Suasana Pasca Pandemi Versi Futuris
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 30 May 2020 10:00
Watyutink.com - Melalui COVID-19, Planet Bumi memberikan pelajaran bahwa selama ini manusia hidup secara individualistis dengan mengabaikan nasib lingkungannya.

Jika roda ekonomi tetap dijalankan seperti sekarang, Bumi akan terus menciptakan krisis demi krisis, seperti banjir, cuaca ekstrem, meningkatnya permukaan laut, gagalnya pasokan pangan, dan berjangkitnya lebih banyak virus.

Sebenarnya berbagai hal di atas sudah sering dikemukakan oleh para pegiat lingkungan, namun kini lebih digaungkan oleh para futuris seperti Hazel Henderson, pendiri Ethical Markets Media.

Seorang futuris tidak memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan namun menggambarkan apa yang mungkin terjadi, dan dalam beberapa kasus, apa yang harus terjadi di masa depan. Ia memiliki latar belakang keilmuan, menggunakan berbagai cabang pengetahuan, hasil penelitian, data, informasi ribuan publikasi, dan analisis berdasarkan trend yang berkembang. Banyak futuris fokus pada satu topik seperti teknologi atau industri. Futuris lain mempelajari perubahan sosial atau masalah global seperti perubahan iklim dan kesehatan.

Salah satu futuris ternama adalah Alvin Toffler dengan bukunya “Future Shock” yang terbit tahun 1970. Buku yang terjual lebih dari 15 juta buah itu memaparkan dampak laju kemajuan teknologi yang semakin cepat terhadap individu, keluarga, dan masyarakat. Perubahan yang terjadi membuat banyak orang menjadi tertekan karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan langkah masyarakat sekelilingnya yang melaju bersama perubahan teknologi.

Seorang futuris profesional, menurut Association of Professional Futurists, mempelajari masa depan untuk membantu memahami, mengantisipasi, dan mempersiapkan perubahan yang akan terjadi. Ia cenderung mengambil perspektif yang lebih luas, mempertimbangkan cakrawala waktu yang lebih lama, dan memasukkan lebih banyak faktor dalam studinya dibandingkan analis ekonomi, spesialis teknologi, kritikus sosial ataupun komentator politik.

Sekarang setidaknya ada sekitar 10.000 praktisi futuris di seluruh dunia, baik yang bekerja di pemerintahan, perusahaan, maupun menjadi konsultan. Masa ini, para futuris sedang mempelajari potensi perubahan jangka panjang, tantangan, dan peluang pasca COVID-19. Mereka sibuk menekuni dan menulis tentang berbagai hal termasuk masa depan dunia kerja, pendidikan, perawatan kesehatan, rantai pasokan, keuangan, energi, dan keamanan nasional.

Peneliti di Futures Platform membuat tampilan radar visual 360 derajat yang merangkum trend pasca pandemi, disebut “COVID-19 The World After.”

Suasana pada tahun 2030 dan sesudahnya, ditampilkan pada radar itu. Beberapa layanan sosial akan menjadi otomatis, dan seluruhnya atau sebagian dipantau dan dikoordinasikan oleh kecerdasan buatan. Banyak ruang publik akan menjadi pintar dan interaktif, sehingga meningkatkan pengalaman pengguna dan perasaan aman. Pemakaian uang tunai akan berkurang atau berhenti sama sekali, pemantauan kesehatan akan menjadi berkelanjutan, dan penduduk akan dinilai dan dikategorikan beberapa kali dalam sehari. Pada saat yang sama, teknologi baru akan menawarkan sejumlah aplikasi untuk mengamati penjahat dan teroris. Guna menanggapi tantangan-tantangan ini, administrasi publik, pengambilan keputusan politik, dan sistem peradilan harus mengubah prosedur mereka agar antisipatif dan fleksibel.

Bidang Kesehatan dan Kesejahteraan perlu mengantisipasi kemajuan luar biasa dalam perawatan kesehatan, mirip dengan penemuan mikroba atau penemuan vaksin. Paling menonjol adalah penghentian penuaan, desain genom, perawatan dengan “stem cell,” penyembuh kanker universal dan obat untuk berbagai jenis virus. Pada saat yang sama, ada risiko sangat tinggi dalam perawatan kesehatan terkait resistensi antibiotik, berkurangnya air bersih, penyakit baru karena adanya teknologi mutakhir, bencana lingkungan, dan juga pandemi.

Sejatinya, alam semesta adalah sang penguasa, sehingga tidak pantas bagi manusia untuk terus-menerus mengabaikan prinsip keseimbangan dalam berbagai kegiatannya. Kini warga dunia perlu memastikan adanya kalibrasi terhadap sistem kehidupan guna masa depan yang lebih kohesif, lebih berkelanjutan dan lebih tangguh menghadapi “global shock.”

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF