Teladan Hidup Sederhana Para Pendiri Bangsa
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 13 August 2020 14:00
Watyutink.com - Dalam buku Untuk Republik: Kisah-kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa, Haris Munandar dan Faisal Basri mengisahkan kesederhanaan hidup Haji Agus Salim. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan dan pejabat tinggi yang pernah menempati posisi penting di beberapa lembaga negara, Haji Agus Salim tidak memiliki rumah pribadi sampai akhir hayatnya. Dia adalah seorang menteri yang tinggal di rumah kontrakan, seorang anggota dewan yang sering kekurangan makan, dan seorang diplomat yang tidak bisa membayar listrik.

Diceritakan juga oleh Mr. Mohammad Roem, rumah kontrakan Agus Salim bukanlah rumah mewah, tetapi rumah sempit yang berada di kawasan kumuh dan becek. Rumah yang dikontrak juga sering bocor jika turun hujan. Meski demikian Agus Salim tak pernah mengeluh, dia tetap menikmati hidup yang sangat sederhana dengan penuh suka cita. Ketika musim hujan turun dan rumah kontrakannya bocor, sang istri, Zainatun Nahar, menadahi bocoran dengan ember. Kemudian mereka mengajak anak-anaknya yang masih kecil bermain perahu kertas memanfaatkan bocoran air hujan yang ditampung di ember.

Hidup sederhana juga dituntujukkan oleh KH. Wahid Hasyim. Sebagaimana dikisahkan KH. Saefudin Zuhri dalam bukunya Berangkat Dari Pesantren, beliau selalu menjalankan puasa sunnah meski dalam kondisi apapun. Ini dilakukan karena beliau ingin bersikap empati pada penderitaana rakyat. “Di saat masyarakat hidup sulit, tak elok jika para pemimpinnya hidup dengan mewah dan bersenang-senang. Kita berlapar-lapar supaya tidak melupakan nasib kaum lapar”, demikian kata Kiai Wahid ketika ditanya mengapa dia rajin melaksanakan puasa sunnah. Pernah suatu saat beliau hanya sahur dengan seputir telur dan segelas teh sisa. Saat lepas dari jabatan Menteri beliau menerima secara legowo; “Tak usah kecewa! Saya toh bisa duduk di rumah. Saya mempunyai banyak kursi dan bangku panjang, tinggal pilih saja,” katanya mengundang gelak tawa orang –orang di sekitarnya. (Saifudin Zuhri : 2013).

Tokoh lain yang hidup sederhana adalah Moh. Hatta. Begitu sederhanya hidup Bung Hatta, beliau tidak bisa membeli sepatu yang diinginkan sampai akhir hayatnya, meskipun beliau sudah menjabat sebagai Wakil Presiden. Saking kepinginnya memiliki sepatu tersebut, beliau sempat menabung untuk membelinya, bahkan sempai menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Namun tabungan beliau tak cukup karena kebutuhan rumah tangganya. Sepatu bally yang diinginkan itu tidak terbeli sampai beliau wafat.

I.J. Kasimo juga sosok pendiri bangsa yang hidup sederhana. Berdasar kesaksian Harry Tjan Silalahi, selama puluhan tahun, Kasimo menyuguhi tamu dengan cangkir yang sama. Dia adalah sosok yang mampu bertahan dari godaan harta, tahta dan wanita. Ia selalu bisa menarik batas antara milik pribadi dan milik negara. Kalaupun ada pamrih pribadi, tak lain seperti yang sering ia utarakan, "agar malam hari dapat tidur nyenyak." Kasimo juga merupakan sosok yang memiliki solidaritas tinggi. Dia pernah membantu Prawiro Mangkusasmito, seorang tokoh Muhammadiyah dari Partai Masyumi yang menjadi Wakil Perdana Menteri yang tidak memiliki rumah. Ketika tahu Prawoto belum memiliki rumah dan hendak membeli rumah yang sedang dikotraknnya, tanpa sepengatahuan orang lain, Kasimo segera bergerak memberikan bantuan. Saat ditanyakan itu, Kasimo berdalih, "Kalau tangan kananmu memberikan sesuatu, janganlah tangan kirimu tahu," kata Kasimo sambil mengutip kata-kata dalam Injil. 

Kisah ini hanya menampilkan sebagian kecil dari para pendiri bangsa. Masih banyak para pendiri bangsa lainnya yang menjalani laku hidup sederhana seperti ini. Keteladanan ini tidak saja mengenai kesederhanaan hidup, tetapi juga solidaritas sosial dan rasa empati yang tinggi yang tumbuh di antara mereka. Meski hidup dalam berbagai berbedaan, masing-masing bisa berpegang teguh pada ideologi dan pandangan politik tapi mereka tetap akrab bersahabat. Di ruang sidang mereka bisa berdebat keras, tapi di ruang sidang mereka bisa saling membantu, mulai dari hal kecil; memberikan tumpangan kendaraan sampai urusan membeli rumah.

Kisah-kisah di atas menunjukkan, para pendiri bangsa ini juga memiliki keteguhan hati dan kekuatan jiwa untuk hidup sederhana bahkan cenderung melarat. Mereka berhasil lepas dari berbagai godaan duniawi, seperti harta dan berbagai kenikmatan hidup lainnya. Padahal sebagai pejabat negara, mereka memiliki kesempatan untuk melakukan semua itu. Semua ini bisa dilakukan karena mereka benar-benar memikirkan nasib bangsa, meletakkan kepentingan bangsa dan negara serta nasib rakyat Indonesia di atas kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok.  

Ketika dunia politik diwarnai dengan hingar-bingar kenikmatan dunia, ketika para politisi telah hidup mewah dengan bergelimang harta dan fasilitas, ada baiknya kita mengungkap laku hidup para pendiri bangsa yang sangat sederhana bahkan cenderung kekurangan. Ini penting dilakukan sebagai cermin untuk mengaca diri dan sebagai pengingat bahwa berpolitik bukanlah semata alat untuk merebut kekuasaan, dan kekuasaan bukanlah alat mengeruk kekayaan.

Sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan oleh para pendiri bangsa, berpolitik adalah perjuangan mensejahterakan rakyat dan menjaga martabat bangsa. Sorang pejabat dan pemimpin bangsa harus bisa memberikan cotoh laku hidup hidup sederhana. Dengan kesederhanaan ini seorang pemimpin bisa lepas dari godaan  duniawi, sehingga bisa bersikap jujur dan bersih.

Semagat hidup sederhana dan penuh empati dari para pendiri negeri ini juga perlu dipaparkan di hadapan generasi millenial agar mereka bisa mengambil teladan. Dengan memaparkan kisah teladan para pendiri bangsa ini, akan bisa mengobati rasa frustasi generasi milenial yang merasa tidak memiliki figur ideal (ideal type) yang bisa dijadikan teladan dalam kehidupan berbangsa. Praktik politik yang pragmatis dan transaksional dari dipertontonkan para politisi, kehidupan mewah dan glamour yang dilakukan oleh para pejabat negara, telah membuat bangsa ini mengalami devisit keteladanan. Akibatnya generasi milenial kehilangan figur teladan, mereka tidak memiliki rujukan yang bisa dijadikan pegangan dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di sinilah pentingnya memunculkan kembali kisah-kisah teladan para pendiri bangsa agar bisa menjadi sumber inspirasi sekaligus rujukan hidup generasi milenial. Para pendiri bangsa tidak hanya berhasil mendirikan bangsa ini dengan merebut kemerdekaan dari penjajah, tetapi juga berhasil memberikan teladan menjadi pemimpin yang baik; tidak serakah, tidak egois dan tidak kemaruk. Meski memiliki memiliki kesempatan hidup mewah dan bergelimang harta, tapi mereka tetap melilih hidup sederhana demi kesejahtaraan generasi berikutnya.

Ada baiknya dalam memperingati ulang tahun Kemerdekaan RI yang ke-75 tahun kita, bangsa ini kembali belajar dari kesederhanaan hidup para pendiri bangsa. Siapa tahu hal ini bisa menghambat terjadi praktik politik transaksional dan sikap pragmatis para pemimpin bangsa yang saat ini sedang terjadi.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF