Bekatul, Bahan Makanan Terlupakan yang Bisa Cegah Kanker, Diabetes dan Sehatkan Jantung
berita
Istimewa
12 August 2019 17:00
Watyutink.com – Saat ini sudah jarang orang yang memanfaatkan bekatul untuk bahan makanan. Jangankan mengonsumsinya, apa itu bekatul saja sudah banyak yang tidak mengetahuinya. Padahal banyak manfaat yang bisa diperoleh dari bahan makanan ini.

Tahukah Anda, apa itu bekatul dan apa pula manfaatnya bagi kesehatan?

Bekatul adalah lapisan tipis yang melindungi beras. Sebelum menjadi beras, padi harus melalui proses terlebih dahulu. Bisa dengan cara ditumbuk atau digiling. Bulir padi diketahui memiliki tiga lapisan kulit, yakni sekam, dedak, dan bekatul.

Sekam adalah lapisan terluar yang berbentuk keras dan tajam. Dedak adalah lapisan kedua setelah sekam. Sedangkan bekatul atau rice bran adalah lapisan ketiga yang membungkus bulir padi berwarna putih atau yang kita kenal sebagai beras.  

Seringkali orang susah membedakan antara bekatul dan dedak. Pasalnya keduanya memiliki warna yang sama, coklat muda. Perbedaan keduanya baru terlihat jika kita memperhatikan secara lebih seksama. Dedak memiliki tekstur yang lebih kasar dibandingkan bekatul. Dedak selama ini lebih banyak digunakan untuk makanan ternak. Sedangkan bekatul adalah salah satu bahan makanan manusia yang sehat dan bermanfaat.  

Sebuah penelitian yang dilakukani Institut Pertanian Bogor (IPB) menyebutkan kandungan nutrisi dalam bekatul sangat banyak. Tiap 100 gram bekatul mengandung 500 gram karbohidrat, 16,5 gram protein, 21,3 gram lemak, dan 25,3 gram serat. Selain itu terdapat pula kandungan vitamin dan mineral, seperti tiga miligram vitamin B1, 0,4 miligram vitamin B2, 43 miligram vitamin B3, tujuh miligram vitamin B5, dan 0,49 miligram vitamin B6. Selain itu ada pula  11 miligram zat besi, 6,4 miligram seng, 80 miligram kalsium, 2,1 gram fosfor, 1,9 gram kalium, 20,3 gram natrium, dan 0,9 gram magnesium.

Itulah sebabnya bekatul memiliki beragam manfaat bagi kesehatan serta mencegah serangan berbagai penyakit seperti jantung koroner, kanker dan stroke. Bekatul dikenal memiliki fungsi sebagai antioksidan yang bisa menangkal efek buruk dari radikal bebas yang bisa memicu penyakit-penyakit berat tersebut. Setidaknya terdapat delapan senyawa antioksidan dalam bekatul, yakni flavonoid, asam fenolik, antosianin, proantosianin, tokoferol, tokotrienol, y-oryzanol, dan asam fitat.

Sedangkan senyawa peptida dan tokotrienol dalam bekatul diyakini berperan utama mencegah perkembangan penyakit kanker, seperti  kanker hati, ovarium, rahim, payudara, kulit, dan sebagainya. Bekatul juga dikenal memiliki kandungan senyawa antioksidan gamma oryzanol atau y-oryzanol yan bermanfaat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.

Bekatul diketahui mengandung vitamin B15 yang bermanfaat menjaga kesehatan jantung. Pasalnya vitamin B15 dapat meningkatkan metabolisme otot, termasuk otot jantung. Akibatnya kerja jantung menjadi lebih kuat dan berfungsi lebih baik.

Kandungan vitamin B15 atau asam pangamik yang ada di dalam bekatul memiliki peran terhadap metabolisme protein. Hal ini bisa mendukung sintesis methylation yang berperan di dalam metabolisme protein.

Bekatul juga bisa mencegah penyakit kencing manis atau diabetes. Pasalnya  bahan makanan ini memiliki  kandungan oryzanol, tokoferol dan asam ferulat. Kandungan senyawa tersebut berfungsi sebagai antioksidan yang bisa menghambat serangan diabetes. Kandungan tokoferol dan asam ferulat dalam bekatul juga berfungsi untuk mencegah penyakit alzheimer.

Untuk mendapatkan manfaat bekatul, kita bisa menjadikannya tepung dan mengolahnya menjadi aneka makanan.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol