Mengenal Henti Jantung Mendadak, Kondisi yang Sebabkan Aliran Darah Tubuh Berhenti
berita
Henti Jantung Mendadak
08 October 2019 16:45
Watyutink.com – Banyak orang yang belum memahami kondisi jantung berhenti berdetak. Orang sering menyamakan kasus yang sering disebut henti jantung ini dengan serangan jantung. Padahal kedua kondisi tersebut berbeda. Sehingga penanganannya pun berbeda.

Tahukah Anda, apa itu henti jantung dan bangaimana penanganannya?

Henti jantung atau Cardiac Arrest adalah kondisi saat detak jantung tiba-tiba berhenti. Hal ini terjadi akibat gangguan listrik di jantung yang mengakibatkan fungsi jantung memompa darah terhenti. Akibatnya aliran darah ke seluruh tubuh juga berhenti.

Kondisi ini berbeda dengan serangan jantung yang disebabkan penyumbatan pembuluh darah. Henti jantung juga diakibatkan oleh gangguan irama jantung, terutama akibat penyakit ventrikel fibrasi.

Henti jantung mendadak biasanya terjadi pada orang yang memiliki riwayat penyakit jantung seperti, jantung koroner, kardiomiopati atau penyakit otot jantung, gangguan katup jantung, dan penyakit jantung bawaan.

Selain itu henti jantung juga kerap menyerang pria berusia di atas 45 tahun atau wanita berusia di atas 55 tahun. Para perokok, penderita obesitas, darah tinggi, dan diabetes juga rentan terserang henti jantung.  

Dokter spesialis jantung dari RS Siloam Karawaci, dr Vito A Damay menjelaskan henti jantung dapat mengakibatkan organ tubuh lainnya rusak, terutama otak. Jika salah dalam menangani, henti jantung bisa mengakibatkan kematian. Itulah sebabnya, dr Vito mengatakan penanganan pertama kasus henti jantung perlu diketahui semua orang. Hal ini guna mencegah kondisi yang lebih fatal.

Saat mengisi acara Idea Fest, di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (6/10/2019) dr Vito menambahkan beberapa langkah perlu diketahui orang awam guna memberikan pertolongan kepada orang yang terkena henti jantung, termasuk ketika berada di tempat umum.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah segera memanggil bantuan untuk menangani korban. Tindakan ini dilakukan sebelum membawa korban ke rumah sakit. Kedua, menurut dr Vito perlu dicek respon dan kesadaran korban. Perhatikan nafas dan cek nadi disekitar area leher. Jika dalam waktu 10 detik tidak terlihat nadinya maka bisa dilakukan pertolongan melalui Cardiopulmonary Resuscitation atau CPR.

CPR perlu dilakukan dengan cara tekan dada bagian atas menggunakan ujung tangan yaitu dekat pergelangan tangan dan ditindih dengan tangan satunya. Vito menjelaskan saat menekan pastikan gunakan kekuatan mendalam dan cepat.

Idealnya tekanan dilakukan sebanyak 30 kali dan disertai dua kali napas buatan melalui mulut. Namun jika melakukan napas buatan pastikan dilakukan oleh orang yang mengenal korban. Pijatan atau tekanan di dada dilakukan sebanyak 100 hingga 120 kali tiap menit dengan kecepatan konstan atau tetap.

Sebaiknya pertolongan CPR tidak hanya dilakukan oleh satu orang. Pasalnya jika sudah melakukan sebanyak lima kali, sebaiknya CPR dilakukan oleh orang berbeda. Penanganan pertama menggunakan CPR yang benar membuat korban memiliki harapan hidup hingga 45 persen dibandingkan jika tidak mendapat pertolongan.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Eko Listiyanto

Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

FOLLOW US

Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas