Terorisme Hamil Tua, Para Pemimpin, dan BIN
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka

14 May 2018 11:00

Peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya, merupakan bentuk terorisme yang telah memasuki tahapan sangat serius. Bom bunuh diri yang selama ini ditakutkan akan diadopsi oleh kelompok teroris di Indonesia, akhirnya menjadi kenyataan. Karena pada saat bom bunuh diri dijadikan metode oleh para teroris untuk mendapat perhatian, pada saat itulah pertanda bahwa gerakan terorisme yang genuine telah sampai pada puncak kematangan. 

Dipastikan telah menyebar para pembaiat yang bertugas menyediakan ‘para pengantin’ yang siap menjalankan ‘jihad keblinger', rela mengorbankan nyawa dengan imbalan ‘surga’ versi para pembaiat. Dengan bukti bagaimana seorang ibu dengan dua orang anak rela meledakkan dirinya, indikasi bahwa mereka bukan satu-satunya ‘pengantin’ yang siap menjalankan perintah untuk ‘mati sahid’ versi sang pembaiat, sudah harus kita yakini. 

Lewat tragedi kemanusiaan yang terjadi di Surabaya, masyarakat menuntut fihak intelijen negara (BIN) lebih mampu dalam mengantisipasi dan melakukan pelacakan dan penyisiran secara intensif terhadap gerakan para teroris ini. Tuntutan masyarakat ini tercermin dari berbagai komentar dalam berbagai postingan di media massa yang meminta kepala BIN untuk mundur dari jabatannya. 

Hal ini terjadi karena ketidaktahuan mereka betapa kepala BIN, Jenderal Polisi Budi Gunawan, telah bekerja siang malam menjalankan tugas yang diembannya. Hanya saja kedekatan dengan partai tertentu telah melahirkan berbagai pandangan negatif yang kesemuaannya tentu hanya berdasarkan penilaian lewat asumsi yang keliru. 

Karenanya, kepercayaan masyarakat yang merosot terhadap BIN perlu segera dibangun kembali. Untuk sementara Kepala BIN tidak usah terlalu dalam menyelam ke persoalan pilpres dan berbagai kerja politik institusi partai peserta pemilu-pilpres. BIN sebagai lembaga intelijen negara, jauh lebih dibutuhkan untuk berkonsentrasi penuh melakukan deteksi intensif terhadap gerakan terorisme yang sekarang ini telah memasuki ‘masa hamil tua’.   

Agar kepercayaan masyarakat kembali terbangun, kredibilitas BIN sebagai institusi intelijen milik negara, menjadi penting untuk ditampilkan secara nyata. Tentunya dalam bentuk capaian kualitas hasil deteksi dini yang akurat tentang gerakan terorisme yang dilakukan kelompok teroris yang luarbiasa tak mengenal perikemanusiaan dalam melakukan kegiatan operasinya.

Sebagai catatan, walau sasaran kali ini yang dipilih para teroris adalah tiga gereja kaum Nasrani, mengaitkan terorisme dengan Islam jelas pandangan keliru, menyesatkan, dan merupakan bahasanya pengelola media massa di dunia Barat, utamanya Amerika. Tidak ada samasekali kaitan Islam sebagai agama yang rahmatanlilalamin dengan terorisme yang biadab tanpa peri kemanusiaan. Teroris ya teroris! Membunuh secara biadab dengan jalan bunuh diri, jelas bukan ajaran islam. Lebih tepat digolongkan pada kaum radikal yang sesat dan tak berpihak pada akal sehat.

Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Surabaya ini bukanlah suatu tindakan nekat yang baru tiba-tiba saja terjadi. Gerakan teroris yang beruntun terjadi di tahanan Bareskrim Polri di kompleks Brigade Mobil (Brimob) Kelapa Dua, dan yang berlanjut dengan bom bunuh diri di Surabaya, sangat sulit untuk dipercaya bahwa apa yang terjadi di Markas Brimob Kelapa Dua dan bom bunuh diri di Surabaya merupakan gerakan sporadis tanpa ada yang mengorganisir.

Melakukan sapu bersih para teroris ini tidak mudah dilakukan mengingat bertumbuh suburnya kelompok garis keras sudah terjadi pembiaran selama belasan tahun sebelum rezim Jokowi berkuasa. Akan hal ini masyarakat cukup memahami dengan baik, khususnya lagi para pengamat. Oleh karenanya penanganan masalah terorisme yang hanya bersifat reaktif, baru bereaksi saat terjadi aksi teror, dipastikan akan tidak mencapai sasaran apalagi capaian maksimal. Membasmi sampai ke akar-akarnya berarti mempelajari peta permasalahan, penyebab dan pemicu, serta sumber permasalah dan ideologi yang melatar belakanginya. 

Atas realita tragedi kemanusiaan yang terjadi di Jawa Timur, himbauan kepada para pemimpin, berhentilah saling serang dan menjelekkan, yang sangat kosong manfaat. Khusus kepada para elite dan pemimpin politik di negeri ini, berhentilah eker-ekeran memperebutkan tulang yang zero nilai. Kondisi yang lebih damai dan nyaman, akan sangat membantu percepatan bagi aparat keamanan dalam menjalankan tugas pengamanan mencapai hasil kerja yang maksimal.

Sementara kepada institusi BIN, akan lebih efektif meraup hasil kerja yang diharapkan bila segera kembali ke khitoh dan kodrat keberadaannya sebagai Badan Intelijen Negara..semoga!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Bangun Infrastruktur, Juga Manufaktur Orientasi Ekspor             Capaian yang Bagus, Upayakan Terealisasi             Perang Kepentingan Melawan Korupsi             Nilai-Nilai Pancasila Sudah Lama Tewas             Setop Adu Nyinyiran             Pembenahan ke Dalam di Era Disrupsi              Mencegah 'Barjibarbeh'             Perlu Tindak Lanjut Komitmen Investasi             Tantangan Fiskal Di Tengah Gejolak Global             Akhlak Turun Ke Titik Nadir, Seks Bebas Tumbuh Subur