The Legend of Zelda di Seputar Game Lingkungan
DR Amanda Katili Niode Ph.D
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka

11 July 2018 10:30

Sebanyak 2,5 milyar penduduk dunia bermain video game tersohor seperti FIFA 2018, Grand Theft Auto, Super Mario Odyssey dan The Legend of Zelda: Breath of The Wild. 

Di tingkat global, nilai pasar game tahun 2017 mencapai149 milyar dolar AS yang menurut situs Newzoo setara dengan pendapatan industri olah raga dan tiga kali lebih besar dari industri film. Adapun nilai industri game di Indonesia, menurut Asosiasi Games Indonesia berjumlah 800 juta dolar AS.

Game dapat menjadi wahana pendidikan lingkungan baik bagi anak, remaja, maupun dewasa, karena dapat menambah pemahaman tentang fenomena lingkungan hidup yang rumit dan mendorong perilaku ramah lingkungan. Beberapa jenis game yang biasa digunakan untuk membawakan pesan lingkungan hidup termasuk role-play game (permainan peran), board game (permainan papan), dan video game (permainan video).

Organisasi Palang Merah/Bulan Sabit Merah sudah sejak lama menggunakan role-play game untuk meningkatkan pemahaman tentang perubahan iklim kepada penduduk di perdesaan. Beberapa game menarik yang diciptakan untuk di dalam atau di luar ruang berjudul Pulau Tenggelam, Permainan Gas Rumah Kaca, Kuasai Bencana dan Sebelum Badai.

Bermain game adalah kegiatan menyenangkan yang mendorong interaksi sosial dan pembelajaran. Para pemain harus membuat keputusan dan konsekuensinya tergantung pada seberapa pandai mereka  memproses informasi, ditambah dengan faktor keberuntungan. Unsur kerjasama diperlukan sehingga pemain dapat memutuskan tindakan yang terbaik bukan hanya bagi mereka tetapi juga bagi komunitas masing-masing.

Board Game mulai tenar sejak ribuan tahun yang lalu. Penemuan sejarah menunjukkan bahwa dadu sudah ada sejak 5000 tahun sebelum Masehi di sekitaran Sungai Nil, Tigris dan Eufrat di Timur Tengah.

Dari masa ke masa board game terus berkembang, dengan permainan yang sangat mendunia seperti Catur, Monopoli, Scrabble, dan Ular Tangga. Monopoli kemudian menjadi basis game lingkungan seperti Oceanopoly dan Earthopoly.

Annisa Hasanah dari Ecofun Indonesia menciptakan seri board game lingkungan berlabel Ecofunopoly. Paling tidak sudah ada tujuh jenis permainan yang dipasarkan, diantaranya EcoCity, Taman Nasional, Emisi Karbon, Arsitek Lanskap, Mengenal Sampah, Perdamaian dan Toleransi serta Siaga Banjir.

Disamping menambah pengetahuan lingkungan, ternyata board game membawa banyak manfaat termasuk menambah keterampilan untuk mengatasi masalah, melatih kesigapan dan mengurangi stres.

Role-play game, board-game dan video game mempunyai peran dan penggemar masing-masing, walaupun dua jenis pertama tidak dapat menyaingi popularitas video game baik yang dimainkan melalui konsol, komputer, atau ponsel. Video game sangat digemari karena mengandung  elemen soundtrack, grafik, ragam karakter, petualangan dan juga cerita.

Walaupun belum banyak, para ilmuwan bersemangat menggubah video game terkait masalah lingkungan global. Menurut The Telegraph ada  Block’hood dari Plethora Project tentang kota dan lingkungan Hidup, Eco dari Strange Loop Games tentang sumber daya terbarukan, serta Rain World dari Videocult tentang Bumi yang hancur karena langkanya sumber daya hayati.

Jika saja para ilmuwan bekerja sama dengan penggubah game terkenal, mungkin hasilnya akan lebih spektakular seperti video game seri The Legend of Zelda yang diciptakan Shigeru Miyamoto and Takashi Tezuka pada tahun 1985. Sampai kini sudah ada18 jenis yang semuanya sangat digemari dengan total penjualan mencapai angka fantastis lebih dari 100 juta unit. Seri terbarunya,  The Legend of Zelda: Breath of the Wild terpilih sebagai Game of the Year tahun 2017.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Kebijakan Itu Sah-sah Saja, Selagi Pemerintah Bisa Tanggungjawab             Kegalauan Anies, Lahirkan Kebijakan Itu             Bukan Sekadar Buat Aturan, Tapi Bangkitkan Rasa Kepedulian              Tidak Ada Alasan Mengabaikan Putusan MK             Keputusan KPU Mengembalikan DPD Khittahnya             Awasi Distribus Beras dengan Benar!             Koordinasi dan Komunikasi Menko Perekonomian Buruk              Bersaing dulu di ASEAN             Harus Ada Transformasi Struktural Industri              Tingkatkan Daya Saing Produk Kita