Revolusi Akhlak Kiai Juned
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 25 November 2020 10:35
Watyutink.com - Sekumpulan orang datang menghadap Kiai Juned dengan wajah garang dan tatapan mata penuh emosi. Orang-orang ini marah karena Kiai Juned, junjungan dan panutan mereka, dihina dan dilecehkan oleh seorang perempuan ledhek tayub di desa kami. Di mata masyarakat desa kami, ledhek tayub adalah profesi hina karena dianggap sebagai pengundang maksiat. Mereka benar-benar geram, karena perempuan ledhek tayub yang hina itu telah berani menista Kiai Juned dengan kata-kata nyinyir. Menurut para loyalis Kiai Juned, perempuan tersebut layak dipersekusi dan dijebloskan dalam penjara karena telah menghina ulama dan melecehkan Islam. Mereka datang menghadap Kiai untuk mendengar fatwa dan arahan Kiai Juned atas rencana mereka menggerudug runah sang ledhek tayub.

Makin lama gelombang massa yang datang semakin banyak. Gang menuju rumah Kian Juned yang tidak begitu lebar semakin terasa sempit oleh jumlah orang yang terus mengalir. Rumah Kiai Juned juga semakin pemuh dijejali manusia. Beruntung aku berhasil menerobos kerumunan massa dan masuk dalam rumah Kiai Juned. Aku duduk di antara meja dan dinding yang berada persis di samping Kiai Juned sehingga bisa menyaksikan wajah Kiai Juned dan pimpinan massa secara jelas.

“Perempuan hina dina itu harus dilibas dan diberi pelajaran biar tidak sembarang nyocot menghina ulama, kalau perlu kita kepung rumahnya,” kata Sony Sontoloyo provokatif.  

Ledhek tayub yang tak tahu diri itu harus dihabisi, biar jadi pelajaran bagi orang-orang liberal yang suka melecehkan Islam,” sergah si Padeli tak kalah provokatif

Melihat para pendukungnya yang kian garang dan penuh emosi, Kiai Juned tersenyum lembut. Wajahnya yang teduh menatap satu persatu dengan tatapan teduh dan penuh kasih. Sedikit pun tak terlihat wajah marah, apalagi dendam. Kiai Juned sama sekali tidak terpengaruh oleh perkataan kasar ledhek tayub yang dianggap sudah menghinanya dan memancing kemarahan para murid dan jamaahnya.

“Bagaimana kyai kita langsung serbu saja rumah perempuan hina itu,” kata Dul Hazah tidak sabar.

Astgahfirullah.....,” jawab Kiai Juned dengan suara lebut. “Jangan gegabah, sabar dulu jangan emosi,” lanjutnya.

“Dia telah menghina ulama, melecehkan Islam, Kiai,” sahut Mamat dengan suara tinggi.

“Tidak,” jawab Kiai Juned dengan suara dingin. “Dia tidak menghina ulama apalagi melecehkan Islam. Dia hanya berkata kasar tentang aku dan kepadaku. Mungkin di mata dia aku bukan ulama, atau dia menganggap aku adalah ulama yang tidak baik. Apa yang diucapkan itu adalah persepsi perempuan itu terhadap diriku bukan terhadap ulama secara keseluruhan.”

“Tapi kan Kiai junjungan kami, panutan kami, guru kami, kami tidak terima kalau ada orang yang melecehkan Kiai dengan kata-kata kasar dan kotor seperti yang diucapkan perempuan hina itu, karena itu berarti melecehkan kami juga, bahaya untuk Islam”

“Aku bisa memahami perasaan kalian, tapi aku tidak ridho jika kalian terbawa arus emosi hingga melakukan hal-hal nista sebagaiamana yang dilakukan perempuan yang kalian anggap nista itu. Kalian merasa dilecehkan oleh perkataan kasar perempuan itu, tapi kalian membalas dengan perkataan yang kotor, bahkan lebih kotor dari perkataan perempuan itu terhadapku, lalu apa bedanya kalian dengan dia..?”

Suasana hening, semua orang terdiam mendengar ucapan Kiai Juned. Emosi massa yang hampir meledak itu tiba-tiba turun seperti tersiram air. Mereka sama sekali tidak menduga Kiai Juned yang terkenal tegas dengan gaya pidato berapi-api itu akan bersikap demikian. Padahal sebelumnya mereka berharap Kiai Juned akan mendukung sikap mereka mempermalukan dan mempersekusi perempuan ledhek tayub yang tidak tahu diri itu. Mereka berpikir inilah saatnya menjadi pahlawan membela Islam dan para ulama yang menjadi junjungan mereka.

“Sekarang kalian pulang, biar masalah ini saya selesaikan sendiri,” perintah Kiai Juned pada orang-orang yang datang menghadapnya.

“Tidak bisa Kiai, ini masalah akhlak. Kita tidak bisa membiarkan perempuan sudal itu meracuni anak-anak kita dengan akhlaknya yang brengsek itu. Bukankah Kiai telah memploklamirkan diri akan memimpin revolusi akhlak, masak membiarkan akhlak bejat perempuan hina itu  terhadap Kiai? Demi revolusi akhlak, kita harus meneruskan rencana mengepung dan menyeret perempuan laknat itu,” kata seseorang dengan suara lantang dan kasar.  

Seseorang itu adalah Pardiman Hutagaung, lelaki yang selama ini terkenal sebagai tukang maaksiat dan suka main perempuan, namun bersikap paling garang dan bersuara paling lantang dalam gerakan membela Kiai Juned. Dia ingin menggunakan gerakan bela ulama dan bela Islam ini sebagai sarana melampiaskan dendamnya pada ledhek tayup yang pernah  menolak cintanya. Dia ingin menyeret dan mempermalukan perempuan yang telah membuatnya kecewa atas nama bela ulama dan bela Islam.

“Jika kalian masih menganggap saya sebagai guru dan panutan, maka saya perintahkan kalian pulang,” demikian perintah Kiai Juned dengan suara yang lembut namun tegas.

Berangsur-angsur massa mulai meninggalkan kediaman Kiai Juned. Banyak yang kagum atas kesabaran Kiai Juned menerima hinaan dari perempuan ledhek tayub di desa itu. Namun banyak juga yang kecewa karena tidak bisa melampiaskan emosi yang sudah membuncah. Pardiman pulang dengan wajah dongkol karena gagal menunggangi massa bela ulama untuk melampiaskan dendamnya.

Setelah suasana sepi, saya berusaha mendekat Kiai Juned dan memberanikan diri untuk bertanya: “mengapa Kiai menyuruh mereka pulang? Bukannya kharisma Kiai akan semakin naik jika mengizinkan mereka mengepung rumah sang ledhek tayub yang sudah berkata kasar pada Kiai? Bukannya ini akan menjadi momentum yang tepat untuk menggalang kekuatan massa melawan rezim yang Kiai anggap zalim?”

Kiai Juned menatapku tajam. Dia tersenyum kemudian berkata lirih: “mereka itu orang-orang yang tulus, mereka sangat mencintai saya, mereka bersedia melakukan apa saja demi saya, maka saya tidak sampai hati mengorbankan mereka.”

“Aku memang benci pada kezaliman, dan aku berjuang untuk melawan semua itu. Tapi aku sadar, terlalu banyak orang yang punya kepentingan yang akan memanfaatkan perjuangan saya untuk kepentingan mereka, yang belum tentu sejalan dengan perjuangan saya.”

Aku tertegun mendengar jawaban Kiai Juned. Saya tidak menduga sama sekali jawaban itu akan keluar dari sosok yang sering bicara garang melakukan kritik terhadap kenyataan yang dianggapnya tidak benar. “Maksudnya bagaimana, Kiai?” tanyaku menyelidik.

“Sampean bayangkan saja, kalau saya membiarkan mereka melakukan tindakan main hakim sendiri terhadap perempuan yang mereka anggap telah melecehkan saya, kemudian mereka berhadapan dengan aparat keamanan sehingga timbul kerusuhan, maka akan menjadi pintu masuk para petualang politik untuk bermain dan memanfaatkan suasana demi kepentingan mereka. Jika sudah demikian, siapa yang diuntungkan dan siapa yang jadi korban?”

Mendengar penjelasan Kiai Juned Aku jadi teringat pernyataan Gus Dur, bahwa tidak ada jabatan di dunia yang perlu dipertahankan mati-matian, apalagi sampai menimbulkan pertumpahan darah. Pernyataan Gus Dur ini juga bisa dipahami tak ada harga diri, nama baik yang perlu dipertahankan mati-matian apalagi sampai ada pertumpahan darah dengan mempertaruhkan keutuhan bangsa dan negara.

Diam-diam aku mulai mengagumi sikap Kiai Juned. Inilah sikap ulama yang sebenarnya, yang berani menolak kemauan dan melawan kehendak umat yang tidak sesuai dengan ajaran dan akhlak Islam. Beliau tidak takut kehilangan massa, ditinggalakan umat sehingga kehilangan popularitas demi menjaga tegaknya akhlak mulia. Ulama sejati tidak mudah hanyut dalam kehendak massa dan sanjungan umat. Ulama sejati tidak pernah melibatkan umat dalam urusan pribadinya, apalagi sampai membenturkan rakyat dengan aparat, sekalipun dia meyakini apa yang diperjuangkan adalah kebenaran. Ulama sejati akan tetap menjaga akhlak dan mendidik umat agar cerdas bukan menggunakan kepolosan umat yang mendukungnya untuk kepentingan pribadi.

Saya membayangkan, jika saja Kiai Juned terpancing oleh  emosi para pendukungnya, kemudian ikut menghujat dan mencaci maki perempuan yang dianggap telah mecehkan dirinya, maka Kiai Juned akan menjadi bahan bakar yang sempurna untuk menyulut emosi massa sehingga bisa memancing kegaduhan dan konflik yang berkepanjangan. Dan jika hal ini terjadi maka orang-orang seperti Pardiman, yang ingin melampiaskan dendam pada ledhek tayub, atau mereka yang terganggu kepentingannya karena kebijakan Pak lurah sehingga ingin berbuat kekacauan di kampung kami, akan turun ke lapangan untuk melampiaskan dendam dan berebut kepentingan masing-masing dengan mengatasnamakan agama dan bela ulama.

Untunglah Kiai Juned memiliki kepekaan dan kearifan yang tinggi sehingga bisa melihat kenyataan secara jernih. Kiai Juned tidak mau perjuangannya dijadikan kuda tunggangan untuk melampiaskan dendam dan berebut kepenetingan politik. Padahal jika saja Kiai Juned mau mengikuti kehendak massa pendukungnya maka dia bisa menjadi tokoh idola yang terus dielu-elukan. Tapi hal itu tidak dia lakukan, karena bagi Kiai Juned semua itu tidak ada gunanya jika harus mengorbankan keutuhan bangsa. Kejernihan hati Kiai Juned telah bisa menjaga revolusi akhlak tetap berada pada tujuan mulia dan jalan yang tepat. Sikap Kiai Juned ini benar-benar bisa menjadi teladan dalam revolusi akhlak yang sebenarnya, karena telah memberikan contoh akhlakul karimah yang nyata dalam menghadapi hinaan dan cacian. Selain itu, Kiai Juned juga memberikan contoh bagaimana bersikap dan berjuang menegakkan keadilan dan melawan kezaliman dengan akhlakul karimah (akhlak mulia), bukan dengan cara yang tak beradab dan provokatif sehingga bisa memancing kerusahan dan konflik

Dari sikap Kiai Juned yang arif dan bijak ini, saya bisa melihat mana revolusi akhlak yang sebenarnya dan mana revolusi akhlak yang hanya menjadi jargon dan topeng politik.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF