Negara yang Sukses dan Gagal Pindahkan Ibu Kota
berita
Sumber Foto : Sindonews.com
06 September 2019 14:45
Watyutink.com - Presiden Joko Widodo telah resmi menunjuk lokasi di Provinsi Kalimantan Timur sebagai lokasi Ibu Kota baru menggantikan DKI Jakarta. Jauh sebelum Indonesia, tercatat Kekaisaran Byzantium dan Kekaisaaran Romawi tercatat sebagai pencetus terjadinya pemindahan ibu kota. Pemindahan ibu kota telah terjadi di beberapa negara, namun tidak semua dianggap sukses memindahkan ibu kotanya.

Tahukah Anda Negara mana saja yang dianggap sukses dan gagal memindah ibu kotanya?

Sukses

Amerika Serikat (1800) dari New York ke Washington DC. Pemindahan ini sebagai bentuk imbal balik pembayaran hutang mengingat saat itu Amerika Serikat terlilit hutang akibat perang dengan Inggris, serta menghindari pemusatan kekuasaan. Kini Washington DC menajdi pusat pemerintahan di Amerika Serikat.

Finlandia (1812) dari Turku ke Helsinki. Alasan pemindahan ini karena Raja Alexander l yang saat itu memimpin Finlandia menganggap Turku terlalu bersekutu dengan Swedia. Pemindahan ibu kota ini pun diikuti pemindahan seluruh lembaga pemerintahannya. Kini Helsinki telah menjadi pusat perekonomian dan berhasil memenangkan berbagai penghargaan.

India (1912) dari Kolkata ke New Delhi. Pemindahan ini beralasan New Delhi berada di lokasi yang strategis di tengah-tengah India. Pemindahan ini pun berlangsung mudah karena kedua lokasi tersebut berdekatan. New Delhi kini menjadi pusat perekonomian di India.

Australia (1927) dari Melbourne ke Canberra. Alasan pemindahan ini karena Canberra dinilai lebih memenuhi kriteria sebagai ibu kota, salah satunya memiliki taman kota dan terletak diantara Meulbourne dengan Sydney. Canberra kini tumbuh dengan berbagai inovasi sehingga ideal untuk tinggal. Selain itu Canberra menyabet penghargaan kota terbaik ketiga di dunia untuk dikunjungi.

Baca Juga

Pakistan (1967) dari Karachi ke Islamabad. Pemindahan dikarenakan Karachi yang menjadi pusat perdagangan sudah tidak layak manjadi ibu kota. Pemindahan ini pun dianggap cukup representatif mengingat Islamabad berada di lokasi yang strategis, luas, lingkungan bersih, serta memiliki akses yang mudah. Islamabad kini telah berubah menjadi kota dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat serta layak dijadikan sebagai tempat tinggal.

Nigeria (1991) dari Lagos ke Abuja. Abuja dinilai memenuhi kriteria untuk dijadikan ibu kota. Selain untuk menghindari tensi politik saat itu, Abuja memiliki akses yang mudah, penduduk yang ramah, serta iklim yang mendukung. Kini Abuja menjadi kota dengan pertumbuhan tercepat di Nigeria.

Gagal

Brasil (1960) dari Rio de Janeiro ke Brasilia. Terlalu padat menjadi alasan pemindahan ibu kotanya. Namun pemindahan ini dianggap gagal karena perbedaan kelas menegah ke bawah dan kaum elit justru makin terasa.

Tanzania (1961) dari Dar es Salaam ke Dodoma. Lokasi yang strategis dijadikan alasan untuk memindahkan ibu kota. Namun pemindahan ini dianggap gagal karena perkembangan di lokasi tersebut berjalan lambat.

Malaysia (1999) dari Kuala Lumpur ke Putrajaya. Terlalu padat menjadi alasan pemindahan ibu kota. namun pemindahan ini dianggap gagal karena pegawai pemerintah enggan pindah ke Putrajaya, dan secara de facto pusat pemerintah dan perekonomian tetap berada di Kuala Lumpur.

Myanmar (2005) dari Yangon ke Naypidaw. Alasan pemindahan ibu kota ini adalah untuk menghindari kemacetan dan kepadatan penduduk. Tapi pemindahan dianggap gagal karena di lokasi tersebut minim aktivitas karena sepi penduduk.

Korea Selatan (2005) dari Seoul ke Sejong City. Alasan pemindahan ini yaitu untuk membangun pusat perekonomian baru. Pemindahan ini dianggap gagal karena pemindahan berjalan lambat dan masih banyak kantor pemerintah belum pindah ke ibu kota yang baru. Selain itu hingga saat ini seoul masih menjadi pusat pemerintahan, perekonomian, dan hiburan.

(Zaki)

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

M. Rizal Taufikurahman, Dr.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-2)             Perlu Revisi Undang-Undang dan Peningkatan SDM Perikanan di Daerah             Antisipasi Lewat Bauran Kebijakan Fiskal – Moneter             Perkuat Industri Karet, Furnitur, Elektronik Hadapi Resesi             Skala Krisis Mendatang Lebih Besar dari 1998