Sering-seringlah Pemilu
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
12 February 2019 12:00
Lama menghilang, premium kini hadir kembali hampir di semua SPBU Pertamina. Kemunculan kembali BBM bersubsidi ini disambut antusias. Semula kendaraan lebih banyak mengantri di mesin pompa pertalite, kini beralih ke mesin pompa premium, walaupun beberapa konsumen pertamax, pertamax turbo, pertamina dex, atau dexlite tetap setiap pada pilihannya.

Lebih hemat jadi alasan utama mengapa konsumen BBM beralih menggunakan premium. Dalam ukuran apapun menggunakan premium lebih irit dibandingkan bahan bakar lain. Untuk masyarakat bawah, penghematan sekecil apapun sangat berarti.

Seorang pengendara motor jenis cub atau di sini sering disebut motor bebek rela mengantri untuk mengisi premium agar bisa sedikit berhemat. Sekali mengisi penuh tangki motornya, dia cukup membayar Rp20.000, sementara jika mengisinya dengan pertalite dia harus merogoh kocek lebih dalam lagi hingga Rp24.000.

Dalam kondisi tangki penuh, perjalanan kerja sepanjang 30 km akan menghabiskan isi tangki dalam 2 hari. Dengan 25 hari kerja, dia bisa berhemat Rp50.000. Uang sebanyak itu dapat dibelikan 5 kg beras, cukup untuk memenuhi kebutuhan makan 1 orang selama 20 hari dengan asumsi harga beras Rp10.000 per kg. Semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin besar yang bisa dihemat.

Tentu menjadi pilihan paling rasional menggunakan premium dibandingkan BBM jenis lain. Perkara orang mengatakan bahwa penggunaan premium bisa mengotori ruang bakar mesin, kendaraan kurang bertenaga, atau membuat saringan bahan bakar mampet toh faktanya dia bisa pergi pulang kantor dengan selamat, tidak mogok di jalan, dan waktunya lebih cepat dari angkutan umum.

Yang juga belakangan muncul adalah listrik gratis. Untuk mengalirkan listrik ini, pemerintah mengerahkan 35 BUMN secara patungan mengongkosi penyambungan listrik bagi masyarakat tidak mampu di Jawa Barat. Tahun ini pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp6 triliun untuk memperluas program listrik gratis ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sedikitnya terdapat 235.756 masyarakat tidak mampu di Jawa Barat yang belum dialiri listrik. Selama ini mereka menikmati listrik dengan cara levering, yakni menyambungkan kabel ke rumah tetangganya, tidak mempunyai meteran listrik sendiri. Mereka membayar sekitar Rp40.000-Rp50.000 per bulan hanya untuk penerangan.

Dengan adanya meteran listrik sendiri, masyarakat tidak mampu ini dapat menikmati peralatan elektronik lain seperti TV, kipas angin, penanak nasi, dan lain-lain, dengan rata-rata pembayaran Rp30.000 per bulan.

Bagi masyakarat bawah pemasangan meteran listrik gratis ini cukup membantu mengurangi beban pengeluaran. Paling tidak mereka tidak harus mengeluarkan Rp1,2 juta untuk bisa mendapatkan meteran listrik. Di tengah tekanan biaya hidup yang meningkat, uluran tangan pemerintah ini disambut dengan hangat.

Di luar itu masih ada bantuan sosial yang pelaksanaanya digencarkan. Program ini sudah berjalan lama namun intensitasnya meningkat belakangan ini. Semakin banyak keluarga yang mendapatkan perhatian dalam program keluarga harapan (PKH) dimana setiap KK yang mempunyai anak balita, yang bersekolah di SD, SMP, SMA, dan lansia mendapatkan bantuan berupa dana tunai yang dibayarkan setiap 3 bulan.

Semua kemurahan hati ini ada pada saat menjelang pemilu. Rakyat tidak peduli apakah semua ini berkaitan dengan kepentingan politik atau tidak, faktanya mereka menikmati dan bersyukur bisa  berhemat dengan tersedianya BBM murah, rumah terang benderang dengan adanya listrik, dan anak mereka bisa bersekolah.

Seperti masyarakat Jakarta yang bersyukur dengan datangnya Idulfitri yang membuat jalanan di seluruh wilayah ibukota begitu lengang, kondisi yang tidak bisa diciptakan oleh gubernur siapapun yang memerintah.

Belum lagi ‘sumbangan’ para caleg yang berkompetisi dalam Pileg 2019. Silih berganti para caleg datang membawa buah tangan dan dana tunai dalam acara sosialisasi, tatap muka, atau temu masyarakat, membujuk untuk memilih mereka menuju Senayan atau DPRD setempat. Kedatangan caleg melengkapi apa yang sudah didapatkan.   

Maka layak jika pemilu disebut pesta demokrasi, dimana ada kemeriahan dan kegembiraan di dalamnya. Rakyat bergembira menggunakan hak pilihnya dalam menentukan siapa pemimpin negara, tetapi yang lebih penting lagi bagi mereka adalah manfaat ekonomi yang didapat. Jadi bagi rakyat sering-seringlah pemilu.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Djoko Setijowarno

Pengamat transportasi

FOLLOW US

Tidak Ada yang Bisa Jamin Data Kita Aman             Unicorn Indonesia Perlu Diregulasi             Bijak Memahami Perubahan Zaman             Strategi Mall dan Departement Store dalam Menghadapi Toko On line             Sinergi Belanja Online dengan Ritel Konvensional             Investor Tertarik Imbal Hasil, Bukan Proyek             Evolusi Akan Terjadi meski Tidak Dalam Waktu Dekat             Demokrasi Liberal Tak Otentik             Tak Perlu Berharap pada Elite Politik             PSSI di Persimpangan Jalan, Butuh Sosok Berintegritas dan Profesional