Sehatkan Garuda, Berikan Pasar Domestik
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 11 June 2021 13:05
Watyutink.com – Kepak sayap Garuda Indonesia tak lagi sekuat dulu. Utang melilit dan menjerat sayap-sayapnya yang dulu terbentang lebar di seantero Nusantara dan dunia. Sayap itu kini ringkih, rapuh, rontok per lahan, tak lagi mampu membawa Garuda terbang tinggi.

Kemungkinan hanya akan tersisa 50 pesawat dari 140 pesawat yang dioperasikan Garuda Indonesia. Kehilangan lebih dari separuh kekuatan hanya dalam hitungan bulan sulit dipercaya dan pasti sangat menyakitkan. 

Garuda Indonesia harus menerima kenyataan pahit tersebut sebagai konsekuensi dari tumpukan utang hingga Rp70 triliun, menjadikan flag carrier tersebut pesakitan, setelah sebelumnya mengharumkan industri penerbangan di Tanah Air melalui pencatatan sahamnya di lantai bursa 10 tahun lalu atau tepatnya 11 Februari 2011.

Salah kelola (mismanagement) masa lalu menciptakan utang sebesar Rp70 triliun, makin bertambah-tambah membebani Garuda dengan adanya pandemi Covid-19. Sejak virus corona merebak, jumlah penumpang maskapai penerbangan pelat merah itu anjlok drastis sampai 90 persen, berimbas pada penurunan tajam pendapatan perseroan.

Untuk sehat kembali, Garuda tengah menyiapkan rencana induk (masterplan) restrukturisasi kepada kreditur, vendor, lessor, dan pihak-pihak berkepentingan terhadap pelunasan atau pemenuhan kewajiban perseroan. Namun belum ada pihak yang menyetujui atau menolak rencana restrukturisasi tersebut. Dengan kata lain, penyelamatan Garuda masih butuh waktu lama.

Di sisi lain, pemerintah sebagai pemegang saham juga menyiapkan jurus-jurus menyelamatkan Garuda. Sedikitnya ada empat opsi yang ditawarkan. Pertama, pemerintah akan memberikan dukungan penuh kepada perusahaan pelat merah itu. Pemerintah bakal terus mendukung Garuda melalui pemberian pinjaman atau suntikan ekuitas, seperti dilakukan kepada Jiwasraya.

Indonesia tidak sendirian menempuh cara ini. Singapura melakukannya untuk Singapore Airlines, Hong Kong untuk Cathay Pacific, dan China untuk Air China. Namun, ada risiko bagi perusahaan. Dukungan berupa pinjaman akan meninggalkan warisan utang yang semakin besar dan membuat perusahaan menghadapi situasi berat di masa depan.

Kedua, menggunakan hukum perlindungan kebangkrutan untuk merestrukturisasi Garuda. Cara ini menggunakan legal bankruptcy process untuk merestrukturisasi kewajiban, seperti utang, sewa, kontrak kerja.

Ketiga, opsi yurisdiksi yang akan digunakan mencakup hukum US Chapter 11, foreign jurisdiction lain seperti Inggris, dan PKPU. Cara ini ditempuh Chili untuk Latam Airlines, Malaysia untuk Malaysia Airlines, dan Thailand untuk Thai Airlines.

Risikonya, tidak ada kejelasan apakah undang-undang di Indonesia mengizinkan restrukturisasi. Di sisi lain, sekalipun restrukturisasi berhasil memperbaiki masalah utang dan leasing, tidak menyelesaikan persoalan mendasar menyangkut budaya perusahaan dan warisan masa lalu.

Keempat, merestrukturisasi Garuda dan mendirikan perusahaan maskapai nasional baru. Garuda dibiarkan melakukan restrukturisasi dan pada waktu yang sama, mendirikan perusahaan baru.

Empat opsi tersebut merupakah pil pahit yang harus ditelan Garuda. Bahkan yang terburuk Indonesia harus siap kehilangan flag carrier jika perusahaan plat merah itu tidak dapat diselamatkan.

Nama Garuda Indonesia sudah sangat populer, masih punya nilai jual. Jika restrukturisasi berhasil menyelamatkan Garuda, kemungkinan bangkit kembali terbuka lebar. Garuda sendiri harus mengubah model bisnisnya.

Indonesia adalah pasar besar bagi industri penerbangan. Sayangnya selama ini pemerintah membiarkan pasar yang gurih ini dinikmati maskapai asing. Kebijakan membuka lebih banyak bandar udara internasional justru menjadi bumerang bagi maskapai domestik.

Rute-rute basah justru didominasi oleh perusahaan penerbangan asing. Orang asing cenderung menggunakan Singapore Airlines ketimbang Garuda yang terbang langsung dari Singapura ke bandara internasional yang terbilang sangat banyak, lebih dari 30 bandara di Indonesia.

Berbeda dengan negara atau kawasan lain di luar negeri yang hanya membuka bandara internasional secara terbatas sehingga untuk melanjutkan penerbangan di kawasan mereka terpaksa harus menggunakan penerbangan domestik.

Pandemi Covid-19 membuat penerbangan internasional anjlok drastis sehingga memberi peluang kepada pemerintah untuk mengurangi jumlah bandara internasional. Pemerintah cukup menyisakan tiga bandara internasional di Indonesia bagian barat, tengah, dan timur. Orang asing yang datang ke Indonesia dan melanjutkan perjalanan ke daerah lain harus menggunakan maskapai domestik.

Data kepariwisataan nasional sebelum pandemi menyebutkan wisatawan domestik mendominasi hingga 78 persen dari total turis yang ada. Kegiatan ekonomi dari turis domestik itu menciptakan omset Rp1.400 triliun. Sementara turis asing hanya sebesar 22 persen dengan nilai transaksi Rp300 triliun.

Keunikan Indonesia sebagai negara kepulauan membuat akses ke daerah-daerah lebih efektif dicapai melalui perjalanan udara dengan pesawat terbang. Berbeda dengan negara lain seperti Singapura, Uni Emirat Arab dan Qatar yang bukan kepulauan, sulit mendorong penerbangan domestik.

Jadikan pandemi Covid-19 sebagai momentum untuk menyehatkan Garuda secara menyeluruh. Kelak kita akan melihat Garuda kembali mengepakkan sayapnya memenuhi angkasa, membentuk formasi, memperindah horizon Nusantara.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF