Sains Apokaliptik: Antara Fakta dan Fiksi
Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com) 29 December 2021 11:10
(Catatan akhir tahun untuk “Apokalipse” Goenawan Mohamad)

Watyutink.com - Ada dua pengertian apokalipse, yaitu sebagai kiamat atau sebagai rahmat. Pertama, apokalipse-kiamat: berakhirnya atau hancurnya segala sesuatu. Eksistensi semesta dan manusia terhapus pupus. Apokalipse sebagai bencana maha dahsyat, armageddon, sebagai manifestasi murka Sang Mahakuasa, seperti dikisahkan dalam mitologi agama Abrahamik.

Kedua, apokalipse-rahmat: terungkap, terjawab, atau tersibaknya tirai misteri yang selama ini menutupi eksistensi. Ketika kebenaran akhirnya terungkap sebagai pengetahuan. Apokalipse berakhirnya ketidaktahuan (ignorance) manusia. Kerinduan untuk mendapat jawaban atas pertanyaan perenial: dari mana asal dan  kemana tujuan kehidupan. Apokalipse sebagai pengungkapan (revelation), adalah puncak akumulasi  pengetahuan manusia.

Dalam perspektif harfiah keyakinan agama Abrahamik, momen apokaliptik menyatukan armageddon dan revelation. Momen kehancuran diikuti pengungkapan kebenaran yang menyatukan manusia kembali di sisi Sang Pencipta. Berada di surga, hidup bahagia dalam keabadian dan kesempurnaan (meskipun, perlu dicatat, klausul ini tidak berlaku bagi manusia yang masuk neraka, karena hidup abadi dalam siksaan dan penderitaan).

Dalam perspektif sains, apokalipse pertama (kiamat) dan kedua (rahmat) tidak bisa disatukan, saling menegasi. Kiamat membatalkan rahmat. Jika kiamat terjadi sebelum manusia mencapai puncak pengetahuannya, maka rahmat tidak hadir. Sebaliknya, rahmat bisa didapatkan jika kiamat tidak terjadi atau bisa dihindari. Itu sebabnya sains berupaya mengatasi atau melawan kiamat, agar mendapat rahmat.

Dengan asumsi “kiamat” bisa menimpa bumi, maka manusia harus bersiap meresponsnya. Termasuk, jika perlu, pindah dari bumi agar bisa melanjutkan eksistensinya. Misalnya, sejumlah saintis dan pemikir menyusun skenario tentang  “Global Catastrophic Risks” (Nick Bostrom, 2011). Buku tulisan 25 pemikir kontemporer ini mengupas sejumlah ancaman “kiamat” yang dihadapi manusia di abad 21. Ancaman kiamat (existential risk) akibat semburan sinar-gamma, perang nuklir, perubahan iklim, senjata biologis, nano-technology, artificial-Intelligence, hingga runtuhnya tata masyarakat (social and economy collapse).

Kiamat di bumi, dalam perspektif sains, jelas bakal terjadi. Kalaupun manusia bisa selamat dari segala bencana yang diakibatkan gejolak alam atau kebodohan manusia. Sekitar lima miliar tahun lagi bumi tetap akan hancur ditelan matahari yang menggelembung menjadi sangat besar. Lima miliar tahun lagi, manusia harus meninggalkan planet bumi, berpindah ke tata surya lain, atau ke galaksi lain, jika ingin menghindari kiamat dan melanjutkan eksistensinya.

Sains Apokaliptik

Skenario bakal terjadinya kiamat, dalam perspektif saintifik-apokaliptik, tidak perlu dipikirkan, karena spekulatif. Goenawan Mohamad (GM) menulis artikel “Apokalipse” mengulas nubuat kiamat dalam perspektif karya fiksi Margaret Atwood. Novelis yang, menurut GM, banyak menulis fiksi tentang masa depan yang menakutkan, mengancam, dan pembawa malapetaka. “Kau akan remuk seperti Tuhan. Kau akan jadi batu,” kalimat Atwood yang dikutip GM, entah apa itu maksudnya.

Sebagai tulisan refleksi menjelang tutup tahun “Apokalipse” cukup menarik. Kecuali di beberapa paragraf GM merasa perlu menjejalkan pesan tentang “ancaman dan bahaya sains”. Tema yang sepertinya telah menjadi “syiar” tulisan-tulisannya, satu setengah tahun terakhir. GM tak lupa menorehkan frasa  menggelitik, seperti “penggembira sains” atau “fanatik sains”, untuk mengulik perhatian para antusias sains.

Menyinggung sains dalam tulisan bertema kiamat tentu tidak soal, termasuk jika dimaksudkan untuk bersikap “kritis”, ingin mengabarkan ancaman dan bahayanya. Namun, karena terinspirasi karya fiksi (novel Atwood) tulisan hanya menjadi semacam apresiasi sastra, tidak cukup bertenaga untuk menyoal fakta soal bahaya ancaman sains. Artikel GM akan lebih koheren dan kredibel jika, setidaknya, bisa memilah antara fakta dan fiksi.

Di kalangan penyedih-sains atau agnostik-sains, seperti GM, sains sering dipahami sebagai pemicu bencana.  Tipikal cara berpikir kaum kolot agama atau filsafat yang melihat sains ancaman bagi keadiluhungan dan spiritualitas manusia.  Artikel “Apokalipse” GM kembali mengulang tema tulisan lamanya, “Sebuah Tempat yang Bersih, dan Lampunya Terang untuk Sains“ (STBLTS - Juni 2020). Tulisan ini menjadi salah dari sejumlah artikel GM dalam “polemik sains”, yang telah saya tanggapi dalam “Sains, Filsafat, dan Storytelling”

Seperti artikel STBLTS, dalam “Apokalipse” GM lagi-lagi mempersoalkan sains dengan meminjam narasi novel sebagai ilustrasi atau inspirasi. GM mengekstrapolasi konsepsi kiamat berbasis agama dengan sains. Juga mencampuradukkan sains sebagai fakta dan fiksi, sehingga kurang koheren apa  yang mau ia persoalkan. Apa sebenarnya yang ia anggap sebagai ancaman sains, secara spesifik. GM kembali memakai bom atom sebagai contoh bahaya dan ancaman sains, sebagaimana tulisan sebelumnya. 

GM perlu bisa memilah kapan menulis kritik sains berbasis fakta; mengapresiasi karya sastra berbasis novel sains-fiksi; atau menulis fantasi berbasis spekulasi. Pemilahan ini perlu ditekankan agar wacana tidak salah sasaran, atau bahkan salah pikiran. Agar GM terbangun dari mimpi buruknya pada sains, mari kita urai bom atom sebagai fakta sains.

Fakta Sains

Bom atom dibuat untuk maksud politik, bukan untuk tujuan saintifik. Ini harus digarisbawahi. Bom atom dibuat untuk menghentikan Perang Dunia Kedua (PD II), untuk menghentikan tragedi kemanusiaan, kebrutalan Nazi-Hittler serta fasisme Jepang.  PD II menewaskan sekitar 80 juta orang, bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki masing-masing menewaskan 66.000 dan 39.000 orang. 

Satu kematian akibat perang tidak bisa dibenarkan, namun manusia sepertinya tidak tahu bagaimana cara menghentikan perang. Perang, konflik, agresi, kekerasan masih menempel pada sifat manusia. Saintis jelas tidak memerlukan bom atom untuk membantu riset saintifiknya  mengungkap cara kerja alam semesta. Bom atom dibuat karena politik masih menjadi panglima. Bagi saintis membuat bom atom adalah keterpaksaan, sebuah panggilan zaman untuk mengakhiri maha perang (the war to end all war).

Pembuatan bom atom berbasis persamaan fisika Einstein paling terkenal E = mc2. Persamaan yang mengungkap misteri energi dan materi. Sejumput atom uranium atau plutonium bisa menghasilkan tenaga ledakan yang dahsyat. Penemuan energi nuklir, juga menginisiasi sains baru, mekanika quantum, membuka berbagai penemuan dan teori sains, dari Teori Big Bang, terbentuknya galaksi, matahari, planet, hingga teknologi digital. 

Richard Rhodes dalam “The Making of The Atomic Bomb” (1987) mengurai dengan terinci sains dibalik bom atom. Buku ini ditulis dengan gaya narasi novel, namun berisi fakta tentang sains nuklir, perseteruan politik, dan psikologi manusia. Para fisikawan yang terlibat dalam proses pembuatannya, tergabung dalam The Manhattan Project, terinspirasi dari teori Max Planck, Einstein  dan para saintis fisi termonuklir seperti Niels Bohr hingga Enrico Fermi.

Ucapan Oppenheimer, sebagai koordinator pembuat bom atom: “Kini akulah Maut. Penghancur dunia” (Now I am become Death, the destroyer of worlds) adalah fakta, manifestasi ambiguitas atau penyesalannya. Ia mengutip Khrisna, dalam kisah Bharatayudha, setelah menyaksikan kengerian daya destruktif bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada Juli 1945. 

Oppenheimer, seperti Khrisna, tidak bisa mengelak untuk menjalankan tugas sejarahnya. Sebagai saintis ia pasti tidak tertarik membuat bom atom. Kalau saja PD II bisa dihentikan dengan baca doa bersama, baca puisi, atau melafalkan filsafat; bom atom jelas tidak diperlukan. Tapi jalan sejarah memang berbeda.

Kengerian bom atom sebagai senjata pemusnah massal, seperti dialami Hiroshima dan Nagasaki, semoga terus menjadi mimpi buruk bagi elite politik dan militer. Agar mereka tidak bermain api berani memakai senjata nuklir. Khususnya, saat ini, ketika setidaknya 9 negara memiliki senjata nuklir, total sebanyak 13.080 senjata. Selain itu, kini kekuatan bom atom berlipat ganda, “Tsar Bomba” yang dimiliki Rusia berkekuatan 50 megaton. 3.500 kali lebih dahsyat dari “Little Boy” yang dijatuhkan di Hiroshima yang cuma berkekuatan 15 kiloton.

Sejauh ini terbukti, bom atom mencegah munculnya PD III — lebih dati 76 tahun setelah diledakkan di Hiroshima. Ini mungkin paradoks dan ironi terbesar “wisdom” manusia, untuk menghentikan kekejaman perang perlu senjata pemusnah masal yang lebih kejam. Manusia yang gemar berperang perlu dipaksa menghentikan hobinya dan menyadari kesia-siaan perang. Bom atom menjadi solusi pencegah (deterrent) manusia untuk selalu berperang. 

GM menulis satu kalimat lucu, “ada yang para saintis tak tahu: bagaimana  memutuskan pada detik  mana secara moral senjata itu pantas dipergunakan.” Oppenheimer dan para fisikawan bukanlah yang mengambil keputusan untuk menjatuhkan bom, mereka hanya membantu. Politikus dan militerlah yang memutuskan kapan dan di mana bom dijatuhkan.

Kalimat GM lainnya: ilmu dan teknologi mengagumkan, tapi bukannya tanpa ambiguitas. “Sejak akhir Perang Dunia II para filosof menyadari itu—satu hal yang dilupakan atau dicemooh para fanatisi sains,” tulisnya. Lagi-lagi ini kalimat lucu. Bagi GM, cuma filosof atau penyair yang mampu menyadari ambiguitas, saintis tidak mampu berambigu. Cara stereotip-karikatural memahami karakter saintis  berbasis komik. Saintis digambarkan sebagai “manusia cerdas linglung” yang mengalami defisiensi ambiguitas.

Fiksi Sains

GM kembali mempersoalkan sains dengan menyinggung dua karya fiksi-sains distopian, karya Aldous Huxley, “Brave New World” (1932) dan George Orwell, “Nineteen Eighty-Four” (1949). Novel yang menggambarkan kesuraman dunia masa depan. Jika kita cermat membaca dan membandingkan dua novel ini, segera bisa menangkap kontradiksi naratif dua novelis itu dalam membayangkan masa depan.

Pesan dua novel itu sama: perlu mewaspadai konsekuensi sains dan teknologi di masa depan. Namun tafsir Huxley dan Orwell berbeda secara diametral. Bagi Huxley masa depan kemanusiaan penuh dengan ilusi kenikmatan dan kesenangan yang memabukkan. Berbagai kemudahan dan beragam pilihan untuk menikmati kesenangan (dari obat-obatan hingga hiburan). Sains dan teknologi menjadi distraksi kehidupan, sarana “hedonism par-excellence”. Surga yang melenakan, kebebasan yang membelenggu.

Situasi yang berbeda bagi Orwell. Manusia masa depan menghadapi cengkeraman  totalitarianisme  yang mengontrol semua aspek kehidupan, termasuk pikiran. Kondisi masa depan manusia (tahun 1984, yang bagi kita kini sudah menjadi masa lalu) tidak beda dengan Uni Sovyet dekade 1940-1950 di bawah rezim brutal Stalinisme. Dengan sedikit fitur teknologi modern ala cyber-punk dan kontrol Big Brother yang maha-melihat, mirip CCTV dengan teknologi Google-map yang bisa tahu di mana pun posisi kita.

Naratif tentang masa depan, dalam novel Huxley dan Orwell, bersinggungan secara kontradiktif. Menghadirkan gambaran masa depan dalam perspektif teknologi saat novel ditulis, dengan hiperbolisme kemajuan masa depan. “Teknologi masa depan” yang dibayangkan kedua novel adalah versi kartun dari teknologi yang sudah ada saat itu.

Masa depan yang dibayangkan Orwell Nineteen Eighty-Four dan Huxley Brave New World ibarat kehidupan di dua planet yang berbeda. Orwell takut masa depan yang penuh sensorsip, pelarangan buku, pengawasan segala aktivitas. Huxley justru takut pada tiadanya minat baca buku, permisivitas, apapun serba-boleh, liberal tanpa batas. Orwell takut informasi dibatasi dan dikontrol ketat; Huxley takut banjir informasi menggelegap. Orwell takut kebenaran disembunyikan; Huxley takut kebenaran hilang dalam lautan irelevan.

Dalam Nineteen Eght-Four, publik dikontrol melalui kekerasan dan persekusi (inflicting pain) —penderitaan akan menghancurkan kemanusiaan. Dalam Brave New World, publik dikontrol melalui hiburan dan ekstasi (inflicting pleasure) — kesenangan akan menghancurkan kemanusiaan. Jadi, siapa yang lebih akurat meramal masa depan, Orwell atau Huxley? Kini kita sudah hidup di masa depan, sebagaimana digambarkan novel Orwell dan Huxley. Perspektif siapa yang cocok dengan cara berpikir GM? (Dugaan saya Orwell; meskipun faktanya dunia kini kebih mirip yang dikhawatirkan Huxley).

Distopia novel Huxley, yang ditulis pada 1932, (jauh sebelum Nineteen Eighty-Four) agak lebih baik dalam memprediksi masa depan dunia. Mengapa? Karena Huxley membayangkan masa depan “dekadensi” dunia selebritis Amerika saat itu. Sementara distopia Orwell, ditulis pada 1949, membayangkan situasi Eropa yang sedang berada dalam cengekeraman totalitarianisme Nazi-Jerman dan Komunisme-Uni Sovyet.

Huxley and Orwell menulis novel futuristik mereka untuk peringatan, agar dunia distopia tidak terwujud. Agar manusia tidak melanjutkan gaya apokaliptik dalam menjalani hidup, sebagai “early warning”.  Namun, penting untuk tidak mengalami disilusi, tetap bisa membedakan fiksi dengan fakta, narasi dengan prediksi, hiburan dengan kenyataan. 

Karya fiksi memikat pembaca dengan menjual tragedi, ancaman, dan kengerian. Karena cerita kebahagiaan, kedamaian, atau harmoni tidak menarik sebagai bacaan atau tontonan. Ini menjelaskan mengapa novel atau film fiksi-sains selalu mengisahkan situasi distopian. Saya perlu kutip tulisan saya (“Sains, Filsafat, dan Storytelling”):

“Karl Schroeder, novelis dan futurist, mengatakan, tugas penulis fiksi-sains bukanlah membayangkan canggihnya mobil masa depan, melainkan memaparkan potensi “kemacetan”. Karya yang mengisahkan secara realistik skenario buruk akibat sains dan teknologi di masa depan pasti menarik. …. Filsuf estetika Perancis pengamat teknologi, Paul Virilio, menyebut ‘penemuan kapal juga artinya penemuan kapal-karam’ (the invention of the ship was also the invention of the shipwreck). Setiap inovasi teknologi selalu diiringi potensi ancaman.”

Tidak perlu terhanyut  dalam pemikiran apokaliptik-destruktif bahwa malapetaka kiamat akan terjadi. Fokus pada pemikiran apokaliptik-konstruktif, bahwa ingenuitas dan kreativitas manusia akan mampu berinovasi untuk mendapat solusi atas masalah. Manusia terbukti, setelah 76 tahun, mampu menahan diri tidak memakai bom atom, menolak untuk menggelar kiamat di bumi.

Spekulasi Sains Apokaliptik

Selain  fakta dan fiksi, ada satu kategori pemikiran saintifik, yaitu spekulasi-sains. Bagi kalangan  “penggembira sains” (yang disebut GM, dengan sedih), spekulasi tentang dunia masa depan tanpa kiamat sangat memikat. Sains yang terus melaju akan membawa kita pada apokalipse-rahmat. Terjawabnya misteri semesta dan kehidupan.

Kita beruntung hidup di era ketika sains dan teknologi membawa hal-hal baru yang tidak pernah dibayangkan manusia 100 tahun lalu. Dunia digital, drone, artificial intellijen (AI), realitas virtual, menyatunya info-bio-technology, yang terus berkembang pesat 25 tahun terakhir, telah membuka kemungkinan dunia tanpa batas. Pengetahuan manusia akan semakin terakselerasi dengan adanya teknologi AI dan quantum computing.

Komputer kuantum sedang terus direalisasi, dan teknologi AI baru dimulai.  Kita baru menapaki era awal Artificial Narrow Intellijen (ANI) dengan smartphone, smart-TV dan berbagai smart-gadget lainnya. Dalam beberapa tahun ke depan kita akan memasuki era Artificial General Intellijen (AGI) ketika teknologi semua smart-gadget dengan algoritmanya terimplant, menyatu, dalam tubuh manusia. Dan puncaknya adalah era Artificial Super Intelligence (ASI), ketika manusia menjelma menjadi apa yang pernah dibayangkan, ribuan tahun lalu di era mitologis, sebagai homo deus.

Astrofiskikawan Russia, Nikolai Kardashev, pada 1964 pernah mengajukan spekulasi menarik tentang arah peradaban masa depan manusia. Ia mengajukan metode untuk mengukur level kemajuan teknologi peradaban, berbasis pada kemampuan mendayagunakan energi. Ia membagi tipe peradaban dalam tiga kategori: 

Tipe pertama (peradaban planet): mampu mengolah dan menyimpan energi yang tersedia di satu planet. Tipe kedua (peradaban tata surya): mampu mengolah dan mendayagunakan energi yang tersedia di seluruh tata surya —matahari, planet, asteroid, dll. Tipe ketiga (peradaban galaktik): mampu mengontrol dan memakai energi yang tersedia di satu galaksi.

Berdasarkan kategori Kardashev, peradaban teknologi manusia saat ini belum mencapai tipe pertama (baru sekitar 60%). Kita sudah menguasai teknologi energi fosil, listrik, angin, air dan nuklir, termasuk memanfaatkan energi gelombang laut dan matahari, namun belum mendayagunakan secara penuh. Untuk mencapai peradaban tipe kedua, manusia harus mampu membangun “Dyson Sphere”, satu struktur bangunan raksasa melingkari matahari untuk menambang energinya. Ide spekulatif ini dikemukakan oleh Freeman Dyson, astrofisikawan Inggris.

Apakah manusia akan mampu mencapai Tipe ketiga, peradaban galaktik? Ini akan tercapai jika manusia telah memiliki teknologi Artificial Super Intelligence (AS). Dan jika itu tercapai, manusia bukan lagi sebagai manusia, melainkan bertransformasi menjadi homo deus, manusia dewa. Atau dalam istilah Ray Kurzweil sebagai era “singularitas teknologi”. Era ketika manusia telah merambah peradaban angkasa luar.

Mungkinkah ini akan tercapai di masa depan? Ataukah sekedar spekulasi ugal-ugalan liar? Sebagai perbandingan, manusia tahun 2021, dengan segala teknologi smart-gadgetnya, akan dianggap sebagai “dewa”, bagi manusia era berburu dan meramu 8000 tahun lalu. Kita tidak tahu persis, teknologi seperti apa yang kita punyai 50 tahun lagi, jika cuma berspekulasi. Namun spekulasi  saintifik yang diajukan saintis serius, berbasis pada trend kemajuan teknologi, bukan cuma khayalan kosong.

GM tidak perlu cemas pada spekulasi-sains, termasuk pada fiksi-sains (karya Margaret Atwood, Aldous Huxley, maupun George Orwell). Fiksi dan spekulasi sekadar hiburan untuk memperluas imajinasi. Tentang ambiguitas, bukan cuma GM atau filosof yang memahami. Stephen Hawking, Elon Musk, Bill Gates, dan sejumlah pemikir pernah menulis surat terbuka memperingatkan ancaman artificial intellijen.

Dalam dunia riset sains dan teknologi, sikap kritis dan waspada bukan cuma sebagai asesori berpikir (renungan filosofis), melainkan sebagai metode yang disepakati. Kekhawatiran terhadap perkembangan AI dijawab oleh kesepakatan ratusan saintis dan AI engineer dalam forum “The Future of Life Institute” (FLI). Forum ini merumuskan “The Asilomar AI Principles”, poin-poin prinsip etika dan nilai-nilai yang disepakati dalam riset pengembangan AI. Forum yang bermotto: “to shift the AI-safety conversation from worrying to working”.

Jadi, untuk GM, mari berhenti cemas membayangkan apokalipse-kiamat. Satu keyakinan mitologis tentang amarah Sang Pencipta untuk menghancurkan manusia dan semesta yang ia ciptakan. Tuhan tidak perlu menunggu terlalu lama jika itu memang yang Ia inginkan. Mari kita rayakan apokalipse-rahmat, keberhasilan sains untuk terus mengungkap misteri semesta, menjawab asal dan tujuan manusia. Termasuk menelisik imajinasi agama tentang adanya keabadian, indahnya surga dan semacamnya. Dengan tetap menyadari, spekulasi atau fiksi sains, tak perlu diseriusi apalagi dicemaskan.

Selaku  penyedih sains, GM menulis: “saya tak yakin para penggembira sains — lazimnya  memperlakukan sains mirip agama mereka yang menjanjikan firdaus duniawi — akan menyukai “pesimisme” Atwood. Well, penggembira sains mudah menikmati pesimisme Atwood, Huxley, atau Orwell, dan membacanya dengan riang gembira. Karena paham, tak perlu larut dan terhanyut dalam pesimisme narasi karya fiksi. 

GM perlu melawan rasa sedih dan sikap pedihnya pada sains—yang setelah dua tahun berpolemik tak kunjung reda menghantuinya. Jika ingin terus menyedihi sains, renungkan ucapan bijak Isaac Asimov, pujangga besar fiksi-sains:  “The saddest aspect of life right now is that science gathers knowledge faster than society gathers wisdom.” 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF