Mengapa Bendera Indonesia Merah Putih?
berita

15 August 2019 11:30
Bendera Merah Putih, bendera kebangsaan sekaligus kebanggaan kita. Pernah enggak sih kepikiran, kenapa warna bendera Indonesia Merah Putih? Kenapa bukan warna lain, hijau misalnya menggambarkan kesuburan. Atau biru melambangkan laut, sebab terkenal ‘nenek moyangku seorang pelaut’.

Setelah coba ditelurusi, ternyata warna merah dan putih tidak muncul begitu saja. Atau para founding fathers kita sedang iseng bermain dengan warna. Atau sengaja merobek atau mengilangkan warna biru dari bendera Belanda atau bahkan mencontek warna bendera Jepang yang juga terdiri dari warna merah dan putih.

Tahukah Anda, ternyata warna bendera merah putih memiliki sejarah yang panjang?

Sejak abad ke-7M hingga sekarang terdapat tiga sejarah penting di Nusantara. Ketiga Negara Nusantara tersebut yakni Kerajaan Sriwijaya-Syailendra (kira-kira 600-1178 M), Kerajaan Tumapel Majapahit (1222-1521 M) dan Republik Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 M hingga sekarang.

Rentang waktu yang panjang itu, warna Merah-Putih sering dikenal sebagai bentuk lambang kemuliaan seperti kembang tunjung-teratai Merah-Putih, keraton Merah-Putih, garuda Merah-Putih, aksara Merah-Putih di beberapa candi, lukisan pahat Hanuman-Api di Candi Prambanan dan Candi Panataran.

Selain itu ada beberapa pemuliaan Merah-Putih di antaranya bubur beras abang-putih di Pulau Jawa, bubur sagu merah-putih di Papua. Serta berkali-kali dikisahkan dalam kitab-kitab Kesusastraan Jawa Kuno dan Nusantara. Kemudian Merah-Putih terdapat di lukisan relief Candi Borobudur dan pernah dikibarkan oleh para pelaku sejarah.

Secara politik kekuasaan, dalam sejarah Nusantara terbukti, bahwa Bendera Merah-Putih dikibarkan pada tahun 1292 M oleh tentara Jayakatwang ketika berperang melawan kekuasaan Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singasari (1222-1292 M). Pertempuran ini meraih kemenangan dan dikisahkan berkibarnya Bendera Merah-Putih dalam Piagam Butak menyebabkan di kemudian masa piagam ini disebut Piagam Merah-Putih.

Perkembangan penemuan bendera Merah-Putih masa kerajaan Majapahit karena adanya dua orang putri bernama Dara Jingga dan Dara Petak yang mengindikasikan penemuan warna merah dan putih. Keduanya berasal dari Kerajaan Melayu yang dibawa oleh tentara Kerajaan Singasari pada saat Prabu Kertanegara mengadakan “Ekspedisi Pamalayu”. Dara Jingga dan Dara Petak melambangkan Merah-Putih karena jingga artinya merah sedangkan petak artinya putih.

Selain itu pada era kejayaan Majapahit tepatnya ketika Prabu Hayam Wuruk berkuasa, Istana Majapahit tersusun atas temboktembok yang melingkar dan terbuat dari bata berwarna merah serta lantai plester yang warnanya putih. Hal ini menyebabkan keraton Majapahit sering dikenal sebagai Keraton Merah-Putih.

Kitab Negerakartagama, yang dituliskan oleh Empu Prapanca menyatakan bahwa setiap upacara kebesaran Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M) selalu terdapat simbol warna Merah-Putih. Bisa dikatakan bahwa warna Merah-Putih sudah lekat di Nusantara dan dimuliakan sebagai warna kebesaran.

Bukan hanya di Jawa, warna Merah-Putih juga lekat di berbagai daerah. Di Sumatra penemuan Merah-Putih salah satunya di Sumatra Barat yakni tradisi lokal yang turun-temurun berlaku sampai sekarang mengenai perbedaan golongan. Golongan pertama pemangku adat disimbolkan sebagai warna hitam. Kedua, bendera kuning untuk para ulama. Sedangkan untuk golongan hulubalang berwarna merah. Ketiga warna ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Minang pada abad ke-14 M yaitu Raja Adityawarman.

Sumatera Utara terkenal warna Merah-Putih pada bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak, bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Pejuang-pejuang Aceh juga menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.

Beralih ke Sulawesi, Merah-Putih terkenal di Kerajaan Bugis-Bone, Sulawesi Selatan sebelum Arung Palakka tepatnya semasa Raja Karrampeluwa (1398- 1470 M). Dituliskan bendera Merah dan bendera Putih adalah simbol kekuasaan dan kebesaran Kerajaan Bone. Bendera Bone itu yang dikenal dengan nama Woromporang yang berwarna putih yang selalu dikibarkan beriringan dengan dua umbul-umbul merah di kiri dan kanan yaitu Calle ri atau (kanan) dan Calle ri abeo (kiri).

Pada abad ke-20, Bendera yang dinamakan Sang Merah-Putih ini pertama kali digunakan oleh para pelajar dan kaum nasionalis pada awal abad ke-20 di bawah kekuasaan Belanda. Bendera Merah-Putih berkibar untuk kali pertama sebagai lambang kemerdekaan di Benua Eropa lebih tepatnya di Negara Belanda.

Selanjutnya, tahun 1927 M lahirlah di Kota Bandung Partai Nasional Indonesia (PNI) yang mempunyai tujuan Indonesia Merdeka. PNI ini mengibarkan bendera Merah Putih Kepala Banteng.

Menjelang Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara ditugaskan membentuk tim panitia untuk meneliti bendera dan lagu kebangsaan Indonesia. Panitia tersebut memutuskan, Bendera Merah-Putih harus berukuran panjang 3 meter dan lebar 2 meter.

Dari sinilah kita kenal bendera Merah Putih dengan perbandingan panjang dan lebar 3 banding 2. Sedangkan maknanya; merah itu berani, dan putih itu suci atau benar sehingga arti Bendera Merah-Putih adalah Berani atas Kebenaran atau kesucian. Mengingat kemerdekaan Indonesia memiliki cita-cita yang suci untuk mencapai kesejahteraan sosial. Kibarkan semangat merah putih dalam mengisi kemerdekaan. (yed)

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

M. Rizal Taufikurahman, Dr.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-2)             Perlu Revisi Undang-Undang dan Peningkatan SDM Perikanan di Daerah             Antisipasi Lewat Bauran Kebijakan Fiskal – Moneter             Perkuat Industri Karet, Furnitur, Elektronik Hadapi Resesi             Skala Krisis Mendatang Lebih Besar dari 1998