Terlalu Pagi Prediksi Juara Pileg-Pilpres 2019
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
07 December 2018 11:30
Mereka yang tidak terlalu mengikuti perkembangan dunia politik, sering bertanya kepada saya; siapa nanti yang bakal keluar sebagai juara pada Pileg dan Pilpres 2019. Tidak hanya yang berada di dalam negeri, teman-teman dari luar negeri maupun para mahasiswa kita yang tengah belajar dan warga negara Indonesia yang tengah bekerja di luar negeri, banyak yang juga melontarkan pertanyaan serupa. 

Pertanyaan lebih teknis lagi menyoal apakah apa yang digelontorkan oleh sejumlah lembaga survei bisa dijadikan pegangan untuk memprediksi hasil akhir Pileg dan Pilpres 2019? Munculnya pertanyaan ini dipicu oleh seringnya mereka menerima kiriman pesan singkat lewat WA dari sejumlah Lembaga Survei. Hasil survei mereka yang dilansir lewat pesan singkat WA menyodorkan tingkat elektabilitas para kandidat capres-cawapres maupun partai peserta pemilu. Tentunya berikut angka-angka dan penjelasan yang mencoba menjastifikasi angka-angka yang tersuguh secara rasional  

Denny JA merupakan salah satu pegiat survei Pileg-Pilpres yang paling aktif mengirimkan hasil kajiannya pribadinya. Angka-angka prediksinya tentang tingkat perolehan suara dari masing-masing kandidat per hari atau minggu saat digelontorkan, hadir sebagai ‘fatwa’ Denny JA, ‘dewa’nya Lembaga Survei Pemilu. Tentu saja kirimannya cukup membantu kita untuk ‘berprasangka’ atau turut bermain untuk mengira-ngira siapa yang kelak bakal keluar sebagai juara. Akurasinya? Sangat naif bila terlalu mengandalkan angka-angka prediksi sang Dewa ini untuk dipegang sebagai angka yang akurat (terjadi) seakan angka itulah yang bakal muncul sebagai hasil akhir pada Pileg-Pilpres 2019.

Dari dua peristiwa fenomenal, Pilkada Jakarta dan Jabar yang lalu, terbukti prediksi sang Dewa meleset jauh. Walau di beberapa daerah lain cukup banyak yang akurat. Biasanya ketika di daerah tersebut peristiwa politik pilkadanya landai-landai saja, prediksi Denny cukup kredibel untuk bisa dijadikan pegangan. Namun ketika dinamika politik begitu tinggi dengan berbagai multi dimensi problema politik yang mewarnai perhelatan, peristiwa politik yang anomali dan hasil akhir yang mengejutkan sering terjadi. 

Itulah sebabnya mengapa ketika sejumlah kawan bertanya kepada saya tentang siapa yang bakal keluar sebagi juara pada Pileg-Pilpres 2019, jawaban saya berikan hanya sebatas hitungan hari dan minggu saat pertanyaan dilontarkan. Salah satu pertimbangannya adalah kondisi objektif pasar politik kita yang masih liar dan berkembang dinamis seiring fluktuasi emosi pasar yang acap kali menyuguhkan sejumlah kejutan. Hal mana berkaitan erat dengan kian menipisnya faktor kesetiaan pemilih kepada partai maupun individu kandidat. Pendekatan dan pola hubungan antara pemilih dengan partai dan individu calon-kandidat yang serba praktis-pragmatis dan jauh dari ikatan rasional-ideologis, membuat fluktuasi minat-simpatik masyarakat terhadap calon partai maupun individu kandidat yang menjadi pilihan, menjadi sangat tergantung pada situasi dan kondisi beberapa hari jelang hari H. 

Ramai dan riuh rendahnya dukungan para pemilih kepada seorang calon legislator, capres, maupun partai, jauh-jauh hari sebelum hari H di suatu wilayah, misalnya ambil saja desa A, tidak berbanding lurus dengan hasil akhir pada saat penghitungan suara. Saya masih ingat ketika seorang tokoh partai yang sangat disegani dan dihormati, pada pemilu yang lalu menjanjikan kepada saya bahwa perolehan suara partainya di desa A pasti akan melejit melampaui perolehan suara partai-partai lainnya. Salah satu keyakinannya karena di desa tersebut berbagai bantuan dan fasilitas untuk kegiatan sosial kemasyarakatan telah ia adakan. Camat dan segenap slagorde birokrat kelurahan pun memberi harapan begitu meyakinkan. Hasilnya? Ternyata di luar dugaan. Masih beruntung keluar sebagai juara ketiga yang hampir saja melorot ke nomer urut empat.

Kok bisa terjadi? Yah begitulah adanya. Ketika tuntutan normatif mereka pada hari H tidak terealisir, maka seluruh tumpukan jasa dan kebaikan yang tidak berdampak langsung kepada individu pemilih, begitu cepat terlupakan. Pasalnya, budaya amplop jelang hari H sudah menjadi tuntutan dalam kaitan praktik lapangan yang serba praktis-pragmatis. Jelang hari H pertanyaan popular yang menggema; kok gak ada amplopnya? Bila sepi tanpa reaksi, mereka pun serempak beralih ke pintu baru yang menyediakan amplop dan tebaran rupiah yang langsung dapat dinikmati dan dirasakan langsung sebagai imbalan ‘partisipasi’ politik mereka. Calon yang dirasa pelit jelang hari H, dipastikan akan lewat oleh calon yang dikenal sebagai calon dermawan jelang hari H.

Apakah contoh peristiwa seperti di atas hanya merupakan sebuah kasus semata? Sayangnya harus saya berani katakan peristiwa yang memilukan ini hampir merata terjadi di seluruh penjuru Tanah Air. Perilaku menyedihkan ini bukan begitu saja ada dan tiba-tiba muncul menjadi kebiasaan. Para kandidat legislator yang di partainya sendiri saling sikut untuk meraih perolehan suara, melakukan secara intensif pendidikan money politic kepada massa pemilih. 

Partai pun di sepanjang lima tahun, absen melakukan pendidikan politik kepada rakyat yang menjadi kewajibannya. Yang dipertontonkan justru adegan eker-ekeran yang tak karuan. Sehingga massa rakyat pun mengambil sikap; buat apa berkomitmen jauh-jauh hari buat mereka yang gak jelas ini? Mending konkret-konkret saja; In God we trust, the rest pay cash…Kepada Tuhan kami percaya…selebihnya bayar dulu donk !

Itulah sebabnya, bagi yang berada di atas angin sekarang ini, jangan lengah. Nasibnya bisa seperti layangan putus bila terlalu tinggi dilambungkan namun tak pandai membaca dan memainkan ke mana arah angin berhembus. Apa lagi bila pemegang tali layangan adalah mereka yang terbiasa hanya memainkan pesawat terbang mini yang dijalankan oleh motor penggerak (remote controle). Beda boss…main layangan ada seninya dan perlu jam terbang untuk lihai mengendalikannya!

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang