Siapa Musuh Jokowi Terbesar di 2019?
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka

07 May 2018 10:00

Membaca judul artikel ini, pasti banyak yang berasumsi Prabowo dan kelompok Islam garis keraslah yang dimaksud sebagai musuh besar Jokowi menghadapi  Pilpres 2019. Dalam amatan kami, Prabowo maupun kelompok garis keras bukan musuh besar Jokowi untuk 2019, karena Prabowo dan lainnya tidak dalam posisi siap untuk saling mematikan. Prabowo maupun lainnya tak memiliki kemampuan sangat besar sehingga mampu melumpuhkan Jokowi.

Sebaliknya, Jokowi dalam kedudukannya sekarang justru yang dalam posisi kuat dan berkemampuan sangat besar (asal mau) untuk melumpuhkan setiap musuhnya. Menargetkan Prabowo dan Islam garis keras sebagai musuh besarnya untuk 2019, jelas merupakan target yang salah. Langkah ini hanya akan menghabiskan energi dengan hasil nol besar. Bahkan malah akan memperkuat ‘musuh’ yang sebetulnya dalam posisi tak sekuat bayangan yang sering ditampilkan dan diwacanakan publik awam.

Dalam amatan kami, musuh terbesar Jokowi justru ada pada diri Jokowi sendiri, para pembantunya, dan para penasihat politiknya. Musuh besar itu tak lain adalah kepercayaan diri yang terlalu berlebih (over confident) dari para penasihat dan ring 1 Jokowi yang begitu yakin bahwa Jokowi pasti menang mudah atas Prabowo; atau siapa pun yang saat ini maju menantangnya. Di sisi lain, kepanikan yang berlebih sangat terasa ketika Jokowi dalam beberapa kesempatan sangat mengecilkan manuver politik lawan. Seperti saat merespons #2019GantiPresiden yang sengaja digelindingkan ‘musuh’ politiknya sebagai isu sentral kampanye jelang Pilpres 2019.

Reaksi negatif Jokowi inilah yang justru membuat menggelembungnya massa rakyat yang bersimpati terhadap gerakan 'Ganti Presiden 2019’. Karena reaksi Jokowi yang emosional itulah yang ditunggu oleh sang desainer politik gerakan melengserkan Jokowi melalui Pilpres 2019. Harap ingat, sebelum kaos #2019GantiPresiden beredar, berbagai isu tentang Jokowi pro Aseng–Asing-buruh Cina; Jokowi musuh Islam; gagal ekonomi; menyengsarakan rakyat; dan lain-lain, begitu gencar disebarluaskan. Manuver politik seperti ini mirip yang digunakan  Mr Trump saat menggerus popularitas Hillary Clinton.

Yang mengkhawatirkan, menghadapi gencarnya serangan politik pihak lawan, Jokowi merasa cukup dengan menggelontorkan strategi ‘kerja kerja kerja’ agar rakyat tidak tertarik dengan bujukan kaos #2019GantiPresiden. Berharap rakyat melihat kesungguhan Jokowi dan para pembantunya bekerja sungguh hanya untuk rakyat.

Celakanya, ajakan ini dimaknai para pembantu presiden untuk saling berlomba menunjukkan kinerjanya siang malam dan hanya bekerja mengurusi bidang kerja yang menjadi tanggungjawabnya. Mereka lupa bahwa menteri adalah jabatan politik dan kinerjanya tidak terlepas dari situasi dan kondisi politik yang ada dengan segala mekanisme politik yang begitu dinamis memasuki tahun politik 2018-2019.

Contoh paling nyata adalah sanggahan Menteri BUMN Rini Sumarno akan viral seputar percakapannya dengan Dirut PLN. Kalau toh saham yang dibicarakan bukan untuk kepentingan pribadi; apa peran Ari Sumarno, kakak Rini Sumarno, dalam kasus tersebut? Apakah beliau memiliki jabatan khusus di Pertamina maupun PLN? Hal demikian ini sangat berpotensi membuat terbebaninya Jokowi oleh moral hazard yang cukup merugikan dirinya.

Belum lagi celotehan para menteri seputar kebutuhan pangan rakyat yang sangat membuat kuping publik menjadi panas dan minimal pernyataan sang menteri atau dijadikan bahan tertawaan (lihat viral berbagai meme). Hal ini pun yang semakin membuat lebarnya pintu masuk bagi lawan-lawan politik untuk melakukan pembusukan. Hal mana sudah dilakukan dan sangat terasa hasilnya, terutama saat dollar menembus Rp14.000.

Jelas sekali kelompok yang mempunyai target politik Jokowi lengser, bekerja begitu sistematis, terencana, terarah, dan sadar menghitung hari, ruang, dan waktu. Sementara dari kubu Jokowi, tidak terasa dan terekam adanya counter manuver untuk mengeliminasi arus serangan politik dari pihak lawan. Mungkin saking pedenya, sehingga asyik berilusi bahwa semua rakyat Indonesia masih cinta mati Presiden Jokowi.

Melihat makin banyaknya ibu-ibu dan anak muda bersuara miring tentang Jokowi dan cenderung mendukung #2019GantiPresiden, rasanya siapapun stratig politik di kubu Jokowi harus mulai melihat sebuah realita baru, walau sekarang masih pada tahapan ‘realita buatan’ yang berhasil melebar.

Silahkan pede, asal jangan berlebihan. Karena menurut kami, musuh Jokowi terbesar untuk Pilpres 2019, adalah sikap over confident atau sebaliknya: kepanikan yang berlebihan! Sadar akan hal ini, rasanya titik aman masih bisa terpelihara!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lukman Hakim Piliang

Dosen Administrasi Publik UPDM(B)

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Pidana Mati Bersyarat, Jalan Keluar Moderat             Agama Baru Itu Bernama HAM             Layakkah Nama Bung Karno Dihilangkan             Istora Bung Karno, Simbol Identitas Bangsa             Ruang Politik Tidaklah Hitam Putih             Perdebatan Harusnya Berbasis Politik Program             Pengangkatan Ali Mochtar Ngabalin Menimbulkan Kontroversi             Strategi Politik Jokowi di Pilpres 2019             Mengunci Golkar Ala Jokowi             Hanya Kepentingan