Siang…’Hidup Bung Karno’, Malam…’Gantung Bung Karno’!
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
30 September 2019 12:20
Watyutink.com - Ketika ribuan Mahasiswa di Ibu Kota dan di sejumlah pelosok Tanah Air turun ke jalan menyuarakan tuntutan hati nurani dan pikiran mereka, seluruh petinggi negeri berikut para elite di lingkaran kekuasaan, terkejut dan ternganga-nganga. Sangat di luar dugaan dan perhitungan. Terlebih ketika para Pelajar menyusul kakak-kakak mereka turut turun ke jalan dengan penampilan heroik yang tidak kalah gagah beraninya.

Atas peristiwa yang mengagetkan ini, pihak yang berada di lingkaran kekuasaan langsung bereaksi. Segera mereka pun melakukan standar prosedur elite politik yang dengan mudah melontarkan tuduhan baku, yakni; labelisasi bahwa…,,Mahasiswa dan para Pelajar yang berdemo ditunggangi!”. Dengan alasan karena demo selalu berakhir anarkis. Tanpa mau berpikir, jangan-jangan ini merupakan letupan emosi yang lama terpendam tentang kepincangan dan ketidakadilan sosial.

Pada sisi lain, caci maki teralamatkan pada Kepolisian Republik Indonesia. Tindakan pemukulan dan tindakan fisik yang hyper brutal terhadap Mahasiswa dan Pelajar yang berdemo, telah disaksikan oleh jutaan mata lewat berbagai tayangan media. Keterpaksaan para bintara kepolisian yang bertugas di lapangan untuk juga menembakan gas air mata dan semprotan air canon, dinyatakan sebagai tindakan brutal tak berperikemanusiaan. Padahal, tanpa arahan dan adanya perintah atasan, tak mungkin para bintara muda itu mau melakukan tindakan yang menyakiti saudara-saudara mereka sendiri yang seumur dan sebaya. 

Padahal, kedua kelompok, pemuda kepolisian RI dan Mahasiswa-Pelajar, menjadi brutal karena para petinggi negara dan elite politik lah yang membuat mereka menjadi demikian mengerikannya. Tindakan ‘brutal politik’ dari para penguasa dan elite politik telah melahirkan kebrutalan jalanan yang telah kita saksikan bersama selama demo Mahasiswa-Pelajar berlangsung.

Salah satu ‘brutal politik’ yang memancing amarah para Mahasiswa adalah fait accompli waktu pengesahan RUU KPK. Operasi senyap dan penandatangan dilakukan dalam masa jabatan DPR RI periode 2014-2019 yang tinggal 20 hari; ditambah lagi waktu lima hari untuk menandatangani dari 60 hari yang dimiliki presiden, menjadi pemicu utama.
Celakanya, masih saja ada yang berpandangan bahwa mahasiswa kita sekarang ini bodoh, tak paham politik, dan sebagainya. Sehingga para elite mencoba meyakinkan publik bahwa para mahasiswa yang berdemo seratus persen telah ditunggangi. Bahwasanya ada penunggang ya pastilah, tapi apakah ratusan ribu mahasiswa yang turun bersedia dan mau ditunggangi?

Lontaran ini tanpa berpikir bahwa pihak Mahasiswa pun bisa berfikir bahwa Presiden pun tengah ‘ditunggangi’ oleh para politisi korup. Karenanya mereka bergerak ingin menyelamatkan Presiden pilihan mereka. Alasan mereka cukup rasional, karena mereka sudah tidak percaya lagi kepada para wakil rakyat periode pemilihan 2014-2019. Dan jangan lupa, catatan berapa koruptor yang berasal dari gedung wakil rakyat di Republik ini, dan yang sekarang tengah ‘beristirahat’ di penjara KPK, ada di kantong para Mahasiswa.

Dalam situasi seperti ini, sebaiknya perenungan dan mawas diri perlu dilakukan oleh para petinggi negeri berikut para elite politiknya. Sementara para mahasiswa melakukan hal yang sama untuk mempertanyakan kembali jalan terbaik yang dapat mereka tempuh untuk berpartisipasi menjaga bangunan demokrasi tanpa harus memakan korban yang tak perlu. Setidaknya mereduksi atau menghindarkan jatuhnya korban di kalangan mahasiswa dan para pemuda Kepolisian RI yang tengah bertugas menjalankan perintah atasan, seperti yang terjadi dalam demo-demo belakangan ini.

Kepada para pendukung fanatik Jokowi maupun yang anti Jokowi, berhentilah saling menebar permusuhan lewat meme dan unggahan di sosial media yang hanya membuat keterbelahan semakin dalam. Ajakan ini sebelum kita terlambat dan menyesal ketika dampak yang lebih besar dari perpecahan ini harus kita alami. Kemunduran kita dan ketertinggalan kita yang rasanya belum siap menjadi bangsa besar, merupakan hal yang nyata dan ada di hadapan kita. 

Global krisis yang pasti berdampak pada kita sebagai bangsa dipastikan akan terjadi. Apa persaiapan kita selain usreg yang bukan-bukan?! Bayangkan, ini luar biasa. Sekian RUU (7 tujuh) lah harus selesai dikebut dalam 20 hari (termasuk RUU KUHP). Presiden pun larut dalam suasa kerja ala ‘supir angkot ngejar setoran’. Belum lagi soal perpindahan Ibu kota yang seakan masalahnya menjadi pilihan urgen hidup-mati. Ditambah lagi kesibukan para elite politik rebutan kursi menteri di kabinet baru, dan lain sebagainya. Lalu kapan ada waktu berkonsentrasi menghadapi tantangan nyata di depan mata…nasib perekonomian rakyat kita saat digempur global krisis yang terjadinya adalah sebuah keniscayaan?!

Atas hingar bingar politik kenegaraan yang terjadi belakangan ini, yang saya catat adalah suatu keadaan di mana ketika Kebenaran dan Pembenaran kian sulit dipisahkan, maka Kegelapan akan muncul sebagi resultat. Dan ketika masing-masing kubu meyakini dan tetap berdiri di atas kebenaran subyektifnya sendiri, maka resultatnya adalah…semua menjadi tidak benar! Sikap yang meyakini kebenaran absolut sebaiknya kita yakini hanya semata milik Sang Maha Kuasa. Dalam politik semua serba relatif yang faktor determinannya tergantung ruang, waktu dan kepentingan! Jadi buat apa serba absolut dan fanatik buta (blind faith)?  

Saya mengajak teman-teman di istana untuk juga menjaga Pak Jokowi agar tidak terlalu percaya diri (over confidence), apalagi hingga menimbulkan kesan Jumawa. Karena kesehariannya beliau jauh dari perilaku itu. Tapi ‘kompor’ penebar hawa panas istana bisa saja mengubah segalanya.

Kepada pak Jokowi saya hanya ingin men-share ingatan saya semasa sekolah. Saya masih ingat betapa saya bersama ratusan ribu rakyat basah kuyup mendengarkan dengan hikmat pidato Bung Karno saat itu. Selesai Bung Karno berpidato teriakan… ‘hidup Bung Karno..hidup Bung Karno’ menggelegar menggetarkan dan hampir saja memecah gendang telinga saya. 

Tahukah Pak Presiden apa yang terjadi tak berselang lama kemudian? Orang dan kerumunan manusia yang sama, mereka turun ke jalan meneriakkan luapan amarah yang sangat mengguncang hati dan pikiran dan sampai sekarang masih terngiang di telinga saya….’gantung Bung Karno…gantung Bung Karno..!’. Begitu mereka berteriak turun ke jalan…; orang yang sama, kerumunan manusia yang sama…rakyat Indonesia!

Sekadar catatan yang mungkin berguna untuk menjadi bahan perenungan!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah