Sudahi Aksi Terorisme! Sudahi Mempermalukan Agama Sendiri!
Achmad Fuad
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka

13 May 2018 13:00

Terminologi “jihad” yang amat mengerikan pernah disampaikan oleh orientalis D.B. Macdonald dalam Encyclopedie de L’Islam dengan kalimat: “Penyiaran Islam dengan senjata adalah suatu kewajiban agama bagi seluruh umat Islam”.

Padahal, jika Macdonald sedikit saja mendalami Al Qur’an tentang kosa kata bahasa Arab, beliau akan memperoleh penjelasan bahwa jihad tidak berarti ‘perang’. Perang dalam bahasa Arab adalah ‘qital ’ atau ‘harb’. Jihad sesungguhnya mengandung arti memeras tenaga atau bersungguh-sungguh (dalam melaksanakan ibadah) di jalan Allah SWT.

Semua teks yang telah tersebar (dan disebarkan?) ke seluruh dunia, oleh Barat, yang dipakai untuk menggambarkan Islam adalah ‘momok’. Islam sebagai ‘agama pedang’. Islam adalah ‘agama bom’. Hal yang dinisbatkan pada kejadian yang terjadi di wilayah Timur Tengah yang tengah terjadi konflik. Sebagai contoh, orang Barat menamakan Surat Al-Taubah ayat 5 sebagai ayat pedang: “Maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian”.

Ayat tersebut diputus dari ayat sebelumnya: “Kecuali orang-orang musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari perjanjian) itu dan tidak pula membantu seseorang yang memusuhimu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang muttaqin” (Q.S.At Taubah, 19: 4)  

Dengan demikian, perang tersebut itu dibolehkan sekedar hanya untuk melindungi agama, jika agama terancam, dan dilakukan di negara yang tengah berperang atau medan peperang (darul harb). Namun, jika perang tersebut dilakukan di negara aman, bukan darul harb, seperti Indonesia ini, tentu hal tersebut adalah salah kaprah.

Agak aneh, jika kemudian umat Islam sendiri yang justru mengamini tuduhan ini dan melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan D.B. Macdonald, dengan melakukan aksi bom bunuh diri atau aksi terorisme lainnya, akibat memaknai ayat Jihad secara serampangan. Seperti yang terjadi hari ini di Surabaya. Dimana telah terjadi aksi pemboman terhadap 3 buah gereja: Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya; Gereja Kristen GKI, Diponegoro, Surabaya; Gereja Kristen GPPS, Arjuna, Surabaya. Menurut keterangan, saat tulisan Berpikir Merdeka ini di tulis, masing-masing bom meledaknya hampir bersamaan.

Saat artikel ini ditulis, terdapat 9 orang korban jiwa, termasuk pelaku, dan 40 orang korban luka-luka. Sementara, menurut saksi mata di gereja Diponegoro menyebut, pelaku aksi bom berjenis kelamin perempuan, dengan membawa 2 orang anak dan 2 buah tas. Perempuan tersebut berusaha masuk ke dalam gereja, namun dilahangi/dihadang oleh petugas yang tengah berjaga. Kemudian terjadi lah ledakan.

Aksi terorisme yang hanya berjarak 5 hari dari kejadian di Mako Brimob, dan sehari setelah kunjungan Presiden Jokowi ke Sidoarjo dan pasuruan, Jawa Timur. Apa yang terjadi di Surabaya hari ini mungkinkah merupakan (rangkaian) skenario lanjutan dari yang terjadi di Mako Brimob kemarin? Siapa pelaku yang ‘bermain’ dalam aksi-aksi yang terjadi kali ini? Berarti masih ada dan teroganisir kelompok-kelompok teroris di Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan ini terbersit di benak kita mengikuti pertanyaan besar yang muncul di kepala kita saat ini; “ini gila! Dalam seminggu sudah terjadi dua kali aksi terorisme. Ada apa ini?”.

Upaya ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan elemen-elemen masyarakat lainnya yang selama ini berupaya sekuat tenaga menolak tuduhan para orientalis barat, seperti D.B. Macdonald, dengan menunjukkan sikap dan perilaku umat Islam sesungguhnya yang rahmatan lil ‘alamin, agama yang membawa ketenteraman bagi seluruh alam, serta merta sia-sia dan langsung tercoreng akibat perbuatan segelintir umat Islam yang secara serampangan memaknai jihad dan melakukan aksi terorisme yang ‘mempermalukan’ agamanya sendiri.

Duka mendalam kita sampaikan kepada para korban pada aksi bom bunuh diri di Surabaya ini, dan korban-korban aksi terorisme sebelum-sebelumnya. Iringan doa kita panjatkan untuk para korban, disertai tekad seluruh anak bangsa: aksi-aksi terorisme di Indonesia harus dihentikan.

Cukup! Sudahi aksi terorisme ini! Sudahi mempermalukan agama sendiri!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Bangun Infrastruktur, Juga Manufaktur Orientasi Ekspor             Capaian yang Bagus, Upayakan Terealisasi             Perang Kepentingan Melawan Korupsi             Nilai-Nilai Pancasila Sudah Lama Tewas             Setop Adu Nyinyiran             Pembenahan ke Dalam di Era Disrupsi              Mencegah 'Barjibarbeh'             Perlu Tindak Lanjut Komitmen Investasi             Tantangan Fiskal Di Tengah Gejolak Global             Akhlak Turun Ke Titik Nadir, Seks Bebas Tumbuh Subur