World War Zero
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 28 November 2020 15:05
Watyutink.com - World War I - Perang Dunia I dan World War II – Perang Dunia II menyisakan banyak kisah sedih dan heroik. Peperangan antar kekuasaan yang melibatkan banyak Negara, tidak luput dari drama keluarga, korban jiwa, maupun narasi romantisme, dan patriotisme.

Setara dengan menghadapi Perang Dunia adalah tantangan krisis iklim dengan akibatnya berupa bencana yang melanda kehidupan dan penghidupan manusia, serta berita pilu dan ragam penderitaan yang mengiringinya.

Peperangan untuk memenangkan lingkungan hidup yang baik, kesehatan, keamanan,  lapangan kerja, dan kesejahteraan ekonomi, memerlukan kerjasama global dari semua pihak. Untuk menang perang, mereka yang memiliki berbagai perbedaan harus bersatu untuk melawan musuh bersama. Spirit ini dan juga tujuan “net-zero emission” pada tahun 2050 (jumlah emisi karbon penyebab perubahan iklim yang sama dengan emisi yang diserap),  mendorong mantan menteri luar negeri Amerika Serikat John Kerry mendirikan “World War Zero.”

Rekam jejak John Kerry di bidang lingkungan hidup tidak diragukan lagi. Selama 28 tahun menjadi Senator ia aktif memperjuangkan pelestarian alam. Bukunya berjudul “This Moment on Earth” menjadi buku lingkungan hidup terlaris  versi The New York Times. Selain itu Kerry merupakan negosiator Presiden Obama ketika Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim yang menghasilkan Persetujuan Paris di tahun 2015.

World War Zero yang didirikan akhir tahun lalu adalah Koalisi yang menyatukan berbagai pihak untuk berkomitmen dalam memobilisasi upaya, menyuarakan, dan menangani krisis iklim. Mereka termasuk pegiat partai, ilmuwan, jenderal militer, pemimpin bisnis, diplomat, artis, dan generasi muda.

World War Zero dikenal sebagai “Koalisi Iklim Bertabur Bintang,” karena di antara pendirinya ada aktor yang mantan Gubernur California, Arnold Schwarzenegger, juga mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan mantan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown. Belum lagi para pesohor seperti Leonardo DiCaprio, Emma Watson, Sting, dan Ashton Kutcher.

Mereka nampaknya dapat membantu komunikasi krisis iklim yang sedang terjadi agar mudah dipahami masyarakat umum, termasuk penyebab, dampak, solusi dan tindakannya. Hal ini penting karena pada akhirnya keberhasilan manusia keluar dari krisis bergantung pada perilaku menuju pola hidup rendah karbon yang dilakukan secara konsisten setiap harinya.

Namun, komunikasi krisis iklim ini sangat terganggu oleh Perang Disinformasi. Menurut Richard Stegel, mantan Managing Editor Majalah Time yang menulis untuk World War Zero, ada tsunami disinformasi seputar perubahan iklim. Disinformasi adalah informasi palsu yang sengaja digunakan untuk mengelabui. Media sosial menyebabkan disinformasi masuk ke otak manusia dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya.

Pada “International Workshop on Climate Crisis Communication” yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Climate Reality Indonesia dan Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Endy Bayuni seorang anggota Facebook Oversight Board dari Indonesia (dan bukan pegawai Facebook) menyampaikan pendapat pribadinya. Hingga kini, media sosial tetap merupakan ruang yang baik untuk menyampaikan pendapat, menggalang diskusi dan memperjuangkan buah pikiran.

Ironisnya, mereka yang menyangkal bahwa perubahan iklim disebabkan oleh manusia (climate deniers) nampaknya lebih agresif, cerdas, dan sukses, menyebarkan pesan berdasarkan kebohongan untuk memengaruhi opini public melalui media sosial.

Menurut Endy, misinformasi dan disinformasi akan selalu ada, tantangannya sekarang adalah meyakinkan mereka yang tidak paham atau tidak peduli bahwa manusia memicu krisis iklim, antara lain dengan strategi media sosial yang cerdas dan efektif untuk mengungguli para “climate deniers.”

John Kerry, pendiri World War Zero, yang menyatakan perang melawan “climate deniers” baru saja ditetapkan menjadi Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim oleh Joe Biden. Kerry yang mendapat julukan sebagai Climate Tsar – Kaisar Iklim, menekankan bahwa seluruh dunia harus bersatu untuk menangani krisis iklim, dengan kecerdasan, kreativitas, dan diplomasi sebagai kunci sukses.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF