Selalu Ada Cerita untuk Indonesia Maju
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 27 November 2020 19:20
Watyutink.com – Pemerintah tidak pernah kehabisan cerita untuk menyakinkan masyarakat bahwa Indonesia bisa jadi negara maju pada 2045, saat negeri ini merayakan 100 tahun kemerdekaannya yang diproklamirkan oleh Soekarno – Hatta pada 17 Agustus 1945..

Cerita yang dibangun kali ini adalah ekonomi Indonesia akan dapat tumbuh tinggi untuk menggapai cita-cita menjadi negara maju. Target pertumbuhannya tidak tanggung-tanggung, 8 persen per tahun agar bisa sejajar dengan AS atau Singapura. Pertumbuhannya pun harus berkesinambungan. Tidak bisa hari ini kuat, besok loyo.

Target pertumbuhan tinggi tersebut untuk menyasar dua target sekaligus. Pertama, mencopot status Indonesia sebagai negara yang masuk dalam jajaran middle income trap. Kedua, menempatkan Indonesia di posisi negara maju.

Indonesia akan keluar dari jebakan negara pendapatan menengah pada 2036 dengan PDB per kapita diestimasi mencapai 12.233 dolar AS dan pada 2045 diproyeksi mencapai 23.199 dolar AS per kapita. Indonesia akan menjadi negara dengan PDB terbesar kelima dunia senilai 7,4 triliun dolar AS dan kemiskinan mendekati nol persen.

Negara yang bisa ditiru untuk mencapai pertumbuhan tinggi dan berkesinambungan adalah Singapura. Negeri jiran itu mengalami lompatan pertumbuhan ekonomi sejak 1971 hingga 1979.  Selama periode itu pertumbuhan dijaga di level  8 persen. Prestasi tersebut berlanjut hingga 1990.

Kuncinya adalah harus benar-benar bekerja secara detail dan memiliki determinasi yang kuat untuk mengatasi masalah struktural yang umumnya menghambat satu negara untuk lebih maju, meningkatkan pendapatannya.

Stabilitas ekonomi makro juga harus dijaga ke depan secara konsisten, sekalipun syaratnya tidak mudah. Pertama, harus ada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kedua, mengembangkan infrastruktur yang masih jauh tertinggal dan sangat dibutuhkan masyarakat untuk menggerakkan ekonomi. Ketiga, perlu ada penyederhanaan birokrasi agar terjadi transformasi ekonomi.

Sepintas syaratnya tidak sulit, namun tantangan mengelola ekonomi bukan perkara mudah. Ekonomi tidak berjalan linier seperti sebuah mobil berjalan di jalan tol. Ada saja krisis dan gejolak yang menghadang.

Fondasi yang tengah dibangun pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Maju 2045 adalah melakukan transformasi ekonomi dalam kurun waktu 4 tahun ke depan. Mulai tahun ini hingga 2024 kebijakan yang ditempuh adalah mendorong industri pengolahan, sektor pariwisata, dan ekonomi kreatif.

Kontribusi industri pengolahan akan ditingkatkan dari 19,9 persen menjadi 21 persen. Kontribusi industri pengolahan nonmigas dari 17,6 persen menjadi 18,9 persen dan meningkatkan kontribusi tenaga kerja di sektor industri dari 14,9 persen menjadi 15,7 persen.

Untuk sektor pariwisata, ukuran kemajuannya adalah devisa yang akan diraup. Targetnya dari 19,3 miliar dolar AS menjadi 30 miliar dolar AS. Sektor ekonomi kreatif tak luput dari sasaran untuk memberikan kontribusi lebih besar dari Rp1.105 triliun menjadi Rp1.846 triliun. Begitu juga transaksi perdagangan dalam jaringan (e-commerce) dari Rp170 triliun menjadi Rp600 triliun.

Sayangnya, target pertumbuhan dan pendapatan per sektor yang begitu ambisius belum mampu melesatkan pertumbuhan hingga 8 persen per tahun. Bappenas memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 2045 sebesar 5,7 persen dan pendapatan per kapita 5,0 persen.

Saat ekonomi tidak mengalami goncangan seperti sekarang, Indonesia hanya mampu mencapai pertumbuhan sekitar 5 persen. Begitu pandemi Covid-19 meletup, ekonomi terjerembab ke jurang resesi.

Pemerintah berusaha membangkitkan perekonomian melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Dengan tertatih-tatih berusaha mengobati luka yang disebabkan pandemi Covid-19. Ekonomi Indonesia mungkin bisa sembuh, namun dampak yang ditinggalkan wabah virus yang berasal dari Wuhan, China, tidak selesai dalam waktu dekat.

Keuangan negara terbebani kewajiban yang tercipta saat menanggulangi pandemi Covid-19. Akibatnya APBN tidak punya ruang manuver yang cukup luas untuk mendanai pembangunan. Pembangunan seret, pertumbuhan pun seret. Sulit membayangkan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 8 persen.

Namun tidak perlu risau. Kalau pemerintah gagal membawa Indonesia menjadi negara maju, akan ada cerita lain yang akan menghibur masyarakat, melupakan kegagalan, dan tetap optimistis. 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF