Bahaya Mengintai dalam Sepotong Pizza, Sebabkan Obesitas, Hipertensi, dan Kanker
berita

06 July 2019 16:50
Watyutink.com – Saat ini kehadiran pizza sudah semakin digemari. Makanan asal Italia ini semakin akrab di lidah masyarakat Indonesia. Terlebih pembuat pizza mulai menambahkan rasa khas Indonesia, seperti rendang, sate ayam, atau balado. Akibatnya pizza menjadi semakin mendekati cita rasa khas Nusantara.

Sebelumnya orang Indonesia menjadikan makanan berbentuk bulat lebar ini sebagai camilan. Untuk menu harian mereka tetap memilih nasi dan lauk pauk lengkap.

Namun kini orang Indonesia tak lagi segan menjadikan pizza sebagai menu makan sehari-hari. Bahkan di beberapa kalangan makanan ini mulai menggeser posisi nasi goreng, bubur ayam atau gado-gado.

Memang tidak ada yang salah dengan menjadikan pizza sebagai makanan harian. Terlebih hal semacam itu sudah lazim dilakukan di negara barat, seperti Eropa dan Amerika Serikat.  Namun patut diingat makan pizza dalam jumlah berlebihan dapat menimbulkan akibat tidak baik bagi kesehatan.

Tahukah Anda, mengapa makan pizza berlebihan bisa menimbulkan efek buruk bagi kesehatan?

Tak ubahnya separti junk food lainnya, pizza banyak mengandung pengawet. Seperti diketahui penggunaan bahan pengawet dalam makanan dapat menimbulkan berbagai penyakit. Bahkan penyakit berbahaya seperti kanker bisa dipicu oleh penggunaan bahan pengewet. Selain itu penggunaan daging olahan dan daging merah dalam pizza juga sering dikaitkan dengan potensi penyakit kanker usus.

Penyebab berikutnya adalah pizza diketahui memiliki kandungan garam yang sangat tinggi. Sebuah penelitian menyebutkan dalam sepotong pizza terdapat sekitar 500 hingga 700 miligram sodium atau garam. Bahkan frozen pizza atau pizza beku diketahui memiliki kandungan garam yang lebih tinggi dibandingkan pizza yang baru dipanggang. Frozzen pizza mengandung sekitar 900 miligram sodium. Jika tidak dibatasi maka makan pizza bisa meningkatkan risiko serangan tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Pizza juga diketahui mengandung lemak tinggi. Bukan hanya lemak jenuh, pizza juga mengandung lemak trans yang dapat menyebabkan penyakit jantung karena aterosklerosis. Terlebih jika jumlah dan intensitas makan pizza tidak terkontrol.    

Selain itu pizza adalah makanan berkalori tinggi. Meski disebutkan bahwa dalam sepotong pizza hanya terdapat sekitar 500 kalori, namun jumlah itu belum termasuk topping. Padahal justru topping itulah bagian yang paling digemari, baik sayuran, daging, maupun keju.

Terlalu sering makan pizza diyakini dapat meningkatkan berat badan dalam jumlah yang cukup signifikan. Jika dibiarkan terus-menerus bukan tidak mungkin tubuh terserang obesitas atau kelebihan berat badan akibat asupan kalori yang tak terkontrol.

Jika hanya sekali-sekali atau sekedar selingan, memang tidak ada masalah makan pizza. Tapi jika dijadikan menu makan sehari-hari tentu pizza bukan pilihan tepat. Pasalnya makanan yang baik untuk kesehatan adalah yang terjaga kandungan gizinya.

Akan lebih baik jika memilih makanan sehat sebagai menu makan sehari-hari. Sayur, buah, serta makanan kaya serat pasti lebih tepat menjadi menu makan harian.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Teguh Santoso, S.E., M.Sc.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies

Salamudin Daeng

Anggota Institute Sukarno for Leadership Universitas Bung Karno (UBK)

FOLLOW US

Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!             Perekonomian Dunia Masih Dihantui Ketegangan dan Ketidakpastian             Revisi Aturan-aturan yang Tidak Pro Kepada Nelayan!             Kebijakan KKP yang Baru Harus Didukung             Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS