Simfoni Bangsa
Achmad Fuad
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka

10 June 2018 11:00

Dalam acara buka bersama (bukber) yang dihelat di waktu malam ganjil (malam ke 25) di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, yang juga diisi dengan acara yang ‘ganjil’: tamu undangan bebas bernyanyi – umumnya bukber diisi siraman rohani atau saritilawah— seusai acara ‘utama’, ada se-bait lirik yang sangat menarik hati saya dari lagu– meskipun tidak mengenal tamu yang menyanyikannya— yang diciptakan oleh tuan rumah, sang budayawan Erros Djarot: “Kau dengar laguku dalam simfoni..”. Begitulah potongan bait lirik dari lagu berjudul “Pelangi” yang diciptakannya pada tahun 1977 dalam album Badai Pasti Berlalu.

Meski tak terhitung sudah berapa kali saya mendengar lagu ini, tapi entah kenapa ketika dinyanyikan lagi malam itu, lagu tersebut begitu menghipnotis hati dan fikiran saya. Apakah terbawa relijiusitas ‘malam ganjil’ Ramadhan, atau karena dorongan ‘energi’ dari makanan berbuka yang baru saya santap, atau memang karena lagu itu sendiri? Entahlah..!

Kata ‘simfoni’ (symphony) dalam lirik lagu tersebut yang menjadi titik perhatian saya. Dalam fikiran saya, simfoni adalah sesuatu yang indah dan menyenangkan. Terasa bening dan ‘suci’. Simfoni menjadi sesuatu yang sangat saya rindukan. Simfoni merupakan puncak keharmonisan dari rangkaian bunyi-bunyian berbagai alat musik yang berpadu menghasilkan suara yang harmonis dan indah. Bukan hanya dalam musik, simfoni juga bisa digunakan dalam rangkaian kehidupan manusia, lingkungan, dan alam semesta yang memiliki banyak sekali perbedaan, namun terbingkai dalam keharmonisan yang indah di atas muka bumi.

Mungkin hal itu pulalah yang membuat para maestro musik klasik, seperti Beethoven dan Mozart, menggunakan istilah simfoni dalam karya-karyanya. Simponi ke-9 karya Beethoven merupakan salah satu dari simponi-simponi yang paling terkenal; Ode to Joy. Dan satu lagi simfoni yang menjadi ajakan untuk saling bersatu, dalam kesatuan dramatis-nya Mozart’s Symphony No.35; “Haffner Symphony”. Seolah ingin menyampaikan pesan kepada penikmat musik mereka dalam alunan musik orkestranya: bersatulah dalam keharmonisan! 

Ajakan untuk saling bersatu, bergandengan tangan serta berpeluk hangat antar manusia dan anak bangsa dalam keharmonisan kehidupan yang didasari pada nilai-nilai kemanusian dan kebudayaan yang mempersatukan. Bukan sebaliknya, ajakan untuk saling memaki, memfitnah, menyerang dan menghancurkan, akibat adanya perbedaan politik dan ideologi. Meskipun sebagian besar masyarakat negeri ini meyakini bahwa bangsa Indonesia terbentuk atas dasar pluralitas dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Dan sebagian lainnya meyakini perbedaan adalah rahmat.

Ironisnya, berbagai perbedaan yang seharusnya menjadi rahmat justru malah dijadikan ‘jurang’ pemisah (baca: polarisasi) antar anak bangsa. Perbedaan yang sudah tidak lagi dimaknai sebagai ‘tamansari’nya Indonesia. Berbeda politik, saling kubu-kubuan, berkonflik hingga saling ‘serang’, seolah menjadi cerita-cerita yang tiada habisnya menghiasi bangsa ini, akhir-akhir ini.

Ada pandangan yang menyebut bahwa hal ini sebagai bentuk kewajaran yang terjadi di era transisi sebagai reaksi atas terbukanya katup-katup penekan yang terpasang puluhan tahun, selama masa Orde Baru. Sehingga ketika kebebasan diberikan, reaksi masyarakat laksana air bah yang tidak terbendung, meluapkan protes atau ketidaksukaannya terhadap apa saja dan siapa saja dengan cara-cara (salah satunya) kekerasan. Kekerasan yang menurut Johan Galtung disebut sebagai kekerasan budaya (kultural).

Aspek-aspek budaya merupakan ‘ruang simbolik’ dari keberadaan kita (the symbolic sphere of our existence). Ruang simbolik yang menandai identitas sosial kita sebagai bangsa , komunitas, agama, hingga etnis tertentu. Hal ini menjadi sumber perbedaan di masyarakat memang. Namun, perbedaan inilah yang seharusnya menjadi rahmat dan pembentuk bangsa ini. Bukan malah menjadi penyebab hilangnya simfoni bangsa ini.

Dalam masyarakat yang menempatkan Pancasila sebagai dasar dari segala dasar hukum maupun aturan, memang membenarkan adanya perbedaan. Namun, yang harus dilakukan bagaimana mencari dan mengerucutkan titik-titik persamaan yang ada dalam perbedaan tersebut. Sehingga asas musyawarah mufakat dan gotong royong yang menjadi intisari Pancasila dapat diimplementasikan dalam suasana kebersamaan dan kekeluargaan. Dalam harmoni. Dalam senyum khas bangsa ketimuran. Sehingga tercipta melodi yang indah dalam simfoni.

Mungkin inilah pesan ‘simfoni’ yang dimaksud Erros Djarot dalam bait lirik dari lagu “Pelangi” yang diciptakannya.

Kau dengar laguku dalam simfoni, tiada lagi melodi dapat kucipta tanpa senyummu...

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Bangun Infrastruktur, Juga Manufaktur Orientasi Ekspor             Capaian yang Bagus, Upayakan Terealisasi             Perang Kepentingan Melawan Korupsi             Nilai-Nilai Pancasila Sudah Lama Tewas             Setop Adu Nyinyiran             Pembenahan ke Dalam di Era Disrupsi              Mencegah 'Barjibarbeh'             Perlu Tindak Lanjut Komitmen Investasi             Tantangan Fiskal Di Tengah Gejolak Global             Akhlak Turun Ke Titik Nadir, Seks Bebas Tumbuh Subur