Dibalik Rasa Pedasnya, Cabai Ternyata Menyimpan Manfaat bagi Kesehatan
berita

21 March 2019 17:05
Watyutink.com - Rasanya kok tidak ada orang yang tidak cabai. Meski beberapa orang tidak tahan pedas, tapi tidak sepenuhnya mereka menghindari cabai. Dalam takaran yang lebih sedikit mereka pasti menyukainya.

Kehadiran cabai dalam masakan memang diperlukan. Selain menambah rasa makanan, aroma cabai juga bisa membangkitkan selera makan. Namun dibalik rasa dan aromanya cabai yang menggugah selera, tersimpan khasiat yang luar biasa bagi kesehatan.

Tahukah Anda, apa saja zat yang terkandung dalam cabai dan apa pula manfaatnya?

Cabai diketahui mengandung beberapa nutrisi seperti energi, karbohidrat, gula, serat, lemak, protein, vitamin A, vitamin B6, vitamin C, zat besi, magnesium, kalium atau potasium, dan air. Selain itu cabai juga mengangung capsaicin, nutrisi yang menimbulkan rasa pedas.

Itulah sebabnya cabai dipercaya mampu membantu mengatasi berbagi masalah kesehatan, seperti diare. Zat capsaicin dalam cabai diyakini mampu menyehatkan pencernaan serta mengatasi gangguan akibat bakter penyebab infeksi. Diare adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

Cabai juga mampu mengatasi sakit dan nyeri. Cabai yang sudah diolah menjadi salep atau krim dapat mengurangi sakit atau nyeri setelah operasi, sakit kepala sebelah, psoriasis, dan sariawan karena kemoterapi atau radiasi. Selain itu salep cabai juga bisa mengatasi masalah sendi seperti rheumatoid arthritis dan osteoarthtitis, masalah sistem saraf seperti neuropati diabetik, nyeri mendadak dan tajam pada sebelah wajah atau (neuralgia trigeminal) dan neuralgia postherpetic atau nyeri saraf pada daerah tubuh yang terinfeksi virus cacar api.

Selain itu, capsaicin juga diduga mampu mengurangi sakit punggung, mengurangi nyeri pada otot dan jaringan lunak pada fibromyalgia, meredakan gejala penyakit kulit prurigo nodularis, dan menghilangkan gejala perennial rhinitis, yaitu hidung berair yang tidak terkait dengan alergi atau infeksi.

Namun penggunaan krim atau salep cabai harus mematuhi aturan pakai yang tertera pada kemasannya. Atau bisa juga meminta saran dokter.

Capsaicin pada cabai juga berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi tubuh dari radikal bebas yang kerap menjadi penyebab penyakit berbahaya, seperti kanker kolorektal atau usus besar. Antioksidan juga bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh atau imunitas.

Cabai juga mampu menyehatkan paru-paru. Selain itu cabai dapat mencegah atau mengobati emfisema, penyakit paru-paru kronis akibat merokok. Cabai juga dapat mengencerkan lendir pada paru-paru sehingga mudah dikeluarkan.

Mengkonsumsi cabai dalam jangka panjang juga mampu menurunkan tingkat tekanan darah. Itulah sebabnya cabai bermanfaat bagi penderita tekanan darah tinggi. Kandungan capsaicin dalam cabai juga bisa mengurangi kolesterol dan mencegah penyumbatan darah penyebab penyakit jantung.

Meski mengandung berbagai manfaat, tidak disarankan mengkonsumsi cabai dalam jumlah berlebihan. Penelitian menunjukkan makan cabai berlebihan bisa menyebabkan luka di usus. Bahkan dalam beberapa kasus, makan cabai berlebihan bisa merusak tenggorokan.

Jika terlanjur kepedasan ketika makan makanan cabai, disarankan untuk minum susu atau yogurt  dan bukan air. Susu atau yogurt diyakini dapat meredakan rasa pedas akibat mengkonsumsi cabai.

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Polisi Tunduk Pada Hukum             Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?