Yang ‘Terluka’, Yang Kecewa & Kemenangan Sejati
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
21 June 2019 12:45
Watyutink.com - Mengikuti jalannya persidangan sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK) selama beberapa hari terakhir ini, bagaimana akhir putusan MK nanti, sepertinya sudah dapat diprediksi hasilnya. Reaksi dan komentar miring, sinis, dan sarkastik humorik dari para nitizen di dunia maya terhadap penampilan para saksi yang diajukan kubu 02 dalam persidangan, sudah menjadi indikasi awal. Bahwasanya sejumlah pengamat telah terlebih dahulu memberi komentar akan lemahnya materi dan barang bukti yang digunakan kubu 02 untuk menggugat, nyaris menjadi kenyataan yang meyakinkan.

Dengan posisi di atas angin ini, kubu 01 tak perlu menebar aroma jumawa dengan menepuk dada. Tak perlu juga mengepak sayap lebar-lebar sambil berkokok nyaring bak seekor ayam jago yang baru saja menggagahi babonnya. Apalagi berlebihan pesta pora merayakan kemenangan. Karena kemenangan di MK ini, justru merupakan dari awal sebuah kerja keras yang penuh tantangan dan rintangan yang akan dan harus dihadapi pemerintahan Jokowi ke depan. 

Ada sejumlah catatan yang membuat kesimpulan di atas disodorkan ke atas meja Presiden terpilih hasil Pilpres 2019. Situasi politik dan ekonomi global yang kurang bersahabat, merupakan realita yang harus dihadapi sebagai Pekerjaan Rumah (PR) ekstra yang menuntut kerja keras sekaligus kerja cerdas dari kabinet Jokowi jilid dua. Sementara tantangan dari dalam, tidaklah sesederhana sebagaimana penyelesaian sengketa melalui meja hijau di gedung MK.

Bukanlah hal yang sederhana ketika Jokowi-Ma’ruf dihadapkan pada realita di dalam kubunya (kubu 01) ketika kue kekuasaan harus dibagikan secara adil kepada partai-partai koalisinya. Belum lagi mengatur pengelolaan kue kekuasaan antara Jokowi dan Ma’ruf sendiri. Maka tak terelakkan lagi akan bermunculannya para ‘Kecewawan-Kecewawati’ pasca kue kekuasaan selesai dibagikan. Banyaknya jumlah partai koalisi dan kelompok relawan pendukung kubu 01 yang pasti menuntut ‘upah politik’, merupakan masalah yang kelak akan cukup mengganggu walau tak berdampak terlalu serius terhadap eksistensi kekuasaan istana. 

Hal yang bisa cukup mengganggu pemerintahan Jokowi ke depan, adalah lahirnya kelompok oposan ketika mereka yang ‘terluka’ dan berada di luar kubu 01, luput dari perhatian. Apalagi disepelekan eksistensinya. Karena bisa terjadi barisan yang kecewa akan bergabung dengan barisan dari mereka yang ‘terluka’ untuk bersama bergerak menggoyang rezim penguasa. Sudah terbukti ketika kita cermati figur para tokoh yang berada di kubu 02 adalah sejmlah pejabat yang dulunya berada di jajaran kekuasaan kubu 01, bahkan eks menteri Kabinet Kerja Jokowi.

Hal lain yang juga akan menjadi masalah yang tidak mudah didapat oleh Jokowi adalah masalah loyalitas penuh dari orang-orang yang ada disekelilingnya. Begitu pun dari mereka yang sekarang mendekat ke lingkaran satu istana dengan harapan dapat menikmati kue kekuasaan yang ada di tangan Jokowi. Kesimpulan ini didasarkan catatan akan cara dan gaya pengelolaan kekuasaan ala Jokowi selama masa jabatan periode 1. 

Salah satu yang menonjol adalah dimatikannya merit system sebagai pertimbangan dan jalur memasuki personil ke lingkaran 1 kekuasaan. Contoh yang paling kasat mata adalah tampilnya figur oposan tanpa keringat seperti M.Ngabalin dan Yusril  Ihza Mahendra ke dalam lingkaran 1 istana. Hal mana jelas mereduksi nilai loyalitas para pendukung yang sangat berharap bahwa merit system mutlak diterapkan dalam hal melakukan pilihan siapa-siapa yang layak berada dalam lingkaran 1 kekuasaan. Hal ini menyadarkan mereka yang mendekati kekuasaan untuk selalu mengantongi kalkulator dalam menghitung untung rugi sambil menerapkan pola kerja pas bandrol. Artinya, etos kerja yang berpijak pada motto…’Segitu yang kau kasih-Segitu pula yang kuberi’. 

Itulah sebabnya kerja cerdas dan bijak Jokowi berikut tim pengelola kekuasaan di lingkaran satu istana, sangat diperlukan untuk menciptakan suasana dukungan yang bulat dan bermanfaat. Dengan pertimbangan ini, kemenangan di MK bukanlah sebuah kemenangan yang perlu dirayakan dengan pesta, tapi justru saat untuk menerjemahkan ajakan ORA ET LABORA dalam melakukan kerja-kerja besar ke depan.

Kemenangan kubu 01 di MK bukan merupakan mimpinya 260 juta rakyat Indonesia yang utama. Mimpi yang lama dinantikan adalah kemenangan rakyat Indonesia untuk bisa sepenuhnya merasakan nikmat Kemerdekaan dan hidup merdeka secara ekonomi, politik, dan sosial budaya! Sebuah kemenangan dalam bentuknya yang genuine (sejati); bukan yang semu! Semoga saja antara kemenangan semu dan kemenangan yang genuine (sejati) sudah harus lebih bisa dibedakan oleh para penguasa di negeri ini. 

Kemenangan semu adalah kemenangan penguasa dalam  mendapatkan dan memenangkan kekuasaan; sementara kemenangan sejati adalah kemenangan yang diraih oleh seluruh rakyat bangsa ini dalam capaian kualitas menikmati kemerdekaan dan hidup merdeka yang berkeadilan, lahir-batin!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional