Terhimpit Krisis, Pemerintah Harus Segera Umumkan Paket Stimulus
Anthony Budiawan
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 19 March 2020 10:00
Watyutink.com - Pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan hebat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga Rabu, 18 Maret 2020, masih turun, minus 2,83 persen. IHSG ditutup turun menjadi 4.330.

IHSG ini merupakan yang terendah sejak empat setengah tahun terakhir. Hanya dalam waktu dua setengah bulan saja, sepanjang 2020 sampai 18 Maret, indeks turun 31,25 persen. Terburuk setelah krisis global 2008 yang turun sekitar 50 persen. Krisis 2020 ini bisa lebih buruk dari 2008, mengingat musibah virus Corona baru saja dimulai, dan bisa makan waktu cukup panjang.

Kurs rupiah terhadap dolar AS juga tertekan. Rupiah turun begitu cepat. Hanya dalam waktu sekitar dua bulan saja turun dari sekitar Rp13.600 menjadi Rp15.232 per dolar AS. Dan tekanan terhadap rupiah semakin hebat dalam satu minggu ini. Rupiah turun 900 rupiah per dolar AS, dari Rp14.323 pada 11 Maret 2020 menjadi Rp15.232 pada 18 Maret 2020.

Kedua indikator tersebut masih bisa memburuk. IHSG bisa turun lebih buruk dari krisis 2008 seperti disebutkan di atas dan kurs rupiah juga berpotensi turun tajam. Dan sangat mungkin membuat rekor terendah baru. Kurs rupiah Rp16.000 per dolar AS mungkin akan tembus hanya dalam beberapa hari ke depan. Kurs rupiah menjadi Rp18.000 atau bahkan Rp20.000 per dolar AS bukan ilusi.

Hal ini bisa terjadi kalau investor tidak yakin pemerintah dapat mengatasi krisis ini dengan baik: Krisis kesehatan akibat virus Corona maupun krisis ekonomi. Dalam hal ini, investor asing akan menjual aset keuangan mereka, baik saham maupun surat berharga negara, mengakibatkan terjadinya dollar outflow, membuat indeks saham terpuruk dan kurs rupiah tertekan lebih dalam.

Terlebih lagi, sentimen pasar global juga masih negatif. Bursa saham di dunia masih turun terus. Di dalam negeri, tidak terdengar langkah dan kebijakan pemerintah selanjutnya untuk menahan krisis ini. Secara global, kebanyakan negara di dunia sudah memberi respons untuk menggelontorkan paket stimulus penopang krisis.

Amerika akan memberi paket stimulus lebih dari satu triliun dolar AS. Jerman akan memberi 500 miliar euro untuk pinjaman kepada semua perusahaan, baik besar maupun kecil, yang terkena dampak pandemi global ini, plus pemberian dan penjaminan kredit ekspor. Perancis akan memberi paket stimulus 45 miliar euro lebih kepada individu karyawan, dan 300 miliar euro sebagai program penjaminan pinjaman kepada perusahaan yang terkena dampak. 

Sedangkan kebijakan fiskal Indonesia tidak jelas bagaimana dapat menahan tripel krisis yang hebat ini. Krisis APBN, krisis neraca pembayaran dan krisis ekonomi akan semakin dalam. Ditambah krisis kesehatan, derita Indonesia semakin lengkap. Karena pemerintah sedang menghadapi kesulitan keuangan, atau krisis APBN, sehingga sulit memberi stimulus yang memadai.

Harga minyak mentah dunia hari ini turun tajam. WTI turun menjadi sekitar 21 dolar AS per barel, terendah sejak 18 tahun yang lalu. Brent turun menjadi sekitar 25 dolar AS per barel, terendah sejak 2003. Di dalam asumsi APBN 2020, harga acuan minyak mentah Indonesia (ICP) dipatok 63 dolar AS per barel. Turunnya harga minyak mentah dunia tentu saja membuat harga komoditas juga turun. Membuat penerimaan APBN terpangkas tajam.

Di samping itu, penerimaan pajak juga akan turun tajam seiring turunnya aktivitas ekonomi di era krisis Covid-19 ini. Krisis APBN tidak terhindarkan.

Kondisi ini membuat posisi pemerintah sulit untuk memberi paket stimulus yang memadai. Termasuk untuk menanggulangi pandemi virus Corona. Sehingga kepercayaan investor memudar. Memicu capital (dollar) outflow, dan menekan kurs rupiah.

Kalau pemerintah tidak segera mengumumkan kebijakan ekonomi yang cukup berarti, rupiah akan anjlok. Bisa tergelincir jauh di bawah Rp16.000 per dolar AS, akibat tidak bisa menahan capital outflow uang investor asing yang ada di Indonesia yang jumlahnya sangat besar. Mencapai 410,8 miliar dolar AS per akhir Januari 2020.

Oleh karena itu, Pemerintah harus segera mengumumkan paket stimulus dan kebijakan ekonomi yang dapat menenangkan pasar. Jangan ditunda lagi. Detik, menit, jam dan hari sangat berharga. Terlambat akan berakibat fatal. 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF