Tahun Politik 2018: Selamatkan Demokrasi, Go To Hell With Your HOAX!
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
02 January 2018 10:00
Tahun 2018 dinyatakan sebagai Tahun Politik. Dalam bahasa lain adalah tahun segala kemungkinan. Yang tak mungkin terjadi bisa terjadi. Sebaliknya, yang diprediksi bakal terjadi, bisa sama sekali tidak terjadi.

Bagi para pedagang atribut partai dan perlengkapan logistik kampanye pilkada maupun pemilu, inilah tahun yang dinanti-nanti. Merekalah sekelompok kecil masyarakat yang paling dinyamankan. Tahun Politik 2018 inilah momentum yang baik untuk mangais untung sebesar-besarnya.

Begitu juga bagi para penyedia massa. Mereka sangat paham, setiap partai pasti memerlukan luapan massa yang melimpah. Agar tampil seolah ribuan massa mendukung partai sang pemesan. Dengan imbalan uang sekitar Rp75.000 hingga Rp150.000 per hari, plus transportasi dan nasi bungkus, massa rakyat siap turun berkampanye. Tidak penting bagi mereka mengetahui program dan tujuan politik partai yang menyewa mereka. Cukup dengan hanya menghafal yel-yel penyemangat suasana kampanye.

Satu hari mereka bisa menjadi pendukung partai yang berbeda. Dengan tambahan partai-partai pendatang baru, mereka bakal kebanjiran ‘job’. Bagaimana dengan ribuan tukang ojek yang sekarang hampir semuanya bermetamorfosa menjadi kaum gojekers dan sejenisnya (Uber-Grab). Dulu mereka dengan mudah secara bergerombol menyediakan servis pelayanan Ojek For Campaign. Entah sekarang?!

Menarik untuk dicatat, memasuki Tahun Politik, kita akan menyaksikan banyak politisi dan fungsionaris partai yang mulai mengakrabkan diri pada massa rakyat. Terutama di tempat yang kelak bakal menjadi Daerah Pemilihan (Dapil)-nya. Juga dalam setiap musibah bencana alam dan sejenisnya. Bakal mulai ramai dikunjungi para ‘relawan’ partai. Tiba-tiba mereka menjadi sigap tampil sebagai dewa penolong.

Pemandangan di lokasi musibah pun bakal menjadi sangat menyebalkan dan mengudang sakit perut menahan jengkel. Karena rakyat mulai sadar, pasca pemilu biasanya akan sangat terasa bahwa massa rakyat hanya dijadikan obyek politik kepentingan belaka. Walau tentunya masih ada sejumlah politisi yang selalu berada di tengah rakyat. Hanya sayang, jumlahnya sangat kecil sekali!

Memasuki Tahun Politik, yang mengerikan bukan masalah lebih banyak partai yang bakal ikut Pemilu 2019. Yang miris dan mengerikan membayangkan hujan ribuan pemutarbalikan fakta yang diviralkan dalam kerangka perang HOAX. Sosial media (sosmed) akan menjadi battle ground-nya para pendukung partai yang saling serang lewat berita-berita HOAX. Sehingga netizen (publik) dibuat tak tahu lagi mana sebenarnya yang BENAR, dan yang sebenarnya SALAH namun dibenarkan lewat pembenaran. Karena dalam politik, KEBENARAN hanya milik yang menang; KEBENARAN tidak pernah melekat pada yang kalah.

Sementara dalam kaidah perang HOAX, BENAR atau SALAH, bukan hal yang diutamakan. Karena BENAR dan SALAH terkurung dalam ruang dan waktu yang begitu dinamis bergerak dan cepat berubah.Yang terpenting bagi HOAX-er; sejauh mana publik netizen termakan lontaran isu yang ditebar. Contoh, seseorang yang semula mengidolakan si A, bisa berbalik menjauhi bahkan memusuhinya. Perubahan ini terjadi karena virus HOAX telah bekerja dengan tepat sasaran, mantap muatan, cepat  diserap, dan efektif.

Oleh karenanya, sekali lagi, rakyat penghuni dunia maya harus kembali bergerak. Seperti pada saat menyelamatkan dan mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru 2018—yang keren dan sukses!

Ayo kerek lagi bendera Civil Society. Bentuk barisan penyelamat rakyat dari keganasan perang HOAX. Sekaligus menghentikan pemanfaatan rakyat sebagai objek politik semata! Di Tahun Politik 2018, hingga Tahun ‘Perang’ Politik 2019!

Memasuki Tahun Politik, para pejuang Demokrasi Indonesia di dunia sosmed sudah harus mulai membuat list nama politisi busuk dan partai busuk yang ramai dihuni para koruptor. Untuk dipublisir secara berkala dan terencana. Termasuk nama para ‘politisi’ petualang, para ‘konglo’ hitam, dan para ‘penjahat’ yang menyelinap dan muncul di partai-partai baru!

Dengan tekad berjuang bersama, kita pasti bisa!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Eko Listiyanto

Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

FOLLOW US

Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas