Sejarah Hari Ini : Jembatan Mahakam di Kalimantan Timur Ambruk Tewaskan Puluhan Orang
berita
Sumber Foto : tribunnews.com
26 November 2019 15:34
Watyutink.com – Hari ini, 26 November 2019 akan selalu dikenang olah masyarakat Kalimantan Timur, khusunya warga Tenggarong, Kutai Kartanegara sebagai hari kelam. Pasalnya delapan tahun lalu sebuah musibah menimpa salah satu icon Kalimantan Timur. Jembatan Mahakam ambruk dan menewaskan 24 orang, 12 orang luka berat dan delapan orang luka ringan. Sedangkan 31 orang dinyatakan hilang.

Jembatan gantung terpanjang di Indonesia tersebut mulai dibangun pda 1995 dan baru diresmikan pada 2001. Total dana yang dikeluarkan untuk pembangunan jambatan yang berbentuk mirip jembatan Golden Gate di San Francisco, Amerika Serikat itu sebesar Rp150 miliar.

Jembatan Mahakam amburk pada pukul 16.00 WIB saat lalu lintas diatasnya sedang ramai. Pasalnya jembatan yang menghubungangkan Kota Samarinda dan Tenggarong itu selalu ramai dilalui kendaraan roda empar dan dua. Dari total 710 meter panjang jembatan, 270 meter diantaranya tercebur ke Sungai Mahakam serta hanya menyisakan dua tiang penyangga  dan kabel bentang atas.

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat itu, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya menyebut saat runtuh Jembatan Mahakam sedang dalam proses perawatan. Baut jembatan saat itu sedang dikencangkan dan dikendurkan. Saat itulah secara tiba-tiba kabel atau tali besi penyangga jembatan putus. Akibatnya jembatan runtuh dalam waktu sekitar 30 detik.

Sangat disayangkan ketika sedang dalam proses perawatan, arus lalu lintas tidak dialihkan. Akibatnya saat jembatan runtuh, kendaraan yang melintas ikut tercebur ke Sungai Mahakam beserta penumpangnya.

Para ahli menyebut ambruknya Jembatan Mahakam akibat kegagalan struktur. Ahli konstruksi dari Institut Teknologi 10 November (ITS) Surabaya, Hidajat Sugohardjo mengatakan pylon jembatan telah bergeser. Hal ini diketahui dari blok angkur yang juga bergeser dari posisi yang seharusnya. Akibatnya gelagar atau girder melengkung hinggga 72 sentimeter ke bawah. Hidajat yakin kondisi ini terjadi akibat akumulasi sejak jembatan tersebut berdiri.

Sedangkan ahli konstruksi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Bambang Suhendro mengatakan sistem sambungan kabel utama juga mengalami kegagalan. Beberapa faktor yang menyebabkannya antara lain karena retakan sistem sabungan akibat karat.

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Teguh Santoso, S.E., M.Sc.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir