Stop Milenialisasi Indonesia!
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
14 September 2018 11:10
Milenial bukan lagi sekedar terminologi yang mewakili periodisasi tahapan generasi berdasarkan waktu kelahiran. Milenial sudah menjadi bahasa pasar ekonomi dan politik. Bahkan tumbuh sebagai mitos bahwa mengabaikan eksistensi kaum milenial berikut gaya hidup dan budayanya, adalah sikap yang merugi bagi mereka yang ingin sukses secara ekonomi mau pun politik. Maka segala sesuatu yang dipasarkan di dunia ekonomi dan politik harus dikaitkan dengan Milleninial sebagai mantra dan kunci sukses. Sehingga upaya melakukan Milenialisasi Indonesia demi kemenangan pada  Pilpres 2019, menjadi semakin nyata terasa kehadirannya.

Belakangan ini Milenial bukan lagi kumpulan manusia yang lahir di seputar tahun 1980-pertengahan 90-an. Kecanggihan penguasaan berbagai alat komunikasi-media digital di dunia sosial media, menjadi ciri dari eksistensi mereka sebagai gaya hidup. Dan karena kekuatan sosial media begitu berpengaruhnya terhadap perilaku manusia (social and cultural behavior), kelompok manusia yang lahir di antara tahun 80-90an ini dianggap sebagai kelompok paling menentukan arah masa depan kehidupan dunia. Dalam kaitan ini para Industrialis di bidang teknologi komunikasi melihat trend dan gaya-pola hidup kaum milenial ini sebagai pasar yang sangat potensial bagi pengembangan dan sekaligus bisnis pemasaran teknologi komunikasi. 

Dengan sikap ini para raja teknologi komunikasi berhasil menggiring kaum muda sedunia untuk dikurung dalam penjara teknologi yang menawarkan realita dalam versinya sendiri. Realita kehidupan dikondens menjadi hanya sebatas layar kaca komputer dan berlanjut menjadi lebih kecil lagi sebatas layar gadget. Pola dan cara melakukan hubungan pun menjadi lebih mudah, cepat , walau penuh keseolahan namun seperti nyata terjadi. Kontak dan pertemuan fisik sudah semakin tereliminasi. Sentuhan fisik dan jabat tangan sudah cukup dilakukan lewat simbol-simbol yang tersedia dalam papan ketik gadget. 

Dengan melakukan kontak lewat simbol-simbol ini, secara psikologis terbangun sensasi seakan kita sudah melakukannya di dunia nyata…bersalaman, menyapa, berbicara dan bersilaturahmi. Apa yang terjadi di layar gadget, sekarang telah menjadi ‘realita’ yang diterima tanpa mempersoalkan lebih jauh atau memperhadapkannya dengan realita yang terjadi di dunia nyata. Hoax pun menjadi tumbuh subur. Hidup dalam keseolah-olahan menjadi biasa dan berkembang menjadi kenyataan hidup sehari-hari kaum muda kita. Mereka inilah yang sering dilebelkan sebagai kaum milenial. Dan mereka mempunyai dunianya sendiri, bahasanya sendiri, kegemaran, selera, gaya hidup dan budayanya sendiri dan seterusnya.

Jumlah mereka ini begitu besar, dipercaya bahwa sekitar 40 persen dari calon pemilih dalam Pemilu-Pilpres 2019 adalah mereka. Oleh karenanya melakukan persiapan untuk masuk ke dalam dunia mereka, para Calon Legislator maupun calon presiden dan Wakil presiden saling berlomba menguasai pasar Milenial ini. Penyesuaian terhadap selera, bahasa, gaya dan budaya keseharian mereka, menjadi perhatian khusus yang perlu diutamakan saat membuat desain pemenangan dalam Pemilu-Pilpres 2019. Maka melakukan Milenialisasi Indonesia menjadi bagian dari strategi yang sangat perlu untuk digaris bawahi, bahkan diutamakan.

Gaya dan pola hidup yang pragmatis, bahasa yang mudah dicerna, jangan yang berat-berat dan memusingkan kepala, harus yang ringan-ringan dan entertaining, merupakan prasyarat yang harus dipegang saat menggelontorkan sejumlah program kampanye untuk kaum Milenial. Dan jangan kaget bila nantinya bermunculan dukungan terhadap gagasan me-Milenialkan Indonesia. Artinya, Indonesia yang serba Milenial, ada Pancasila milenial, Trisakti milenial, dan NKRI pun digiring menjadi Negara Milenial yang berpandangan hidup Milenialisme. Tanpa mau tahu bahwa Indonesia adalah sesuatu yang bersifat abadi dan wajib dijaga keabadiannya. Sementara Milenial hanyalah kumpulan nilai sesaat, anak kandung zaman Now yang serba liberal-kapitalistik  dan yang berpotensi menggerus nilai dan cita rasa Indonesia.

Lain halnya ketika Asian Games 2018 digelar dan aroma Milenial begitu terasa semarak mewarnai. Pilihan itu memang sangat tepat karena untuk pasar ekonomi dan sebagai ‘tontonan’ ia menjadi bergairah dan Sexy. Tapi, ketika perhelatan Pemilu yang merupakan peristiwa pengejawantahan kedaulatan rakyat yang sangat serius untuk menentukan perjalanan bangsa dan negara ke depan, milenialisasi pemenangan Pemilu (Pilpres) dilembagakan, dikhawatirkan hal ini justru merupakan erosi ideologi yang cukup serius walau terdengar lebay. Perlu diingatkan karena kita terbiasa membiarkan terjadi dulu, menyesal kemudian, dan…ketika sadar sudah terlambat!

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

FOLLOW US

Reformasi Struktural: Darimana Kita Memulai?             Kemenag Perlu Jelaskan Manfaat Kartu Nikah             Focus ke Penetrasi Ekspor Produk Bernilai Tambah Tinggi             Gerindra dan PDIP Diuntungkan pada Pemilu 2019             Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-1)              Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-2)             Masih Ada Waktu untuk Perbaharui Komitmen             Penguatan Upaya Pemberantasan Korupsi             Kasus Century Tanggung Jawab KSSK              Komnas Perempuan: BN Korban Pelecehan Seksual yang Dikriminalkan