Semarak Green Ramadhan
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
11 May 2019 10:00
Watyutink.com - Ramadhan merupakan bulan suci dengan peluang untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya guna meraih berkah Allah SWT. Perbuatan baik di bulan penuh karunia ini selayaknya bukan hanya dengan mendekatkan diri pada Sang Pencipta, dan memberi pada sesama yang membutuhkan. Ihwal penting yang tidak boleh terabaikan adalah ramah pada Bumi, satu-satunya rumah manusia.
 
Tentang ini, penulis muslimah Hinna Sheikh, memberikan sebuah analogi sahih. Seseorang yang menerima hadiah tentunya tidak akan membuangnya, melainkan menghargainya dan menghormati pemberi hadiah itu. Allah SWT telah memberikan hadiah kepada umat-Nya berupa Bumi sebagai tempat tinggal, juga telah menciptakan sistem kehidupan. Tetapi manusia seringkali merusak lingkungannya dan tidak menghargai Bumi ini sebagai hadiah.
 
Ternyata dalam beberapa tahun terakhir, cukup banyak individu maupun komunitas muslim di berbagai penjuru dunia yang menghargai Bumi sebagai hadiah sang pencipta. Green Ramadhan atau berpuasa sambil menjaga lingkungan hidup dan berbuat baik kepada Bumi kini semakin semarak.
 
Tahun ini masjid-masjid di Inggris mulai melarang penggunaan plastik sekali pakai dan mendorong pemakaian botol minum yang dapat diisi ulang serta peralatan makan yang dapat digunakan kembali. 
 
Biasanya pada setiap berbuka puasa satu masjid setidaknya membagikan 1000 botol minum sekali pakai yang langsung menjadi timbunan sampah. Beberapa masjid kemudian menjual botol minum isi ulang kepada jamaah dengan harga subsidi serta memasang dispenser air minum. 
 
Sebuah usaha simpatik dilakukan oleh DK Wardhani, arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung yang juga penulis buku “Menuju Rumah Minim Sampah.” 
 
Wardhani menulis “Panduan Green Ramadhan” setebal 60 halaman yang berisi fakta tentang sampah di Indonesia, serta ayat-ayat suci dan hadis terkait. Fakta yang diberikan termasuk kantong kresek, sedotan plastik, sampah makanan, botol air mineral, dan styrofoam. Ia kemudian memberikan petunjuk praktis bagaimana mengurangi sampah disertai dengan gambar-gambar penuh warna sehingga mudah dipahami. 
 
Karena tersedia dalam bentuk e-book, “Panduan Green Ramadhan” ini viral di berbagai WhatsApp Group. Tips Ramadhan ramah lingkungan menurut DK Wardhani adalah  selalu membawa wadah sendiri saat membeli takjil, berbuka puasa secara prasmanan bermenu minim sampah, menghabiskan makanan, membawa tas kain, dan menggunakan transportasi umum. 
 
Islamic Society of North America menghimbau pimpinan Masjid dan Islamic Center di Amerika untuk menerapkan Green Ramadhan dengan peka terhadap lingkungan dan berkomitmen untuk hidup selaras dengan alam, serta berupaya menerapkan praktik dan kebijakan ramah lingkungan.
 
Setiap masjid dan Islamic Center diminta untuk setidaknya melakukan lima hal selama bulan Ramadhan. Pertama, menghemat makanan selama berbuka puasa dan menghemat air, terutama saat berwudhu. Kedua, menggunakan  produk kertas yang cepat terurai untuk berbuka puasa, tanpa kemasan styrofoam. Ketiga, mendaur ulang, terutama untuk botol air plastik. Keempat, menggunakan lampu hemat energi. Kelima, berkhutbah tentang perintah Islam untuk melestarikan dan melindungi lingkungan hidup.
 
Baru-baru ini, Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH-SDA MUI) bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) meluncurkan program EcoRamadhan.
 
Program EcoRamadhan yang sudah berjalan tiga tahun ini  menganjurkan untuk meraih takwa melalui tiga hal. Jaga pangan (misalnya konsumsi pangan lokal dan halalan thayyiban, serta tidak membeli makanan ketika lapar), jaga air (misalnya satu wudhu untuk shalat Maghrib dan Isya), dan jaga energi (misalnya mengurangi pemakaian lampu dan AC, serta mengurangii bepergian).
 
DR. Hayu Prabowo, Ketua LPLH-SDA MUI yang juga pegiat perubahan iklim memberikan pendapatnya untuk tulisan ini:  “Orang-orang beriman diwajibkan untuk berpuasa agar mencapai ketakwaan, tidak akan sempurna keimanan seseorang jika tanpa akhlak yang baik.   Kegiatan menjaga dan memakmurkan Bumi adalah refleksi dari akhlak orang beriman untuk mencapai ketakwaan.”

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Stabilitas Sangat Berdampak Pada Ekonomi             Tarik Investasi Tak Cukup Benahi Regulasi             Tidak Bijak Membandingkan Negara Lain             Semangat Reformasi Perpajakan             People Power and Power of Love             Polisi Tak Boleh Berpolitik             Laksanakan Reformasi Perpajakan Secara Konsekuen             Tunjukkan Sikap Politik yang Matang             Menagih Janji Deregulasi dan Perbaikan Infrastruktur Investasi             Perlu Inventarisasi Perundangan dan Peraturan