Sejarah Hari Ini : I Gusti Ngurah Rai Pimpin Puputan Margarana Usir Penjajah Belanda
berita

20 November 2019 16:30
Watyutink.com – Hari ini, 20 November 2019, adalah hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Pulau Dewata, Bali. Pasalnya, 73 tahun silam terjadi peristiwa besar yang menorehkan sejarah perjuangan masyarakat Bali dalam mengusir penjajah Belanda. Peristiwa yang terjadi pada 20 November 1946 itu adalah Puputan Margarana yang dipimpin Kolonel I Gusti Ngurah Rai.

Dalam buku “Jejak-Jejak Pahlawan” karya Sudarmanto diceritakan I Gusti Ngurah Rai mendapat tugas membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di wilayah Bali. Tujuannya untuk menahan agresi militer Belanda yang ingin kembali menguasai Bali setelah ditinggal tentara Jepang yang kalah perang.

Ngurah Rai lalu membentuk pasukan Sunda Kecil, sebutan wilayah Bali dan Nusa Tenggara saat itu, dengan nama Ciung Wanara. Sebelumnya Ngurah Rai terlebih dahulu berkonsultasi dengan Markas Besar TKR di Yogyakarta. Ternyata saat kembali ke Bali, Ngurah Rai mendapati pasukan Belanda telah mendarat di Bali. Sedangkan pasukan Ciung Wanara yang dibentuknya telah terpecah menjadi pasukan-pasukan kecil. Ngurah Rai pun berusaha mengumpulkan dan menyatukan pasukannya.

Sebelumnya, Belanda telah menawatkan kepada Ngurah Rai untuk bekerja sama. Namun tawaran berunding yang diajukan Kapten JMT Kunie itu ditolak mentah-mentah. Ngurah Rai berdalih perundingan hanya dilakukan oleh pemimpin Indonesia di Jawa. Bali menurutnya bukan tempat untuk berunding dan kompromi. Ngurah Rai menegaskan, rakyat ingin Belanda segera pergi meninggalkan Pulau Bali.

Mendapat penolakan, Belanda justru menambah kekuatan dengan mendatangkan pasukan dari Lombok dan menguasai Tabanan. Mengetahui rencana tersebut, Ngurah Rai segera memindahkan pasukan ke Desa Marga yang berada di sebelah timur Tabanan.   

Tentara Belanda pun berusaha mengejar pasukan Ciung Wanara. Hingga pada 20 November 1946 terjadi pertempuran hebar antara pasukan Ciung Wanara pimpinan I Gusti Ngurah Rai melawan tentara Belanda di Desa Marga. Semula pasukan Ciung Wanara berhasil memukul mundur tentara Belanda.

Namun Belanda terus menambah jumlah tentara dilengkapi persenjataaan modern dan didukung pesawat tempur. Akhirnya pasukan Ciung Wanara terdesak dan terjepit di lahan persawahan di kawasan Kelaci, Desa Marga. Dalam kondisi itulah, Ngurah Rai menyerukan pertempuran habis-habisan atau puputan. Bagi rakyat Bali, lebih baik mati sebagai kesatria daripada jatuh ke tangan penjajah.

Akhirnya pada malam hari, tanggal 20 November 1946 I Gusti Ngurah Rai dan pasukan Ciung Wanara gugur dalam pertempurn yang kemudian dikenal sebagai Puputan Margarana. Peristiwa itu pun dikenang sebagai sejarah dan tonggak penting perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah.

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Teguh Santoso, S.E., M.Sc.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir