Indonesia Negara Paling Murah Senyum
berita
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)
12 November 2018 16:30
Watyutink.com - Keramahtamahan Indonesia memang sudah lama dikenal dunia. Hal ini pula yang membuat banyak wisatawan mancanegara tertarik mengunjungi Indonesia. Salah satu bukti keramahtamahan Indonesia adalah warganya yang murah senyum. 

Tahukah Anda sebuah survei di Swedia menyatakan Indonesia memiliki penduduk paling murah senyum dan sering ucapkan salam.

Berdasarkan hasil survei The Smiling Report 2009 dari AB Better Business yang berbasis di Swedia, Indonesia adalah negara paling murah senyum di dunia

Ini adalah fakta yang amat menarik, dan seharusnya menjadi ‘senjata andalan’ bagi kita untuk meningkatkan arus kunjungan wisatawan mancanegara ke tanah air. Meskipun sebenarnya senyum warganya tidak menunjukkan tingkat kebahagiaan sebuah bangsa.

Sebenarnya yang akan lebih menarik bila dilakukan survei negara yang paling banyak tertawa. Untuk kategori ini Indonesia barangkali juga bisa juara.

Semoga pemerintah cukup jeli untuk menangkap peluang ini. 

Dan bagi warga bangsa pasti tidak ada salahnya untuk tambah giat menebar senyum. Kata bijak mengatakan “senyum adalah ibadah”. Jadi jangan ragu untuk tersenyum. 

1f600.svg

 

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Polisi Tunduk Pada Hukum             Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?