Siapa Modern, Siapa Primitif?
Farid Gaban
Jurnalis Senior, Praktisi Pertanian
berita
Berpikir Merdeka
06 December 2018 10:00
Perubahan iklim dan memanasnya bumi membuat banyak orang berpikir bahwa gaya hidup dan model pembangunan yang kita anut sekarang tidak sustainable. Perlu model dan arah baru.

Pembangunan yang bertumpu pada aspek material-fisik-ekonomi telah berdampak serius pada kerusakan alam, yang makin hari membuat bumi tidak layak huni: produksi sampah plastik, pencemaran udara, air dan tanah, serta pemanasan global. Pemanasan global memicu ketidakpastian iklim yang mengancam produktivitas pangan. Naiknya suhu bumi juga merusak ekosistem terumbu karang. Sebagai negeri kepulauan dan memiliki dua pertiga perairan dan laut, Indonesia salah satu yang akan menjadi korban terparah.

Kerusakan alam merupakan isu serius sekarang ini. Dalam survei terbaru (World Economic Forum's 2015-2017 Global Shaper Survey), generasi milenial menganggap kerusakan alam sebagai problem nomor satu, di atas perang dan ketimpangan ekonomi. Lebih dari 90 persen responden (31,000 milenial dari 186 negara) setuju pendapat bahwa "ulah manusia merupakan pemicu utama perubahan iklim dan pemanasan global". Hampir 80 persen responden menyatakan ingin "mengubah gaya hidup untuk melindungi kelestarian alam".

Perubahan gaya hidup tadi menuntut perubahan paradigma pembangunan. Perubahan itu harus dimulai dari mempertanyakan ukuran-ukuran serta standar pembangunan yang selama ini dianut: ukuran kemajuan atau keterbelakangan.

Di masa lalu, kemajuan diukur dari hal-hal material: kemakmuran ekonomi, konsumerisme, mobil, rumah megah dan sejenisnya. Gaya hidup konsumtif ini telah menyumbang kerusakan alam. Salah satunya akibat pemakaian energi fosil (minyak, batubara) berlebihan.

Belakangan ini, sejumlah pakar memperkenalkan konsep “carbon footprint” atau jejak karbon. Pada dasarnya, setiap hal yang kita lakukan dan pakai (berkendara, makan, desain rumah) memerlukan energi serta memicu karbon, atau gas asam arang yang memicu pemanasan global. Gaya hidup yang ramah lingkungan adalah gaya hidup rendah karbon, jejak karbonnya paling sedikit. Umumnya gaya hidup sederhana yang hemat energi. 

Itu akan menuntut model pembangunan yang baru. Jejak karbon rendah adalah ukuran kemajuan baru; sementara jejak karbon tinggi merupakan simbol gaya hidup primitif.

Di kota-kota Eropa, kesadaran untuk menekan jejak karbon diwujudkan antara lain lewat pengurangan pemakain mobil dan kendaraan pribadi. Mereka membangun transportasi publik yang efisien sehingga hemat energi. Mereka membangun jalur pedestrian (pejalan kaki) dan jalur sepeda yang aman dan nyaman.

Menurut ukuran baru itu, Metropolitan Jakarta yang padat mobil dan motor adalah simbol gaya hidup primitif. Tak hanya macet dan memicu ekonomi biaya tinggi, tapi juga menerakan jejak karbon tinggi akibat pemborosan bahan bakar. Sayang, konsep keliru Jakarta kini banyak ditiru oleh kota-kota menengah dan kecil mengikuti trend pembangunan yang semata ekonomi dan memuja infrastruktur fisik.

Ekspansi jalan tol mendorong pemakaian mobil pribadi makin luas yang bermuara pada kemacetan dan pemborosan bahan bakar; pada akhirnya memicu pemanasan global.

Rumah besar dan gedung tinggi memerlukan pendingin. Artinya perlu banyak energi. Makin besar rumah, makin besar energi yang dihabiskan; makin potensial memicu pemanasan global.

Di Amerika dan Eropa, orang juga makin peduli untuk memenuhi pangan lokal. Bahan pangan memerlukan energi untuk menanam, memanen dan mengantar ke konsumen akhir. Makin panjang rantai distribusi, makin banyak enegri dihabiskan. Artinya: jejak karbon tinggi.

Gaya hidup konsumtif dan globalisasi ekonomi memicu pemborosan energi besar-besaran di samping menghasilkan sampah dan pencemaran. Itu sebabnya kini orang kembali mendengar ajakan “kembali ke alam” dan “kembali ke sumberdaya lokal”. Ini tak sekadar perubahan gaya hidup melainkan perubahan “pandangan hidup” (way of life).

Orang kembali mengikuti cara nenek-moyang mereka hidup di pedesaan. Itulah cara hidup yang bertumpu pada sumberdaya lokal dan hemat energi: pangan lokal, belanja lokal, berjalan dan memakai sepeda, menghuni rumah sederhana. Semua itu memerlukan sedikit energi fosil, rendah jejak karbonnya.

Apa yang kemarin kita anggap sebagai primitif, kini justru merupakan simbol kemajuan. Jika ukurannya jejak karbon rendah, saudara-saudara kita Suku Badui, Dayak, Mentawai dan suku-suku Papua lebih modern dari orang Jakarta.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang