Segregasi, Disintegrasi dan Distorsi Agama
Al-Zastrouw
Dosen Pasca Sarjana Unusia, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
berita
Berpikir Merdeka
15 November 2018 10:00
Perkembangan teknologi informasi yang mampu menembus sekat geografis ternyata tidak membuat masyarakat menjadi terbuka. Keterbukaan informasi justru menimbulkan anomali dalam bentuk segregasi sosial. Ada gejala menguatmya "tembok" agama dan etnis yang menjadi benteng pemisah antar kelompok.

Fenomena ini terlihat dalam beberapa hasil penelitian dan hasil pilkada. Survei LIPI  menunjukkan 13 persen responden menyatakan sangat setuju memilih presiden seagama dan 44,9 persen setuju memilih presiden seagama. Ini artinya  57.9 persen responden menggunkan preferensi agama dalam menentukan pilihan presiden.

Data LIPI ini memperkuat hasil penelitian Wahid Foundation dan LSI yang menunjukkan 59.9 responden menyatakan membenci kelompok lain berdasar agama, etnis dan ideologi yaitu non muslim, Tiong Hoa dan Komunis. 92.2 persen dari kelompok pembenci ini tidak mau menerima pemimpin dari kelompok yang dibenci. 82.4 persen tak mau bertetangga dengan mereka. 

Hasil pemilu Sumut juga mengkonfirmasi terjadinya segregasi sosial ini. Data ISERS menununjukkan etnis Batak-Kristen cenderung memilih Djarot-Sihar sedangkan etnis Melayu-Islam.cenderung memilih Edy-Musa.

Munculnya fenomena segregasi berdasar etnis dan agama ini perlu mendapat perhatian serius, karena akan berdampak buruk dalam kehidupan berbangsa dan benegara. Keberagaman yang menjadi realitas dan karakter bangsa ini akan teramcan dan bisa menjadi pemincu kehancuran bangunan bangsa dan negara. Di sisi lain hal ini juga bisa menghambat terciptanya sistem politik yang sehat dan demokratis

Segregasi sosial berbasis agama mencerminkan adanya pendangkalan dan penyempitan pemahaman keagamaan. Di sini agama lebih dipahami sebagai simbol dan identitas politik  dari pada nilai-nilai dan spirit religiusitas. Akibatnya agama hanya menjadi sekat yang memisahkan dengan kompok lain yang berbeda. Selain itu agama juga menjadi alat untuk menyingkirkan kelompok lain yang berbeda.

Sikap keagamaan yang seperti ini tidak akan bisa menciptakan kemaslahatan, apapun sistem politik yang diterapkan. Ini terjadi karena  preferensi agama hanya akan melahirkan politisi busuk bertopeng agama. Mereka tidak perlu kerja keras membangun prestasi baik, karena semua itu tidak ada gunanya, sebab tidak akan dilihat dan diperhitungkan. Para politisi cukup mengekploitasi simbol agama dengan berbagai pencitraan, karena itulah cara paling mudah untuk memperoleh dukungan massa.  

Apa yang terjadi mununjukkan bahwa simbolisme dan formalisme agama tidak telah membuat manusia kehilangan akal sehat. Sebaik apapun prestasi seseorang tidak pernah dilihat dan diperhatikan jika dianggap tidak seiman. Sebaliknya sejahat dan sebejad apapun pemimpin asal seagama akan tetap dibela dan dipertahankan. Bahkan mereka tidak segan-segan menutup kejahatan sang pemimpin yang seiman.

Sikap seperti ini sebenarnya merupakan bentuk penistaan dan pendistorsian agama yang nyata. Karena tak ada agama, khususnya Islam, yang mentolelir kejahatan seorang pemimpin. Sikap ini juga bisa merusak profesionalisme. Padahal Islam tak pernah mengingkari profesionalisme atas nama agama. Bahkan Islam memyuruh agar menyerahkan segala urusan pada ahlinya, karena jika tidak akan menunggu saat kehancurannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi : "Idza wusidal amru ila ghairi ahlihi fantadziri saah " (jika suatu urusan diserahkan bukan pada ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya; HR. Bukhari)

Jelas di sini terlihat, segregasi sosial berdasar agama tidak hanya mengancam integritas bangsa, tapi juga eksistensi agama. Karena agama bisa mudah diselewengkan oleh para pemimpin bejat dan politisi busuk, jika hanya dipahami secara simbolik dengan ritual kosong.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang