Titiek Hengkang, Golkar Airlangga Tanpa Cendana
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka

13 June 2018 11:40

Cukup mengejutkan, walau tidak terlalu! Begitulah reaksi pertama ketika membaca siaran pers Siti Hediati Hariyadi Soeharto (Titiek), hengkang dari Golkar. Alasan yang digunakan cukup menarik. Sebagai langkah promosi politik tergolong cerdas. Secara terbuka ia nyatakan Golkar hari ini bukanlah tempat yang tepat buat dirinya yang selalu berusaha memendam sejumlah kritik terhadap pemerintahan Presiden Jokowi.

Saat melangsir pernyataan terbuka atas undur dirinya dari Golkar dan memilih bergabung dengan Partai Berkarya besutan adik tercinta, Hutomo Mandala Putra (Tommy), Titiek mempertegas kedudukan partai barunya sebagai partai oposisi yang terbuka. Hal mana termanifestasi dari sejumlah kritik tajamnya terhadap situasi dan kondisi Indonesia hari ini di bawah kepemimpinan Jokowi. Soal pengangguran yang jutaan jumlahnya; tergusurnya lahan pekerjaan buruh lokal oleh buruh impor-asing; kehidupan yang semakin susah dirasakan rakyat kecil, dan sebagainya, disuarakan dengan lantang..

Hengkangnya Titiek dari Golkar ini, terkait erat dengan kekecewaannya terhadap partai Golkar; mengapa Golkar sebagai partai besar yang seharusnya memperhatikan kesejahteraan rakyat, memilih diam saat mendengar suara jeritan rakyat yang tengah berada dalam kesulitan hidup?! Menurutnya, Golkar belakangan ini, sarat akan kinerja politik yang berbau Asal Bapak Senang (ABS). Itulah sebabnya ia hengkang dengan konsekuensi mundur dari seluruh jabatan politik yang melekat pada dirnya sebagai kader-fungsionaris Golkar.

Lewat siaran pers undur dirinya ini, tertanggal 11 Juni 2018 ini, secara implisit (baca: cerdas) Titiek mengajak masyarakat mengikuti jejaknya ‘meninggalkan’ Golkar yang sudah tak lagi peduli akan amanat penderitaan rakyat, dan bergabung ke Partai Karya, seperti yang ia lakukan. Yang menarik ‘ajakan’ ini dikumandang dari desa Kemusuk, tempat di mana pak Harto dilahirkan dan ditempa alam hingga menjadi manusia pilihan zaman yang selanjutnya dikenal sebagai pemimpin zaman Orde Baru. Bahasa isyarat ini pasti diterima oleh para pengikut dan pengagum Pak Harto sebagai komando untuk bergabung ke Partai Berkarya, partainya keluarga Cendana, trah Soeharto.

Hengkangnya Titiek dari Golkar yang langsung mengibarkan bendera Cendana di partai barunya ini, akankah berpengaruh terhadap perolehan suara Golkar pada Pemilu 2019? Rasanya, naik turunnya angka perolehan Golkar nanti, akan sangat  ditentukan oleh pandangan rakyat yang menilai apakah kondisi kehidupan hari ini benar seperti apa yang dikatakan Titiek, serba minus;  atau sebaliknya seperti apa yang selalu dikatakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, serba plus?! 

Jawaban akan hal ini tentunya baru akan terkuak saat Pemilu 2019 digelar. Namun terlepas dari jawaban akan hal ini, hengkangnya Titiek dari Golkar mendapat tanggapan beragam. Tidak sedikit yang menyayangkan karena dengan keluarga Cendana sepenuhnya meninggalkan Golkar, pelebaran sayap politik Cendana menjadi semakin terbatas dan menyempit ke satu titik, Partai Berkarya. Padahal Golkar sebagai partai besar dan sudah terlembaga menjadi aset nasional yang potensial dan telah mengakar di masyarakat, merupakan lembaga politik yang dibesarkan oleh sang ayah, Jenderal Soeharto.

Dengan keluarga Cendana meninggalkan Golkar, bisa dibaca sebagai meninggalkan sejarah dan warisan sang ayah yang begitu strategis dan potensial sebagai alat perjuangan yang telah melahirkan seorang putra desa Kemusuk menjadi pemimpin legendaris bangsa ini. Hal inilah yang sangat disayangkan. Bahwasanya sekarang dikelola oleh mereka yang dianggap tak sesuai dengan cita-cita Golkar, pergantian pimpinan hanyalah masalah waktu dan kesempatan .

Di lain pihak, mereka yang Cendanais puritan, sangat mendukung langkah Titiek hengkang dari Golkar.  Agar cita-cita pak Harto untuk mensejahterakan rakyat --yang oleh para pengikut setia diyakini itulah yang dilakukan pak Harto selama hidupnya, tidak tercemar dan dirusak oleh sikap politik Golkar yang hanya haus kekuasaan dan tidak lagi pro rakyat. Dalam hal ini, Partai Berkarya harus berjuang keras untuk lolos dari ambang batas parlementary threshhold, agar dapat menempatkan wakilnya di DPR nanti. Bila gagal, rasanya harga yang harus dibayar terlalu besar secara ekonomi maupun politik.

 Akankah berhasil? Atau Golkarnya Airlangga yang masih akan bertengger moncer karena masyarakat pendukung tradisionil Golkar, tetap setia memilih partai ketimbang faktor lainnya.

Terlepas bagaimana hasilnya nanti, selamat buat Jeng Titiek dengan partai barunya. Buat Airlangga dan Golkarnya, teruslah maju. Berlombalah untuk memenangkan rakyat Indonesia pada Pemilu 2019!

 

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Upaya Perampokan Aset Negara di BUMN Geo Dipa Energi (Bagian-1)             Upaya Perampokan Aset Negara di BUMN Geo Dipa Energi (Bagian-2)             Rupiah Terpuruk di Atas Struktur Ekonomi Tak Sehat (1)             Selesaikan PR Rantai Ekspor, Ekonomi Biaya Tinggi (2)             Kuncinya Pada Penyediaan Infrastruktur Dasar             Maksimalkan Desentralisasi, Tak Perlu Asimetris             Otsus, Antara Bencana Atau Solusi             Otonomi Daerah Jangan Setengah-Setengah             Bereskan Dulu Masalah Penggunaan Dana Desa, Baru Bicara Dana Kelurahan             Oknum ASN Harus Berhenti Memposisikan Diri Seolah Pemilik Instansi