terdiri dari 4.423 TK, 2.604 SD, 1.772 SMP, 1.143 SMA, 172 Perguruan Tinggi, dan 67 Pondok Pesantren. Lembaga pendidikan tersebut tersebar dari Aceh hingga Papua,

Sedangkan lembaga kesehatan Muhammadiyah sebanyak 2.119, terdiri dari rumah sakit, rumah bersalin, dan sebagainya. Panti asuhan milik Muhammadiyah sebanyak 318, Panti Jompo sebanyak 54, dan rehabilitasi cacat sebanyak 82.

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir