Mengenal Gempa Bumi, Jenis dan Penyebabnya
berita

15 November 2019 14:50
Watyutink.com – Gempa bumi kembali melanda tanah air. Jumat (15/11/2019) dini hari gempa berkekuatan magnitido 7,1 mengguncang Halmahera Barat, Maluku Utara. Semula Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatn tsunami. Namun beberapa saat kemudian, BMKG mencabut peringatan tersebut.

Meski demikian, gempa susulan dengan kekuatan lebih rendah masih kerap terjadi. Hingga pukul 11.30 WITA, setidaknya terjadi 89 kali gempa susulan dengan magnitudo tertinggi 5,0.

Gempa bumi memang kerap terjadi di Indonesia. Sebelum gempa yang menimpa Maluku Utara, bencana serupa telah melanda Lombok dan Palu. Korban jiwa pun berjatuhan, kerusakan bangunan dan sarana umum lainnya pun tak terelakkan.

Tahukah Anda, bagaimana gempa bumi bisa terjadi?

Gempa bumi adalah getaran-getaran yang terjadi dipermukaan bumi akibat pelepasan energi dalam dalam bumi secara tiba-tiba. Gempa bumi juga bisa terjadi akibat pergerakan lempeng atau kerak bumi. Getaran yang terjadi berbeda-beda kekuatannya, tergantung seberapa dalam pusat gempanya di dalam perut bumi.

Kekuatan gempa bumi biasanya diukur menggunakan alat bernama seismometer. Skala yang digunakan mengukur kekiatan gempa disebut magnitudo. Gempa terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah terjadi di Chili pada 1960 dengan kekuatan magnitido 9,5. Sedangkan di Indonesia, gempa terkuat pernah terjadi Aceh pada 2004 dengan kekuatan magnitudo 9,1. Gempa ini diikuti gelombang tsunami hebat. Lebih dari 200 ribu orang menjadi korban dalam bencana dahsyat ini.

Berdasarkan penyebabnya, gempa bumi bisa dibagi dalam tiga jenis. Pertama, gempa bumi tektonik, yakni gempa bumi akibat pergeseran lempeng bumi. Gempa tektonik bisa terjadi dengan kekuatan kecil hingga besar. Jika pusat gempa tektonik berada di laut seringkali disertai gelombang tsunami, seperti yang menimpa Aceh.

Jenis gempa yang kedua adalah gempa bumi vulkanik. Gempa ini adalah getaran atau goncangan yang terjadi akibat aktivitas vulkanik gunung berapi. Biasanya gempa vulkanik terjadi beberapa saat sebelum gunung meletus. Gempa vulkanik terjadi akibat adanya tekanan gas yang sangat besar pada sumbatan kawah gunung berapi.

Selanjutnya ada pula gempa bumi tumbukan, yakni getaran yang terjadi akibat adanya meteor atau asteorid yang jatuh atau menabrak permukaan bumi. Meski jarang terjadi, gempa bumi tumbukan bisa menimbulkan getaran yang cukup keras.

Sedangkan berdasarkan kedalaman, gempa bisa dibedakan dalam tiga jenis. Pertama  gempa bumi dalam yakni gempa dengan hiposentrum atau pusat gempa berada di kedalaman lebih dari 300 kilometer di bawah permukaan bumi. Gempa bumi dalam umumnya tidak terlalu berbahaya.

Selanjutnya adalah gempa bumi menangah, yakni gempa dengan hiposentrum berada dikedalaman 60 kilometer hingga 300 kilometer di bawah permukaan bumi. Gempa ini biasanya hanya menimbulkan kerusakan ringan.

Jenis ketiga, adalah gempa bumi dangkal, yakni gempa dengan hiposentrum kurang dari 60 kilometer di permukaan bumi. Gempa inilah yang kerap menimbulkan kerusakan dan korban jiwa besar.

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir