Tekad Pemuda Menghadapi Krisis Iklim
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 26 September 2020 10:00
Watyutink.com - Greta Thunberg, seorang remaja Swedia, mulai mogok sekolah pada Jumat, 20 Agustus 2018 di usianya yang baru 15 tahun. Ia duduk seorang diri di luar Parlemen Swedia, untuk memaksa politisi bertindak mengatasi perubahan iklim. Menurut Greta, apa gunanya belajar untuk masa depan, yang mungkin tidak akan ada karena dampak perubahan iklim?

Tanggal 25 September, kemarin, mogok sekolah Greta sampai pada minggu ke-110. Namun ia tidak lagi sendiri, karena upayanya telah memberi inspirasi bagi orang muda di berbagai penjuru dunia  yang membentuk gerakan Fridays for Future (Jumat untuk Masa Depan). Tekad para pemuda untuk mogok sekolah dan melaksanakan berbagai kegiatan, adalah mengatasi krisis iklim dan menciptakan masyarakat yang hidup selaras dengan sesama dan lingkungannya.

Ada lebih dari 3200 kegiatan dan mogok sekolah di seluruh dunia dengan tetap menjalankan Protokol COVID-19 pada 25 September 2020, hari yang dicanangkan sebagai The Global Day of Climate Justice.  

Di Indonesia, setidaknya ada 30 kegiatan yang tercatat, salah satunya “Dialog Fridays for Future Forum bersama Pemuda Indonesia.” Tujuan Dialog adalah berbagi informasi dan aspirasi terkait isu lingkungan yang saat ini perlu menjadi prioritas pembuat kebijakan, khususnya dalam menghadapi perubahan iklim.

Melalui diskusi kelompok terarah dan komunikasi intensif, para pemuda Indonesia dari 40 organisasi, yang bergiat di bidang lingkungan hidup dan perubahan iklim, merangkum masalah-masalah mendesak yang perlu perhatian khusus dari para pengambil keputusan, serta program dan kebijakan yang krusial ditetapkan.

Tahun lalu, pada “UN Youth Climate Summit” pada Markas PBB di New York, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres yang biasa menjadi “keynote speaker” atau pembicara utama, mendapat kehormatan menjadi “keynote listener” atau pendengar utama. Ia duduk dalam sebuah panel menyimak pendapat para tokoh muda pejuang iklim yang berasal dari beberapa negara

Ketika The Global Day of Climate Justice kemarin, sekelompok pemuda Indonesia membuktikan profesionalisme mereka dalam Dialog Digital Fridays for Future yang dihadiri antara lain dua anggota DPR (Budisatrio Djiwandono, Komisi IV dan Dyah Roro Esti, Komisi VII),  bersama dengan Wakil Menteri Negara Lingkungan Hidup, DR. Alue Dohong, figur lingkungan Rachmat Witoelar, pejabat tinggi beberapa Kementerian dan Lembaga, akademisi, serta pengusaha. Seperti juga Sekjen PBB, para tokoh bersedia mendengarkan “Perspektif Pemuda Mengenai Dampak dan Penanganan Perubahan Iklim di Indonesia” yang telah dirangkum sebelumnya di bawah bimbingan Dino Fitriza, seorang climate reality leader, didampingi beberapa mentor, dengan pemandu diskusi Lia Zakiyyah.

Para pemuda yang datang dari 40 organisasi itu memiliki  data dan pengalaman lapangan. Sejumlah masukan untuk pemerintah beserta informasi penunjangnya meliputi banyak hal di bidang kehutanan, energi, limbah, dan agrikultur. Diantaranya permintaan agar generasi muda disertakan dalam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan perihal isu lingkungan hidup, kehutanan, dan perubahan iklim di Indonesia. Kebijakan juga diharapkan dapat mendukung investasi dan menyediakan insentif bagi pengembangan energi baru terbarukan. Pemerintah juga diminta terus mengkampanyekan program terkait sampah dan giat ramah lingkungan lainnya. Selain itu juga perlu road map untuk mencegah dan menekan kemubaziran pangan, dan juga  alokasi sebagian lahan Ruang Terbuka Hijau untuk urban farming.

Anggota DPR yang hadir dan para pembuat kebijakan menghargai masukan pemuda Indonesia dan membuka kesempatan untuk terus berkomunikasi mengawal aspirasi yang telah disampaikan. Ini disertai pandangan untuk memperkuat upaya para pemuda  antara lain menggaungkan hal positif,  dan pemutakhiran data melalui lembaga otoritas. 

Anak muda, seperti Greta Thunberg dan yang lainnya di seluruh dunia, memang memiliki hak untuk didengarkan dan usulannya ditindak lanjuti. Mereka didukung kesepakatan  internasional, seperti Agenda PBB untuk Pemuda, dan Persetujuan Paris tentang Perubahan Iklim.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF