Vaksin, Ribka dan Kemanjuran Sains
Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 14 January 2021 14:15
Watyutink.com - Retorika kontroversial politisi PDIP, Ribka Tjiptaning, dalam Rapat Kerja DPR (12 Januari 2021), terkait vaksinasi, “viral” menjadi pandemi nir-nalar. Seperti virus Corona, logika Ribka menginfeksi pikiran khalayak yang lemah imunitas berpikirnya. Ia menolak divaksinasi, menganggap vaksin berbahaya, dan memilih membayar denda ketimbang divaksinasi. 

Ribka meragukan vaksin Covid-19 karena ada sejumlah kasus vaksinasi justru mencelakai, ada kasus kelumpuhan, bahkan meninggal. Cara berpikir Ribka ini tipikal dalih para “Anti-vaxxer”, julukan untuk gerakan anti-vaksin yang mulai populer di dunia. Anti-vaxxer curiga berlebihan, cenderung paranoia, pada bahaya vaksin, berbasis kisah gosip bernuansa “urban legend”, info yang tidak diverifikasi akurasinya.

Vaksin adalah produk riset sains yang pada umumnya terbukti manjur selama ratusan tahun. Sejak ditemukan oleh Edward Jenner untuk melawan penyakit cacar, pada 1796. Mendramatisasi “bahaya vaksin”, hanya karena ada sejumlah kasus kegagalan, seperti mempersoalkan teknologi penerbangan hanya karena ada sejumlah pesawat terbang jatuh. Atau mempertanyakan khasiat Viagra, atas sejumlah kematian di tempat tidur pasca hubungan seksual.

Sebagian orang, yang sedikit nalar, meragukan keampuhann vaksin Covid-19 karena proses pembuatannya terlalu cepat, hanya dalam waktu setahun. Lazimnya, dulu, vaksin jenis baru memang perlu proses riset dan uji coba selama sedikitnya dua tahun, sebelum bisa diaplikasikan. Namun di era global saat ini riset biomolekuler sudah semakin maju, juga kolaborasi antar-negara dan antar-perusahaan untuk membuat vaksin baru cukup solid. Jika vaksin Covid-19 bisa diproduksi lebih cepat, pasti bukan karena proses akal-akalan atau asal-asalan.

Inggris menjadi negara pertama yang mensahkan vaksin Covid-19, produksi Pfizer-BioNTech, untuk disuntikkan. Penerima vaksin pertama, Margaret Keenan, 91 tahun, disuntik setelah setahun (334 hari persisnya)  adanya kematian akibat virus ini di Cina. Menjadi momen sejarah yang ditunggu masyarakat dunia yang dicekam kengerian. Kita kita punya senjata untuk melawan virus mengerikan, yang untuk pertama kalinya melanda manusia sejagad di era modern.

Virus Covid-19 telah membunuh (sampai hari ini, 14 Januari) hampir 2 juta manusia, menginfeksi 93 juta, dan membuat miliaran menderita atau menganggur karena ekonomi dunia porak-poranda. Suntikan vaksin Covid-19 pertama, pada 8 Desember, ini menjadi setitik harapan perlawanan terhadap virus  yang mematikan. Namun masih perlu upaya dan waktu panjang untuk memenangkan “perang”. 

Vaksinasi massal melawan Covid-19 adalah upaya raksasa penuh tantangan logistik untuk melindungi lebih dari tujuh miliar manusia di dunia. Upaya serentak yang belum pernah ada presedennya dalam dunia global 100 tahun terakhir. Delapan bulan setelah uji coba klinis vaksin Covid-19 dinilai layak untuk disuntikkan.

Vaksin produksi  Pfizer-BioNTech, AstraZeneca, Moderna, dan sejumlah produk lainnya telah lolos uji keselamatan dan kemanjurannya, dari hampir 200 riset vaksin yang dilakukan di seluruh dunia.

Dalam konteks paradigma sains, keampuhannya Vaksin baru selalu bersifat "tentatif dan kondisional", tidak dijanjikan akan 100 persen ampuh. Masih harus dibuktikan apakah vaksin yang telah disahkan benar-benar mampu menghentikan infeksi dan memperkuat kekebalan tubuh dari serangan Virus Covid-19. Banyak variabel dan faktor yang mempengaruhi kemujaraban vaksin, dari usia, ada tidaknya penyakit bawaan, kondisi tubuh, persoalan genetis, dan sebagainya. Dalam dunia medis selalu berlaku ketentuan "pasti mujarab" untuk segala macam obat dan tindakan pengobatan medis. Tidak ada “jaminan pasti”, tidak ada keajaiban pengobatan.

Vaksin adalah ramuan untuk memicu cepat-tanggap sistem kekebalan tubuh. Orang yang telah divaksin diharapkan meningkat zat antibodi dan mengenali jenis virus atau bakteri yang perlu dilawan. Dan itu tantangan yang tidak mudah, mengingat setiap orang memiliki respon yang berbeda terhadap vaksin. 

Kemenangan upaya melawan Covid-19 masih harus dipertarungkan di medan pertempuran, di setiap tubuh individu manusia yang sudah atau berpotensi terinfeksi. Masih diperlukan data yang akurat tentang pengaruh vaksin pada beragam latar belakang demografik penduduk yang mendapatkan suntikan vaksin.

Tiga produk vaksin yang ada telah melampaui uji klinis keselamatan dan kemanjuran lebih dari 50%. Vaksin produk Pfizer dan Moderna berbasis pada RNA, sedangkan produk AstraZeneca berbasis pada DNA yang disusupkan pada virus yang telah dilemahkan. Sedang diuji pendekatan mana yang lebih mujarab. 

Faktor lain terkait efektivitas vaksin menyangkut biaya dan logistik, jenis vaksin mana yang pas untuk wilayah tertentu. Satu produk Vaksin perlu disimpan pada temperatur yang sangat dingin, minus 70 derajat Celcius, sementara produk lainnya tidak memerlukan. Perbandingan kemanjuran berbagai produk vaksin masih perlu diuji, dan untuk itu berlaku semacam “kompetisi” kemanjuran. Meskipun kompetisi sebenarnya adalah melawan virus.

Persoalan lain, virus mampu bermutasi dan beradaptasi melawan vaksin. Contoh yang paling konkret adalah virus flu, yang menyebabkan sakit flu atau berbagai penyakit akibat virus dan bakteri, tidak bisa dberantas sepenuhnya. Bukan tidak mungkin versi baru mutasi virus Covid-19 akan mampu melawan vaksin yang sudah disuntikkan. 

Yang pasti cairan vaksin 0,3 mililiter yang disuntikkan ke tubuh manusia adalah satu upaya terukur dari rangkaian proses panjang penelitian dan uji coba berbasis sains modern. Menjadi harapan bagi lenyapnya kepedihan manusia sejagad yang menderita akibat Covid-19. 

Vaksin sudah terbukti ampuh melawan, bahkan memberantas, penyakit polio, sampar, atau hepatitis. Kita berharap vaksin juga mampu menaklukkan Covid-19. Tidak peduli apakah Ribka Tjptaning sebagai politisi yang ignoran, setuju atau ragu. Kenaifan retorika Ribka sebaiknya diabaikan. Vaksinasi perlu digalakkan, karena terbukti manjur, produk sains yang sudah teruji selama ratusan tahun.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI